Preview Resident Evil Requiem: Kembalinya si Poni Lempar!

Preview Resident Evil Requiem: Kembalinya si Poni Lempar!

Author picture
Author picture

Dengan usia yang sudah mencapai puluhan tahun, Resident Evil adalah franchise survival horror yang jelas punya sejarahnya sendiri. Sebuah sejarah yang terus dieksplorasi oleh Capcom dalam bentuk seri baru dan remake yang sejauh ini cukup efektif untuk membuat laporan finansial Capcom terus terang-benderang dari tahun ke tahun. Namun ada sesuatu yang istimewa dengan apa yang hendak mereka tawarkan di seri utama kesembilan yang resmi menyandang nama Resident Evil Requiem.

Selain cerita yang tampaknya akan kembali membawa kita ke Raccoon City yang menjadi awal dari segalanya, Resident Evil Requiem juga akhirnya mengkonfirmasikan kehadiran karakter legendaris – Leon. Hadir sebagai veteran yang sudah makan asam garam pertempuran melawan monster-monster absurd yang mematikan, Leon hadir sebagai kontras yang berdiri di kubu spektrum yang berbeda dengan sang protagonis baru – Grace yang dicitrakan penuh ketakutan. Akan bermain di satu garis cerita yang sama, kolaborasi antara dua karakter ini tentu berpotensi menawarkan sesuatu yang menarik.

Sembari dihantui rasa penasaran yang baru akan terjawab di akhir bulan Februari 2026 mendatang, kami cukup beruntung untuk diberi kesempatan oleh Capcom Asia untuk menjajal sedikit porsi Requiem lebih awal.

Walaupun tidak ada konfirmasi apakah porsi yang kami jajal ini sepenuhnya akan berada di versi final atau tidak, namun Capcom setidaknya memastikan bahwa yang kami nikmati di event tersebut bukanlah cerita Requiem dari awal. Ini berarti, kami “dilempar” ke dalam porsi cerita yang sudah berjalan walaupun entah seberapa jauh. Dalam event berdurasi sekitar 3 jam tersebut, kami menikmati porsi gameplay yang didominasi 75% oleh Grace dengan Leon sebagai pembuka dan penutup.

Lantas, apa yang ditawarkan oleh 3 jam dari porsi Resident Evil Requiem yang kami jajal ini? Berikut adalah impresi kami:

Zombie Lama Tapi Baru

Bentuk boleh mirip, namun pendekatan Capcom soal konsep zombie di Resident Evil Requiem terasa berbeda.

Dengan kembalinya Raccon City dan kemungkinan besar Umbrella sebagai fokus, tentu menjadi pilihan yang sangat rasional untuk menjadikan zombie yang kita kenal dari seri Resident Evil lawas sebagai musuh di sini. Bahwa mayat hidup yang bergerak lambat dengan sesekali berlari cepat ini menjadi ancaman yang tepat untuk aksi Grace dan Leon yang baru. Apalagi lewat Resident Evil 2 Remake, Capcom sudah membuktikan bahwa zombie-zombie ini masih tetap bisa sama menyeramkan dan mematikannya seperti yang kita kenal selama ini.

Kesan ini jugalah jika Anda sekadar melihat bentuk mereka di Resident Evil Requiem. Namun ketika Anda menyelamnya lebih jauh, Anda akan memahami bahwa ini bukanlah zombie-zombie sama yang Anda kenal selama ini.

Bahwa tidak lagi sekadar mayat “hidup” yang bergerak lambat untuk mendekati Anda, Capcom menyuntikkan sedikit elemen kepribadian dan role khusus untuk setiap dari mereka. Dalam presentasi showcase terakhirnya, Capcom menjelaskan bahwa varian zombie ini diceritakan masih menyimpan sedikit memori kehidupan masa lalunya sebelum berubah menjadi target moncong pistol kita. Situasi yang membuat sensasi pertarungan melawan mereka terasa cukup berbeda.

Pertama, konsep “memori” yang hendak didorong oleh Capcom juga disulap menjadi ragam varian ancaman yang dilebur ke dalam gameplay. Sebagai contoh? Jika kebetulan zombie yang Anda lawan memiliki pekerjaan spesifik, dari dokter hingga tukang daging misalnya, maka besar kemungkinan ia akan menggunakan senjata tersebut untuk menyerang.

Namun tidak harus selalu soal senjata fisik, Anda juga akan berhadapan dengan zombie dengan pendekatan mirip banshee yang teriakannya mampu membangunkan zombie di sekitarnya semata-mata karena pekerjaan masa lalunya yang sepertinya berhubungan dengan bernyanyi. Dengan sistem dan kombinasi ini, tentu menarik untuk melihat kira-kira varian zombie seperti apa yang bisa kita temuni di keseluruhan Resident Evil Requiem nantinya.

Kedua? “Memori” ini benar-benar membuat setiap zombie ini punya kepribadian yang cukup untuk mengundang sedikit rasa penasaran untuk sekadar mengamati tingkah laku mereka yang unik. Selain sang “banshee” yang terkadang bernyanyi di kejauhan sebagai bagian dari rutinitas, Anda juga bisa melihat zombie pembersih yang terus membersihkan kaca toilet. Yang jadi favorit kami? Seorang zombie butler yang hanya punya satu obsesi – memastikan lampu-lampu di koridor tetap mati. Anda bisa sedikit iseng bermain dengan zombie ini dengan menghidupkan ragam lampu di sekitar hanya untuk melihatnya sibuk kesana-kemari.

Fakta bahwa para zombie ini terikat pada memori dan pekerjaan masa lalu mereka menawarkan potensi besar bagi Capcom dari sisi cerita hingga gameplay.
Monster buruk rupa ini juga akan memainkan peran entitas pengejar khas Resident Evil. Bedanya? Anda bisa menundukkannya jika Anda cukup percaya diri.

Capcom juga “mengulang” formula yang sepertinya mereka lihat sebagai jurus paling handal untuk secara konsisten menimbulkan kengerian dan kecemasan. Benar sekali, menghadirkan satu jenis entitas yang akan secara konsisten mencari dan mengejar Anda.

Sejujurnya kami cukup terkejut ketika menemukan bahwa sesi gameplay yang sama berujung memperkenalkan monster bak bayi yang punya fungsi yang nyaris serupa dengan monster tinggi yang sempat mengejar Grace di sesi awal. Fungsi keduanya cukup serupa dengan satu perbedaan jelas nan menarik: berbeda dengan sang monster tinggi, Anda ternyata bisa membunuh si monster bayi untuk menghilangkan ancaman ini secara permanen. Dengan cara apa? Itu akan bergantung pada keputusan Anda sendiri.

Apresiasi juga pantas diarahkan pada implementasi RE Engine yang tidak hanya membuat visual terasa lebih indah saja, tetapi juga memungkinkan sistem kerusakan pada tubuh zombie kini lebih detail . Walaupun kami sendiri tidak bisa memastikan apakah sistem ini akan bisa diaplikasikan untuk semua jenis zombie atau tidak, namun kami sempat bertemu dengan zombie yang matanya berujung nyaris lepas pada saat kami melemparkan timah panas andalan.

Kami juga berujung menyambut dengan tangan terbuka dengan begitu banyaknya darah dan brutalitas di game ini. Sepertinya aman untuk memosisikan Requiem sebagai seri Resident Evil paling gore sepanjang masa. Alasan sama yang membuat kami membiarkan Leon beberapa kali mati karena “gesekan” chainsaw di sesi preview ini.

Author picture
Editor in Chief
Pladidus sudah berkecimpung selama 14 tahun di industri media game Indonesia dan selalu bersemangat untuk merekomendasikan Suikoden II kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Next Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Level Up Your Gaming News!

Subscribe for the latest gaming news and updates.

Share this website