KokangGaming: Game of the Year 2025
Page 2

KokangGaming: Game of the Year 2025

Author picture
Author picture

Best Multiplayer: Arc Raiders

Eksistensi Arc Raiders menjadi bukti dua konkrit yang kuat untuk dua argumen. Pertama, bahwa di era modern saat ini, game extraction shooter yang dieksekusi dengan baik ternyata masih relevan dan diminati. Kedua dan yang terpenting? Bahwa tidak sedikit orang yang rela mengeluarkan uang untuk game PvPvE seperti ini jika memang kualitasnya memang pantas untuk dirayakan.

Tidak hanya menawarkan atmosfer yang selalu menegangkan dan seru di setiap pertemuan dengan player lain, apalagi jika Anda bermain solo, Arc Raiders juga berhasil membuat momen “PvE” tidak kalah menyeramkan. Fakta bahwa beragam robot ragam skala ini dengan mudahnya mampu menghabisi Anda menjadi ekstra bumbu untuk menciptakan atmosfer yang mencekam. Cukup untuk membuat keringat dingin Anda langsung mengucur setiap kali suara mereka menggema kencang di dekat Anda.

Worst Game of the Year: MindsEye

mindseye use bot for positive reviews

Pernah bertemu dengan situasi dimana buruknya “kualtas” sebuah video game tidak hanya ditentukan oleh si video game itu sendiri tetapi juga dari respon dari sang developer untuk kritik yang mengemuka? Kasus inilah yang terjadi dengan game racikan Build a Rocket Boy yang melibatkan nama veteran GTA sekelas Leslie Benzies di dalamnya. Dengan promosi intensif yang membangun ekspektasi tersendiri bahwa ia akan jadi game third person shooter sci-fi dengan konsep dunia terbuka yang memesona, ia berujung hadir di bawah standar.

Namun reaksi dari para petinggi developernya lah yang membuat situasi ini kian memburuk dan membuat game ini pantas untuk dinobatkan sebagai produk terburuk di tahun 2025 ini. Seperti halnya pejabat di negara tertentu, para petinggi Build a Rocket Boy langsung menyalahkan sabotase dan tuduhan review negatif bayaran sebagai sumber utama dari kritik pedas terhadap MindsEye. Parahnya lagi, jelas ada indikasi bahwa mereka mengarahkan tuduhan ini kepada Rockstar Games yang seolah-olah dinarasikan hendak memicu dan menikmati kegagalan seorang Leslie Benzies.

Best Graphic Quality: Assassin’s Creed Shadows

Dengan ragam bahasa “Public Relations” yang tersebar di video game sebagai bisnis, kalimat bahwa Ubisoft memang menunggu iterasi Anvil Engine terbaru untuk membangun Shadows atas nama mencapai representasi Jepang kuno yang memanjakan mata memang terdengar seperti omong kosong belaka. Namun ketika game ini dirilis dan kami menjajalnya di Playstation 5 standar (non-Pro), pernyataan tersebut berujung bisa dipercaya.

Terlepas dari ragam kritik yang mengemuka terhadap akurasi sejarah dan cerita yang diusung, sulit rasanya untuk tidak memuji kualitas presentasi visual yang ia hadirkan. Kita tidak hanya bicara soal pencapaian teknis seperti kualitas tata cahaya yang berhasil membuat banyak scene terlihat indah dan dramatis saja, tetapi juga aksi bangun dunia yang menawarkan sedikit intipan pada kehidupan Jepang kuno dari desain landscape hingga arsitektur. Assassin’s Creed Shadows saat ini masih menempatkan diri sebagai seri Assassin’s Creed terindah yang pernah kami nikmati.

Best Story: Silent Hill f

Keputusan cukup radikal bagi Konami untuk “mengeluarkan” Silent Hill dari kota dengan tema Amerika yang kental ke lokasi tuan rumah, yang juga melibatkan salah satu talenta penulis fantastis dari negeri sakura tersebut ternyata melahirkan sebuah seri yang fantastis, baik dari sisi kritik ataupun penjualan. Walaupun konsep actionnya yang kental dengan aksi serangan melee berujung tidak sesuai dengan cukup banyak gamer Silent Hill pada umumnya, namun pujian memang pantas diarahkan pada tema dan cerita yang ia usung.

Kita bicara soal kisah yang sebegitu kompleksnya, atau setidaknya bagi otak kami, hingga ia memiliki begitu banyak alegori dan lapisan yang membicarakan masalah wanita Jepang di era tahun 1960-an. Silent Hill f berbicara soal ekspektasi terhadap wanita dan feminisme di era tersebut, kentalnya konsep pernikahan “paksa” untuk ragam alasan di luar cinta, dan juga hal seperti persahabatan hingga sesuatu yang lebih gelap seperti kekerasan rumah tangga dan pandangan cabul terhadap wanita muda di era tersebut.

Related Topics:
Author picture
Editor in Chief
Pladidus sudah berkecimpung selama 14 tahun di industri media game Indonesia dan selalu bersemangat untuk merekomendasikan Suikoden II kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Previous Post

Next Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Level Up Your Gaming News!

Subscribe for the latest gaming news and updates.

Share this website