Kerdil di Depan Gunung Yotei

Semenjak era Tsushima, Sucker Punch memang tidak pernah mendasari desain game mereka, terutama untuk urusan desain lingkungan dengan pendekatan realistis. Yang mereka kejar justru sebuah cita rasa fantasi yang lebih kental dimana setiap jengkal lingkungan dibangun seindah dan sedramatis mungkin. Bahwa setiap detik upaya Anda menyelusurinya bisa ditangkap dan dijadikan sebagai wallpaper jika Anda menginginkannya. Pendekatan yang tidak pernah gagal memanjakan mata ini juga mereka tawarkan di Ghost of Yotei.
Bahkan kami sendiri tidak ragu untuk menyatakan bahwa Ghost of Yotei bahkan didesain dengan lebih dramatis lagi dibandingkan Tsushima. Ezo terlihat seperti sebuah daratan dengan penuh kekuatan magis berkat kokoh dan megahnya gunung Yotei yang berdiri tegap di kejauhan. Melintasi padang bunga, hutan bambu, hingga daratan bersalju putih bersih yang ada siap untuk membuat mata Anda secara konsisten temanjakan. Sucker Punch juga membuat level dramatisasi tersebut meninggi lewat kehadiran binatang liar, dari kawanan kuda yang ikut berlari bersama Anda, bangau yang terbang berhamburan saat dihampiri, dan tentu saja para rusa yang tampil seolah tengah berimigrasi di beberapa titik. Ia membuat Yotei bahkan terasa tampil lebih bak mimpi dibandingkan Tsushima sekalipun.


Performa Playstation 5 yang kini menjadi satu-satunya basis Ghost of Yotei juga memungkinkan Sucker Punch untuk menyuntikkan lebih banyak detail di ragam sisi, terutama untuk ekspresi wajah yang mampu dipotret oleh Atsu. Dengannya, Anda kini bisa menangkap sedikit soal apa yang tengah dipikirkan dan dirasakan Atsu. Bola matanya bisa terlihat begitu lembab namun tanpa air mata yang mengalir keluar atau dari sekadar caranya mengalihkan pandangan ketika ia merasa tidak nyaman. Anda juga bisa merasakan seberapa besar amarah dan dendam yang ia rasakan lewat raut wajahnya ketika berupaya menghabisi setiap dari Yotei Six ini.
Kami juga mengapresiasi setiap keputusan Sucker Punch untuk tetap menempatkan Atsu sebagai protagonis yang tidak banyak berbeda dengan Jin Sakai. Ia sama brutalnya, dengan ketidakseganan untuk memotong kepala para musuh ketika dibutuhkan dengan aksi serang yang juga mampu memutilasi lawan di beragam anggota tubuh. Ia juga sama kuatnya untuk urusan eksplorasi, memanjat hingga menyelinap bagaikan hantu tanpa wujud. Bahkan untuk hal terkecil sekalipun, seperti keputusan untuk tetap menelanjangi Atsu secara total, yang tentu saja normal di era itu, ketika ia masuk dalam permandian air panas.
Apresiasi juga pantas diarahkan kepada keputusan Sucker Punch untuk menawarkan pengalaman Dual Sense lebih interaktif, yang sepertinya sudah mereka lakukan sejak era DualShock 4 di Infamous: Second Son. Anda kini akan diminta untuk menggerakkan DualSense Anda saat tengah menyalakan api untuk membangun kema hingga meracik makanan di sana. Yang jadi terfavorit kami? Ketika Anda diminta untuk menempa pedang dengan menghentkakkan DualSense Anda, yang juga diikuti dengan proses bakar ulang sang besi saat mulai mendingin sembari melihat bagamama aksi Anda membuatnya kian memanjang. Tenang saja, Anda yang tidak menikmati semua proses ini akan bisa melewatinya begitu saja.


Mengingat atmosfer dan tema yang ia usung, Sucker Punch juga memastikan setiap art terkait cerita, baik untuk jalinan utama hingga sampaingan terkait legenda juga diekspresikan dengan gaya yang mengingatkan Anda pada lukisan Jepang dengan tinta hitam yang mendominasi. Bahkan ada beberapa misi sampingan yang meminta Anda melukis, yang kemudian juga menuntut Anda untuk menggerakkan touchpad di DualSense yang ada. Artwork favorit kami? Tentu saja menu Wolf Pack yang berisikan jajaran artwork karakter-karakter yang mendukung perjalanan, yang hadir indah dan tajam, Tentu saja, menu ini punya fungsi untuk mencari informasi soal misi sampinan atau ekstra interaksi yang bisa Anda picu dengan setiap dari mereka.
Ghost of Yotei juga membawa beragam mode tambahan untuk Anda yang menginginkan ekstra pengalaman berbeda. Ada Kurosawa Mode yang sudah tersedia sejak Tsushima dan kini dengan dua tambahan mode lainnya: Miike yang akan membawa lebih banyak darah dan lumpur serta pendekatan kamera yang lebih dekat. Sementara untuk mode Watanabe yang akan mengusung ekstra lagu lo-fi original ala Samurai Champloo, kami akan merekomendasikan Anda untuk memilih mode yang satu ini ketika Anda sudah menyelesaikan Yotei dan kembali untuk ekstra eksplorasi. Semata-mata untuk tidak mengacaukan sedikit vibe dan tone cerita super serius dan gelap yang terbesar di kisah utama.

Maka dengan sisi presentasi visual yang notabene sudah fantastis, Ghost of Yotei juga hadir dengan sisi presentasi audio yang tidak kalah gemilang. Semua OST yang dipadupadankan dengan ragam scene yang ada terasa begitu memesona, apalagi dengan alat musik Shamisen yang tidak hanya mahir digunakan Atsu saja, tetapi juga dijadikan bagian tidak tepisahkan dari musik-musik ini. Beberapa datang dengan lyric menyentuh yang juga dimainkan di momen tepat untuk ekstra dramatisasi yang untungnya efektif. Sementara untuk VA? Walaupun kami tetap memilih bahasa Jepang untuk playthrough kami atas nama sensasi lebih otentik, namun kualitas VA Inggris-nya juga pantas untuk diacungi jempol.
Atsu Bukan Sakai

Sebagai proyek perdana mereka dan tentu saja fakta bahwa ia berada di era yang benar-benar berbeda, apa yang bisa dilakukan Jin Sakai sebagai karakter utama di Tsushima untuk urusan action memang terbatas. Ia hanya dibekali dengan satu katana namun dengan empat gaya yang berbeda. Ragam item yang bisa ia akses untuk mendukung aksinya sebagai “Ghost” juga masih terperangkap pada jenis-jenis yang harus diakui, klise dan terbatas.
Atsu yang bukanlah seorang samurai dan lebih dikenal sebagai seorang Onryo yangn notabene dikenal sebagai roh penuh kebencian dan balas dendam di mitologi Jepang hadir sebagai karakter yang jauh lebih dinamis dan efektif sebagai pembunuh dibandingkan Jin Sakai. Menariknya? Walaupun sebagian narasi latar belakangnya dijelaskan sebagai hasil akumulasi pengalamannya ikut perang di daerah selatan, namun Sucker Punch tetap memberikan perhatian dan ekstra waktu ketika Atsu belajar menggunakan senjata baru. Rasionalisasi bagaimana Atsu misalnya belajar cara menggunakan dual-blade sementara tangan kirinya jarang mengayunkan pedang datang dengan alurnya sendiri, yang menurut kami pantas diapresiasi.
Benar sekali, Anda tidak salah membacanya. Alih-alih satu katana dengan 4 gaya bertarung, Atsu kini dibekali dengan varian senjata selain katana, baik untuk urusan melee ataupun range. Akan ada kesempatan menggunakan dual-blade, memakai spear (yang tenyata juga bisa Anda pakai memancing), Odachi yang benar-benar masif dan lambat, hingga kusarigama yang menjadi mesin pembunuh efektif. Seiring dengan progress cerita, Atsu juga akan punya akses ke senjata api di luar busur panah, yang ajaibnya bisa Anda kombinasikan untuk aksi bertarung.
Seperti yang bisa diprediksi, kehadiran ragam senjata melee ini memang dirancang layaknya stance milik Jin Sakai yang bisa disederhanakan sebagai sistem gunting-batu-kertas melawan varian musuh tertentu. Katana cocok untuk melawan katana, Odachi untuk Brute, Spear untuk musuh dengan kusarigama, dual-wield untuk para pengguna spear, dan kusarigama untuk para musuh yang membawa shield. Tidak hanya lebih efektif karena masalah kecepatan serang saja, namun damage untuk posture yang dihasilkan akan lebih efektif jika menggunakan senjata yang berlawanan.


Tenang saja, proses gantinya juga cukup mudah. Untungnya, Sucker Punch tidak cukup “gila” untuk menjadikannya bak game simulasi ala Red Dead Redemption 2 dimana Anda hanya bisa membawa senjata terbatas yang sisanya harus Anda simpan di kuda companion Anda, yang notabene merepotkan. Ghost of Yotei tetap hadir dengan gaya “video game” dimana Atsu terlihat tidak bermasalah membawa semua senjata ini dengan aksi gonta-ganti instan yang bisa Anda lakukan dengan akses yang cepat dan sederhana. Walaupun harus diakui, mengingat kuantitas yang terhitung cukup banyak, butuh sedikit ekstra usaha untuk setidaknya mengingat shortcut untuk ragam tools yang bisa Anda pakai, dari bom asap hingga teppo pendek bak handgun.
Atsu juga terasa punya gaya bertarung yang lebih cerdas dan dinamis, lewat implementasi hal sekecil kemampuan untuk melempar senjata yang jatuh misalnya. Terdengar sederhana di permukaan, namun fakta bahwa aksi ini fatal dan seringkali membantu Anda untuk mengurangi musuh yang mengepung secara instan langsung membuatnya jadi mekanik baru terfavorit kami. Dengan ekstra animasi slow motion yang memuaskan, ia membuat Atsu terasa lebih mematikan.
Tidak hanya itu saja, Yotei juga menyuntikkan disarm dimana Anda ataupun musuh Anda kini bisa melakukan serangan khusus yang tidak hanya menghasilkan damage saja, tetapi juga membuat mereka menjatuhkan senjata mereka. Untuk musuh biasa yang hanya membawa satu varian senjata sasja, ini berarti kesempatan untuk melontarkan sebanyak mungkin serangan dan menghabisi mereka,. Sementara untuk pertarungan boss, ini jadi ekstra strategi yang bisa Anda pertimbangan.


Benar sekali, aksi disarm ini tetap bisa Anda eksekusi untuk melawan para boss dalam skema duel pertarungan 1v1. Ada beberapa alasan mengapa Anda melakukan ini. Pertama? Membuka sedikit ruang untuk menghasilkan damage selama sang boss berujung tak bersenjata dan memutuskan untuk memungut mereka kembali. Kedua? Memaksa mereka mengakses dan menggunakan senjata kedua mereka. Untuk opsi terakhir ini, bisa jadi Anda lebih mahir bertahan dan mengeksploitasi varian senjata tertentu misalnya, sehingga Anda lebih percaya diri saat melawan sang duel ketika ia menggunakan senjata tersebut. Walaupun pada akhirnya, ia biasanya akan tetap berupaya untuk memungut senjata utamanya kembali.
Karena harus diakui, bahkan di tingkat kesulitan normal sekaliupun, Ghost of Yotei menawarkan tantangan yang lebih sulit dibandingkan dengan Ghost of Tsushima. Terlepas dari bar health Anda yang sudah panjang dan armor Anda yang sudah diperkuat sekalipun, Anda hanya butuh beberapa kali serangan untuk dihabisi. Tingkat kesulitan juga mengakar pada variasi animasi serangan yang kini lebih beragam untuk setiap senjata dibandingkan dengan di Tsushima. Lebih parahnya lagi? Animasi-animasi ini didesain dengan tempo yang bisa jadi terasa janggal, sehingga timing untuk melakukan aksi Perfect Parry kini juga lebih sulit.


Kami dengan tanpa rasa malu harus mengakui bahwa di tingkat kesulitan normal sekalipun, kami jauh lebih banyak berhadapan dengan kematian dan layar Game Over dibandingkan dengan Tsushima. Kerentanan dan variasi animasi ini membuat pertarungan grup misalnya, kini tidak lagi semudah biasanya. Apalagi dengan senjata yang belawanan sekalipun, terutama saat katana vs katana., Anda tidak akan sulit bertemu dengan musuh biasa yang mampu melakukan parry untuk serangan yang Anda lakukan. Kita masih belum bicara soal penempatan musuh range dengan teppo atau musuh support yang berfungsi untuk melakukan buff, yang kini cukup pintar untuk memosisikan diri mereka sejauh mungkin dari Anda yang terus diserang oleh grup yang lain.
Masih belum cukup? Sensasi lebih sulit tersebut juga dibawa Sucker Punch ke ragam pertarungan duel yang beberapa di antaranya kami yakin, bisa berujung membuat Anda frustrasi. Serangan mematikan yang dikombinasikan dengan lebih banyak varian kombinasi kini jadi mimpi buruk tersendiri karena timing yang bisa jadi berantakan. Belum lagi ada beberapa skenario dimana Anda misalnya, dipersulit dengan badai salju yang jika tidak ditangani dengan kostum khusus, akan membuat bar max health Anda terus berkurang secara konsisten. Lawan duel yang sudah mematikan pun, kian mematikan. Ingat, ini masih berada di level Normal.
Untungnya, selain sistem upgrade armor dan juga sistem Charm yang juga sudah tersedia sejak Tsushima, Atsu juga akan ditemani dengan companion serigala-nya yang juga punya jalinan ceritanya sendiri. Di awal, ketika Anda belum banyak menyelesaikan misi sampingan terikat padanya, ia akan hadir bak binatang liar yang datang dan pergi sesuka hatinya.
Namun jika Anda berfokus menyelesaikan misi sampingan sang serigala, ia akan tumbuh jadi companion yang sama mematikannya dengan Atsu. Sang serigala nantinya bisa Anda panggil dengan lagu spesifik shamisen atau ketika memicu aksi tertentu. Walaupun tetap tidak akan membantu Anda di aksi duel 1v1, namun ia akan membuat Anda yang senang dengan pertarungan terbuka di skenario lain lebih terbantu.


Tenang saja, Anda yang lebih senang dengan aksi stealth tetap akan terfasilitasi dengan baik di sini. Mengendap-ngendap dan menghabisi setiap musuh yang Anda temui kini bahkan lebih mudah dibandingkan dengan era Sakai, apalagi dengan kehadiran kusarigama yang walaupun tetap membuat musuh sedikit berteriak, kini memungkinkan Anda untuk menghabisi mereka dari jauh dan menarik mayatnya mendekat ke Anda. Bergantung pada pohon skill yang Anda perkuat lebih dulu, yang pointnya bisa didapatkan dari ragam Altar yang tersebar di Ezo, Anda juga akan bisa mengakses fungsi seperti Chain Assassination yang begitu mematikan sejak awal-awal pemainan.
Dengan semua kombinasi ini, Ghost of Yotei menawarkan sensasi pertarungan yang unik. Ia terasa familiar jika Anda sempat menikmati Tsushima sebelumnya, namun tetap mampu menawarkan cukup banyak hal baru untuk membuat Atsu terasa sebagai karakter berbeda. Kita tidak hanya bicara soal akses ragam senjata, tetapi juga fungsi baru seperti lempar senjata dan disarm, yang juga dikombinasika dengan tingkat kesulitan yang di mata kami, terasa lebih menantang dibandingkan dengan seri sebelumnya.


One Response