
Hampir sebagian besar gamer yang tengah membaca berita ini memahami betapa berharganya sebuah keping RAM saat ini. Setelah kebutuhan data center AI yang menggila, memory memang jadi komoditi yang paling diincar, yang membuat ketersediaan nya kian mengecil bersama dengan harga yang terus melambung. Di tengah situasi dimana banyak gamer PC masih menahan diri untuk memperkuat rig mereka hingga harga kembali rasional, eksis game asal Korea Selatan – Cinder City yang sepertinya tidak menahan diri.
Sebagian besar dari Anda mungkin melewatkan game action yang satu ini. Diracik oleh studio Big Fire Gamers di bawah bendera NCSoft, Cinder City merupakan game shooter third person open-world dengan setting futuristik dimana Seoul akan jadi “taman bermain” Anda di sini.
Cara paling sederhana untuk mendefinisikangame ini adalah menyamaratakannya dengan game action dari Ubisoft – The Division. Di dunia terbuka yang juga bisa Anda nikmati dalam mode multiplayer kooperatif ini, Anda akan bertarung tidak hanya melawan manusia dan teknologi canggih di era itu saja, tetapi juga para monster yang akan jadi salah satu kunci dari cerita sinematik yang juga hendak ia tawarkan.
Namun bukan kualitas cerita atau gameplay yang membuat Cinder City tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Ia menjadi buah bibir karena satu hal – tuntutan kebutuhan spesifikasi PC yang terlihat tidak rasional.

Tidak main-main, dari infomrasi yang mereka lepas via halaman Steam resminya, Cinder City menuntut jumlah RAM yang benar-benar masif. Untuk spesifikasi palking minimum, dimana ia bisa dijalankan dengan RTX 2060 dan Intel Core i5-10400, ia menuntut RAM di angka 32GB!
Sementara untuk konfigurasi yang direkomendasikan, yang sayangnya tidak memberikan informasi lebih lanjut soal target performa yang bisa dicapai, Cinder City menuntut Intel Core i7-12700 dan GeForce RTX 4060 yang sudah terhitung berat. Namun semuanya kian menggila dengan konfirmasi bahwa konfigurasi in juga menuntut 64 GB RAM!
Beragam trailer gameplay awal yang dilepas Cinder City memang terlihat menawan dari sisi visual dan desain, namun tentu saja tetap menarik untuk melihat apakah tuntutan spesifikasi seperti ini di era ketika harga RAM sangat tinggi adalah sebuah keputuan yang tepat atau tidak.
Bagaimana menurut Anda soal situasi ini? Terlihat seperti game yang menarik di mata Anda?

