
Uang yang mengalir di ekosistem ini memang tidak perlu lagi diragukan. Kesuksesan yang diperlihatkan HoyoVerse, Shift Up, hingga Nexon Games membuktikan bahwa meraih uang puluhan hingga ratusan juta USD per tahun dari game gacha dan live-service adalah sesuatu yang mudah selama komunitas memang sudah kuat. Namun kita seringkali melupakan bahwa ada begitu banyak game gacha dan live-service di luar sana yang berujung gugur muda. Korbannya di pasar Jepang ternyata begitu banyak.
Seberapa banyak? Data tersebutlah yang akhirnya dikumpulkan oleh penulis video game yang berfokus pada konte game-game gacha dan live-service – Ayashii Rinjin dalam kun sosial media pribadinya.
Dalam database yang ia miliki berisikan kurang lebih 2.200 game gacha dan live-service, lebih dari 70% darinya ternyata berujung EOS (End of Service) alias mati sebelum mencapai tahun ketiganya. Dari data tersebut, kebanyakan game mati di tahun kedua mereka.
Dari sekitar 2.200 game tersebut, sekitar 1.541 buah game mati sebelum mencapai akhir tahun ketiganya atau sekitar 70,9%. Lebih parahnya lagi? Dari angka tersebut, ada sekitar 692 buah game yang bahkan sudah mengumumkan EOS di tahun pertama mereka, atau mencapai sekitar 31,9%. Dari total tersebut, hanya sekitar 160 buah game saja yang berhasil menembus usia eksistensi lebih dari 7 tahun lamanya.
ソシャゲが3年で死ぬというソースを調べていてふと自分が集めた現在約2200件あるサービス終了リストの集計を見たら3年目までに終了したゲームが7割ぐらいで、ウ、ウワー!!ってなってる pic.twitter.com/k7N1u3whZy
— 怪しい隣人 (@BlackHandMaiden) November 12, 2025
Sayangnya, data ini sendiri tidak memberikan alasan yang jelas soal alasan di balik mati cepatnya game-game live-service dan gacha ini. Namun dari sekadar observasi, sepertinya aman untuk berasumsi bahwa persaingan ketat di tengah kuantitas yang membludak sepertinya berkontribusi cukup signifikan.
Bagaimana dengan Anda? Apakah ada game gacha yang tengah Anda nikmati berujung EOS?

