Darah dan Senjata

Setelah sempat menikmati sesi preview sebelumnya yang memperlihatkan Grace sebagai protagonis penakut yang tidak bisa melakukan banyak hal selain berlari saat dikejar oleh varian monster tinggi yang takut cahaya, Grace akhirnya memperlihatkan tajinya di sesi preview terbaru yang kami jajal ini. Ia akhirnya memperlihatkan sedikit aksinya sebagai seorang anggota FBI.
Transisi dari Grace yang penakut ke Grace yang kini memiliki senjata untuk melawan balik berjalan dengan natural dan cepat. Tidak ada omong kosong transisi narasi yang membuat Anda misalnya harus melewati cerita dimana ia harus membiasakan diri dan sejenisnya. Ketika senjata ini hadir, Grace langsung berperan sebagai karakter protagonis Resident Evil pada umumnya, seperti yang Anda kenal selama ini.
Ada satu hal unik yang langsung Anda temui ketika Anda mulai berperan sebagai Grace. Tidak seperti banyak sistem progression game Resident Evil lain dimana senjata terkuat biasanya baru Anda dapatkan di akhir permainan, Anda justru mendapatkannya di awal Anda memegang senjata. Benar sekali, kita tentu tengah bicara soal handgun besar yang diserahkan oleh Leon, yang juga dinamai sebagai Requiem di sini.
Secara sederhana, Anda bisa memosisikan Requiem bak senjata magnum di seri-seri Resident Evil tua. Ini berarti ia diposisikan sebagai handgun super kuat yang tidak hanya mampu menghabisi banyak varian zombie secara instan, tetapi juga sekaligus. Kita bicara soal peluru yang mampu menembus beberapa zombie jika diposisikan dengan tepat, membuatnya menjadi senjata yang super mematikan. Seperti yang bisa diprediksi, kelemahan utamanya tentu terletak pada jumlah yang sangat terbatas. Maka dengan berbekalkan Requiem di awal, Capcom langsung menyerahkan kepada Anda sebuah solusi untuk banyak “masalah” yang mungkin Anda hadapi ketika bermain sebagai Grace, yang bisa Anda ambil dan gunakan kapan saja.

Sesi permainan dengan Grace memang meninggalkan kesan Resident Evil 2 Remake yang kuat, dimana sensasi survival horror lebih dominan. Walaupun jumlah peluru yang Anda temui tidak bisa dibilang terbatas, namun ia tetap tidak menyediakan banyak ruang untuk tembakan yang meleset jika Anda tidak ingin menanggung beban resiko sebagai konsekuensi. Di awal permainan, dengan inventory yang sangat terbatas, management ruang adalah salah satu tantangan Grace. Memilah dan memilih apa yang ingin Anda bawa untuk bertahan hidup sembari memastikan ragam kunci dan solusi puzzle tetap dibawa akan cukup untuk membuat Anda kebingungan. Apalagi sistem gonta-ganti hanya bisa tersedia di kotak penyimpanan. Tidak ada keistimewaan untuk sekadar membuang barang dan mengambilnya lagi nanti ala Resident Evil 0.
Namun untungnya, situasi ini, setidaknya di sesi preview yang kami jajal, tidak akan bertahan lama. Perlahan tapi pasti, Grace akan mulai menguat dan kian bisa diandalkan. Selain reward dari ragam puzzle sampingan yang membutuhkan sedikit aksi berpikir dan observasi, Grace juga bisa mengumpulkan ragam Antique Coins yang tersebar sebagai resource untuk memperkuat dirinya sendiri. Di salah satu ruangan, Antique Coins ini akan jadi mata uang untuk membeli serangkaian upgrade untuk Grace, dari tas yang lebih besar hingga stimulan yang membuat serangan senjata apinya kini punya damage lebih besar. Untuk urusan terakhir ini, jangan tanya kami darimana logika stimulan yang disuntikkan pada tubuh Grace justru berujung memperkuat senapan yang ia pegang.
Selain Requiem, Capcom juga menyuntikkan satu jenis mekanik uniknya lainnya untuk Grace, yakni darah. Dengan konsep yang jelas nantinya akan berkaitan erat dengan lore, darah yang bisa dikumpulkan Grace dalam sebuah tabung terbatas ini akan diposisikan sebagai salah satu pondasi material crafting untuk begitu banyak hal yang bisa diracik Grace dalam proses crafting. Kita bicara dari peluru handgun, peluru Requiem, hingga senjata “spesial” bernama Homolytic Injector. Untuk senjata terakhir ini, ia tidak hanya memungkinkan Grace untuk menghabisi musuh dengan sistem stealth saja, tetapi membuat si target zombie meledak bersih menjadi gumpalan darah.


Mengapa ini menjadi begitu penting? Karena Resident Evil Requiem juga mengusung sistem mutasi zombie di dalamnya. Walaupun sesi singkat ini tidak cukup untuk membuat kami menyimpulkan apakah sistem mutasi ini scripted hanya untuk beberapa zombie spesifik saja atau menjadi semacam potensi ancaman yang terbuka untuk semua jenis zombie yang sekadar terkapar sementara, namun Requiem berhasil membuat ancaman ini benar-benar mengerikan. Dengan kepala seperti gumpalan yang tidak lagi berbentuk, zombie yang bermutasi ini bergerak cepat dan siap menghadirkan damage yang masif. Mereka juga benar-benar jauh lebih “tanky” dengan kebutuhan jumlah kucuran peluru yang jauh signifikan dibandingkan saat mereka normal. Solusi lain untuk memastikan mutasi ini tidak pernah terjadi? Menghancurkan kepala zombie ini dengan senjata terbaik Anda.
Darah juga akan menjadi salah satu bagian elemen upgrade untuk Grace. Selama proses eksplorasi, Anda akan menemukan beberapa sample darah sebagai key item yang harus Anda bawa ke lokasi pemeriksaan spesifik. Untuk setiap sample darah yang berhasil Anda kumpulkan, Anda akan membuka lebih banyak varian jenis item yang bisa di-crafting oleh Grace, termasuk peluru untuk Requiem yang akan sangat membantu nantinya. Namun tentu saja, butuh pemikiran dan pertimbangan yang cermat untuk memilih apa yang hendak Anda prioritaskan di sisi crafting mengingat resource tambahan lain seperti Scrap misalnya, hadir terbatas.
Kerennya lagi? Kehadiran Requiem dan Homolytic Injector untuk Grace seolah menghadirkan opsi solusi untuk ancaman yang Anda temui selama proses eksplorasi di sini. Sebagai contoh? Saat Anda memutuskan untuk membunuh sang zombie tukang daging yang kami bicarakan sebelumnya misalnya. Jika Anda tidak berkeberatan dengan stealth, Anda selalu punya opsi untuk mengendap ke belakang si Butcher dan menggunakan Homolytic Injector dengan doa itu akan menghabisinya secara instan. Jika tidak, Anda selalu bisa berlari lebih dulu untuk bersembunyi dan kembali melakukan aksi stealth untuk Homolytic Injector kedua, ketiga, dan seterusnya. Banyaknya Homolytic Injector yang butuh Anda persiapkan sepertinya akan terikat pada ukuran si monster. Sementara untuk Requiem? Selugas tiga kata: PEW! PEW! PEW!
Kembalinya si Poni Lempar!

Highlight dari sesi preview kami tentu saja kesempatan untuk melihat dan memainkan Leon yang secara lore memang sudah terhitung tua. Untungnya? Capcom tidak cukup gila untuk membuat usianya yang kian senja tersebut tercerminkan lewat sesi gameplay. Walaupun kepribadiannya jauh lebih dingin dibandingkan Anda kenal saat ia masih menjadi seorang rookie di NPD, ia masih Leon yang Anda kenal selama ini.
Kehadiran Leon berujung membawa sensasi Resident Evil 4 ke dalam formula Resident Evil 2 Remake yang ditawarkan oleh Grace. Ini berarti, hampir semua elemen dan strategi permainan yang pernah Anda lakukan dengan Leon di masa lalu, tetap bisa dilakukan di sini. Menembak lutut untuk membuat zombie jatuh dan kemudian menendang mereka? Tenang, tentu saja Anda tetap bisa melakukannya di sini. Bahkan atas nama untuk mencitrakan levelnya sebagai seorang veteran, Capcom juga menyuntikkan sistem enviromental takedown yang memungkinkan Leon untuk menghabisi para zombie dengan kakinya jika berada di lokasi dan timing yang tepat.
Leon juga kali ini cukup pintar untuk membawa senjata melee-nya sendiri ke dalam aksi berburu mayat-mayat hidup ini. Tidak lagi membawa sekadar pisau, ia kini membekali dirinya dengan sebuah hatchet – sebuah kapak kecil yang mematikan. Seperti seri Resident Evil sebelumnya, Anda tetap bisa mengayunkan dengan bebas kapak kecil ini untuk membasmi para zombie yang ada. Namun tidak butuh waktu yang lama hingga Anda menyadari bahwa hatchet milik Leon ini punya sistem bar-nya sendiri.
Bar ini akan merefleksikan level ketajaman si hatchet yang tentu saja disuntikkan Capcom atas nama balancing. Bar hatchet ini akan berkurang perlahan seiring dengan frekuensi Anda menggunakannya. Namun ada satu sistem yang lebih krusial dari sistem bar ini – Parry.


Benar sekali, Anda tidak salah membacanya, Leon kini bisa melakukan parry serangan fisik milik para zombie jika Anda bisa mengeksekusinya dengan timing yang tepat. Aksi parry ini akan menihilkangdamage serangan untuk Leon dengan hanya mengorbankan porsi bar ketajaman yang ada. Berita baiknya? Leon juga cukup pintar untuk membawa batu asahnya sendiri! Jadi seperti halnya aksi di Monster Hunter, Anda bisa memerintahkan Leon untuk mengasah si hatchet untuk memulihkan bar tersebut hingga penuh kembali. Tidak ada resource yang dikorbankan di sini, hanya sedikit waktu.
Sesi singkat kami sayangnya tidak membuka tabir misteri soal sistem upgrade seperti apa yang akan menunggu Leon dengan konsep yang mirip dengan Antique Coins milik Grace. Satu yang pasti, Leon jelas didukung dengan inventory dengan ukuran super besar ala Resident Evil 4 yang tentu berbeda jauh dengan milik Grace. Dengannya, sepertinya aman untuk berasumsi bahwa varian senjata akan jadi salah satu “sumber kekuatan” milik Leon. Namun keduanya dipastikan akan didukung dengan sistem charm yang akan bisa disematkan di senjata masing-masing untuk buff spesifik.

Yang menarik? Capcom jelas punya preferensi dan tendensi yang mereka inginkan untuk masing-masing karakter. Di sesi preview kami, menjadi setting default bagi kamera Grace berada di mode first-person dan Leon di mode third-person. Fakta bahwa mereka membedakan opsi kamera untuk masing-masing karakter alih-alih menyatukan mereka juga seolah menjadi indikasi bahwa Capcom mungkin memprediksi bahwa gamer pun akan punya preferensi serupa. Kami sendiri lebih memilih untuk memainkan keduanya di mode third person tanpa banyak keluhan selain kecepatan lari Grace yang memang sengaja, diposisikan lambat.

