Review Monster Hunter Stories 3 – Twisted Reflection: Konservasi Penuh Aksi!
Page 2

Review Monster Hunter Stories 3 – Twisted Reflection: Konservasi Penuh Aksi!

Author picture
Author picture

Tak Sekadar Indah

Kami benar-benar jatuh cinta dengan pendekatan visual bergaya anime yang ditawarkan oleh Monster Hunter Stories 3 ini.

Kami tidak lagi bisa lebih bahagia dan menyambut dengan tangan terbuka pendekatan visual yang ditawarkan oleh Capcom di Monster Hunter Stories 3 ini. Visual anime yang ia usung tidak hanya tetap menawarkan detail yang memesona saja, tetapi juga kontras warna yang membuat atmosfer yang ada terlihat begitu cerah. Melihat bagaimana warna-warna cerah ini dikombinasikan dalam bentuk kostum, sekadar pemandangan alam, hingga efek yang dihadirkan para monster benar-benar membuat mata kami termanjakan. Cukup untuk membuat kami berharap agar Capcom mengimplementasikan pendekatan visual seperti ini lebih banyak di masa depan.

Namun pendekatan gaya anime super kental ini bukan satu-satunya hal yang membuat presentasi Monster Hunter Stories mengagumkan. Anda akan bisa merasakan jelas bahwa ada perhatian yang begitu besar yang diberikan Capcom untuk membuat sisi ini menonjol. Salah satunya? Animasi. Bahwa sisi gaya visual anime ini sama sekali tidak menghalangi kemampuan Capcom untuk menghasilkan animasi yang halus saat Anda menikmati beragam cut-scene yang ada. Salah satu yang jadi favorit kami? Tentu saja saat Eleanor memasak, yang terlihat begitu halus dan memesona. Walaupun animasi untuk visual 3D di seri utama Monster Hunter utama tidaklah buruk, namun ada sesuatu yang istimewa saat ia dieksekusi dengan visual bergaya anime ini.

Apresiasi tinggi juga pantas diarahkan untuk animasi dramatisasi yang mereka suntikkan untuk konsep bernama Kinship Skill yang bisa disederhanakan sebagai sebuah serangan pemungkas dengan damage besar. Ketika dieksekusi, sebagian besar monster yang Anda tunggangi akan menawarkan animasi serangan bombastis yang menariknya, tetap terlihat dan terasa rasional dengan fungsi dan sifat mereka masing-masing. Ia juga membuat Anda merasa sebagai Ranger dan Rider yang sesungguhnya, yang jelas punya koneksi emosional yang istimewa dengan masing-masing monster yang Anda pilih tersebut.

Animasi-animasi serangan pemungkas para monster yang Anda rekrut juga tidak kalah memukau.
Dunia terbagi ke dalam region dengan ekosistem berbeda ala game RPG, namun dengan landmark khas Monster Hunter di dalamnya.

Sementara dari sisi lingkungan, layaknya sebuah game RPG, Monster Hunter Stories 3 juga akan menawarkan beragam ekosistem berbeda untuk Anda kunjungi. Tidak hadir sebagai sebuah dunia terbuka luas yang langsung terpapar, melainkan lewat region-region yang akan dipisahkan dengan sedikit waktu loading di dalamnya. Maka seperti yang bisa diprediksi, seperti semua game RPG lainnya juga, Anda akan menemukan sedikit desain standar seperti daerah yang lebih didominasi pasir yang terlihat kering, bukit-bukit hijau yang asri, hingga kutub es. Tentu saja, dengan suntikan ekstra landmark yang menguatkan citra Monster Hunter yang seharusnya.

User-interface juga menjadi bagian yang pantas untuk dipuji dari Monster Hunter Stories 3. Terlepas dari fakta bahwa ia mengusung mekanik dengan lapisan kompleksitasnya sendiri, yang akan kita bicarakan di sesi selanjutnya, Capcom tetap berhasil mendukung game ini dengan desain menu elegan dan akses fungsi yang gampang. Jelas bahwa ia tidak dibangun atas nama sekadar indah semata, tetapi juga kemudahan fungsi. Salah satu bukti paling jelas? Kemudahan berganti monster tunggangan pada saat Anda berada di peta terbuka.

Pujian untuk diarahkan pada implementasi UI sederhana yang membuat beberapa fungsi mudah diakses.

Sementara dari sisi audio? Walaupun voice acting dan OST yang ditawarkan menjalankan tugansya dengan sangat baik, kami sendiri tidak akan menyebutnya istimewa. Ia menjalankan tugasnya dengan baik, namun tidak sampai menyentuh titik dimana Anda akan berujung memuji eksekusinya setara dengan apa yang berhasil dicapai oleh sisi grafisnya.

RPG Turn-Based yang Unik

Pengalaman Monster Hunter Anda kini “disulap” menjadi RPG turn-based.

Jika Anda termasuk gamer yang tidak familiar dengan Monster Hunter Stories, pendekatan yang ditawarkan Capcom untuk lini seri yang satu ini memang jauh berbeda dengan seri utamanya. Salah sat yang paling radikal tentu saja perubahan genre menjadi sebuah game RPG turn-based dimana strategi juga memainkan peran penting daripada hanya sekadar memiliih perintah saja.

Yang menarik? Bahkan untuk ukuran game RPG turn-based sekalipun, Monster Hunter Stories 3 ini bisa dibilang unik. Karena tidak seperti pakem sebagian besar game di genre ini yang akan memberikan Anda kontrol lumayan penuh untuk mengatur apa yang dilakukan oleh setiap anggota party, game yang satu ini hanya memungkinkan Anda untuk mengatur karakter utama Anda sekaligus sang monster jika Anda menginginkannya. Sang monster akan otomatis memilih set aksinya sendiri jika Anda berujung tidak memberikan perintah secara manual apapun.

Dengan komposisi tim dua orang dan dua monster, anggota tim satunya lagi akan sepenuhnya dikendalikan oleh AI, baik dari karakter hingga monster yang ia tunggangi. Berbeda dengan sang karakter utama pula, karakter companion yang nantinya akan bisa Anda pilih di titik cerita tertentu ini akan hanya terikat pada satu varian monster saja (dan nantinya, satu ekstra lagi sebagai alternatif). Menariknya? Monster Hunter Stores 3 sendiri “mengunci” elemen, moveset, peran, hingga rangkaian skill yang bisa mereka akses sehingga Anda akan paham betul apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan oleh setiap karakter ini. Hal ini akan esensial ketika Anda butuh mengubah strategi untuk menghadapi beberap varian monster dengan lebih efektif.

Sejujurnya, konsep seperti ini sempat membuat kami khawatir di awal. Memainkan sebuah game RPG turn-based berisikan “4 karakter” namun hanya mengendalikan penuh 1 karakter saja? Terdengar sangat absurd. Namun untungnya, seiring dengan progress permainan, ia  justru jadi salah satu identitas dan highlight sistem Monster Hunter Stories 3 itu sendiri. AI yang ditawarkan untuk karakter companion Anda benar-benar cerdas dan adaptif untuk ragam situasi yang Anda hadapi. Bahwa alih-alih Anda yang menjaga mereka, akan ada sensasi kuat bahwa mereka lah yang akan secara konsisten memastikan Anda untuk selamat.

Sistemnya sendiri cukup unik dimana Anda memegang kendali penuh hanya karakter dan companion Anda. Sementara “tim” lainnya sepenuhnya dikendalikan AI.
Walaupun informasi lain yang disajikan, Monster Hunter Stories 3 tetap meminta Anda untuk memerhatikan gerak-gerik monster yang ada.

Dengan sistem seperti ini pula, Capcom memberikan Anda lebih banyak ruang untuk berpikir dan berfokus pada sistem tarung itu sendiri, yang juga punya lapisan ekstra untuk dipikirkan. Ada sistem gunting, batu, kertas di sini yang harus Anda pilih saat berhadapan dengan serangan monster lawan. Tidak lewat papan informasi eksplisit, melainkan aksi mengingat sifat setiap monster yang juga mungkin terbagi ke dalam beberapa fase saat bertarung. Walaupun terasa tidak intuitf, namun sistem seperti ini lebih “mewakili” pengalaman Monster Hunter yang sesungguhnya, dimana Anda memang diminta untuk mempelajari sifat monster yang hendak Anda tundukkan.

Menariknya? Monster Hunter Stories 3 juga hadir dengan sistem “Game Over” yang unik. Tidak sekadar mengandalkan bar HP layaknya game-game RPG pada umumnya, ia juga melapisinya dengan sistem pool nyawa berbentuk hati dengan maksimal 3 buah untuk setiap tim. Setiap kali sang karakter penunggang tewas atau monster companion-nya gugur, ia akan mengambil satu nyawa dari pool tersebut. Anda baru benar-benar dihitung game over jika pool hati sang karakter utama yang Anda kendalikan benar-benar habis. Namun tenang saja, ada pula kesempatan untuk memulihkannya dengan item langka tertentu.

Maka sisa pertarungan Anda selain mempelajari karaterisitik setiap monster adalah mulai memiliih kira-kira bagian anggota tubuh mana dari mereka yang ingin Anda hancurkan lebih dahulu, yang juga biasanya terikat efektivitasnya pada penggunaan senjata tertentu. Menghancurkan bagian tubuh ini akan menawarkan efek tersendiri, dari sesederhana stun hingga yang lebih esensial, seperti kehilangan kemampuan untuk terbang sampai transformasi ke wujud yang berbeda. Namun perlu diingat, tidak sedikit pula pertarungan melawan monster mini-boss atau boss yang lebih kuat, yang menyulap mekanik ini sebagai pondasi esensial untuk mengunci probabilitas kemenangan.

Apresiasi tertinggi memang pantas diarahkan untuk kemampuan Capcom menyulap rangkaian senjata khas Monster Hunter menjadi sesuatu yang bisa “dicerna” secara rasional di game RPG turn-based seperti ini. Tidak -semua senjata memang, namun hampir sebagian besar senjata yang ditawarkan di sini – dari palu, busur panah, hingga Hunting Horn berujung ditranslasikan dengan begitu baiknya di genre dengan mekanik yang jelas berbeda ini. Walaupun kami juga harus mengakui bahwa peran Hunting Horn di game ini terlalu penting untuk tidak Anda masukkan ke dalam 3 senjata utama yang Anda bawa.

Walaupun tidak semua senjata tersedia, namun proses translasi mekanik dari seri utama Monster Hunter ke versi RPG turn-based ini pantas diacungi jempol.
Bukan Monster Hunter namanya jika tidak ada aksi mengumpuilkan material dan meracik sendiri senjata dan armor andalan Anda.

Translasi fantastis juga dieksekusi baik di sistem-sistem khas Monster Hunter lainnya, dari sistem crafting senjata dan armor yang juga terikat pada elemen dan rangkaian skill tertentu yang bisa mereka akses, aksi pasang Decorations untuk memperkuat aspek tertentu, dan tentu saja aksi mengumpulkan material yang selain di dunia terbuka, bisa Anda kumpulkan dengna menundukkan para monster yang ada. Bagian paling kerennya? Seolah memahami bahwa skenario pertarungan mereka terhitung lebih panjang dibandingkan game RPG turn-based yang lain, Monster Hunter Stories 3 memungkinkan Anda untuk menghabisi monster dengan beda level cukup tinggi secara instan dan sekadar “memanen” material yang Anda butuhkan.

Dengan konsep RPG yang juga menawarkan ragam misi utama dan sampingan untuk diselesaikan, Monster Hunter Stories 3 juga akan menyediakan ruang cukup besar bagi Anda untuk mengenal dan memperkuat karakter-karakter companion Anda. Mereka masing-masing hadir dengan cerita khusus dan konfliknya sendiri, dari yang emosional hingga yang sekadar hadir bersenang-senang. Menyelesaikan misi-misi companion ini juga memberi kesempatan bagi Anda untuk membuka varian senjata dan monster bagi masing-masing dari mereka, yang tentu saja akan mempengaruhi strategi Anda di akhir.

Author picture
Editor in Chief
Pladidus sudah berkecimpung selama 14 tahun di industri media game Indonesia dan selalu bersemangat untuk merekomendasikan Suikoden II kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Next Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Level Up Your Gaming News!

Subscribe for the latest gaming news and updates.

Share this website