
Sebagai otak di balik begitu banyak sosial media raksasa seperti Facebook, Instagram, hingga Whatsapp, Meta memang menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia saat ini. Sejak beberapa tahun yang lalu, mereka juga terlihat serius mengejar ambisi sebuah konsep Metaverse yang kian terlihat seperti sebuah pondasi esensial untuk masyarakat modern apalagi ketika masa pandemi COVID-19 terjadi. Bersama dengan Oculus yang jadi ujung tombak, Meta juga sempat mengakuisisi beberapa developer untuknya. Sayangnya, situasi tersebut sudah berubah.
Bersama dengan rencana untuk memangkas lebih dari 1.000 pekerjaan dari divisi Virtual Reality mereka, baik software ataupun hardware, Meta mengumumkna penutupan tiga studio game yang sempat berdiri di bawah mereka.
Meta resmi menutup Armature Studio – studio yang menangani port VR Resident Evil 4, Sanzaru Games – developer di balik Asgard’s Wrath dan Asgard’s Wrath 2, serta Twisted Pixel yang mengerjakan Marvel’s Deadpool VR.
Dalam pernyataan resminya kepada situs Gematsu, perwakilan Meta menyebut bahwa penutupan tiga studio ini merupakan bagian dari langkah pengarahan ulang investasi dari Metaverse ke produk Wearables yang kini jadi fokus. Seperti yang kita tahu, Meta memang sempat menguji konsep kacamata pintar bertenaga AI.

Laporan terbaru dari Bloomberg menyebut bahwa upaya Meta untuk mendorong Metaverse via Reality Labs memang tidak pernah membawa untung sama sekali. Meta justru disebut-sebut sudah “membakar” uang lebih dari USD 70 miliar sejak tahun 2021 untuk mendorong konsep yang tidak kunjung diadopsi secara mainstream ini.
Dengan penutupan tiga studio ini, sepertinya aman untuk menyimpulkan semakin berkurangnya rasa kepercayaan Meta untuk pasar virtual reality yang saat ini memang harus diakui, kian sepi peminat.
Bagaimana menurut Anda situasi yang satu ini?

