Resident Evil Paling Brutal

Kritik memang boleh mengemuka di Monster Hunter Wilds karena masalah optimalisasi untuk versi PC yang berjalan setidaknya selama satu tahun, namun RE Engine harus diakui tidak pernah bermasalah di game Resident Evil modern, termasuk Requiem. Walaupun kami cukup terkejut dengan keputusan Capcom untuk hanya menawarkan satu setting visual dengan 60fps sebagai fokus untuk versi Playstation 5 non-pro, alih-alih menawarkan opsi framerate rendah dengan resolusi tinggi ala rilis modern yang lain.
Eksekusinya pun manis. RE Engine tetap mampu menawarkan detail yang fantastis baik dari kacamata orang pertama atau orang ketiga yang memang menjadi opsi sejak awal permainan di Requiem. Melihat bagaimana cahaya lighter menembus sedikit sisi rambut Grace yang tipis sehingga menghasilkan warna merah yang konsisten di tengah kegelapan atau melihat bagaimana raut wajah Leon yang jelas jauh lebih tua dibandingkan dengan kiprah pertamanya di Raccoon City menjadi testimoni tidak langsung dari engine yang juga berjalan optimal di versi Playstation 5 non-pro ini. Menariknya? Capcom juga menawarkan ekstra animasi untuk gamer yang memilih untuk memainkan game ini dari perspektif third person agar mampu merepresentasikan kengerian yang nyaris serupa dari kacamata first person.

Namun pesona Resident Evil Requiem dari sisi presentasi tidak hanya datang dari sisi teknis saja. Keputusan untuk membuat para zombie di sini sebagai makhluk yang masih menyisakan sedikit memori sebelum mereka berubah memberikan ekstra kepribadian yang unik. Mereka terlihat masih “terperangkap” pada pekerjaan mereka, memperlihatkan keinginan untuk berkomunikasi, dan cukup cerdas untuk menggunakan keahlian mereka untuk menghabisi Anda dengan cepat. Ini membuatnya jadi musuh yang setidaknya lebih menantang dari zombie standar Resident Evil di masa lalu.
Dari semua hal yang ditawarkan Capcom di sini, kami dengan tangan terbuka menyambut betapa brutalnya Resident Evil Requiem. Kita tidak hanya bicara soal sistem kerusakan tubuh yang lebih akurat, dimana tembakan Anda ke kepala para zombie kini bahkan membuat mata mereka terjuntai keluar. Kita bicara soal begitu banyaknya darah yang mengucur dan bagian tubuh yang terpotong, apalagi saat Anda memerankan Leon. Masih belum cukup brutal? Biarkan para zombie yang tengah menenteng chainsaw atau parang raksasa untuk membunuh Anda sekali saja untuk animasi yang super gila.


Pada akhirnya, kami juga cukup bahagia menyebut bahwa memainkan Requiem dengan perspektif orang pertama atuapun ketiga akan sama seru dan nyamannya. Walaupun dalam sesi beberapa kali interview di masa lalu sang tim menyebut bagaimana mereka tidak punya preferensi sudut pandang yang direkomendasikan, namun di versi final ini, mereka terbuka mengakuinya. Di notifikasi awal permainan, Capcom dengan eksplisit menulis bagaimana mereka merekomendasikan Anda untuk memainkan sesi Grace dari perspektif first-person dan Leon dari third person. Kami sendiri berujung lebih memilih untuk memainkan sesi Grace dari kacamata orang ketiga untuk konsistensi.

Memesonanya sisi presentasi visual juga diikuti dengan sisi audio yang pantas untuk diacungi jempol. Salah satu bagian memesona yang paling mengejutkan bagi kami adalah kualitas voice acting Grace di sepanjang permainan. Berbeda dengan Leon yang dingin dan berpengalaman, hampir sebagian besar horror yang ditemukan Grace di game ini adalah teror pertama bioweapon yang ia hadapi. Semuanya diekspresikan dengan VA yang solid, dari ekspresi kepanikan hingga teriakan memilukan. Kami juga bahagia dengan keputusan Capcom untuk membawa kembali OST-OST lamanya yang ikonik untuk bagian tertentu.
Grace – Sang Pondasi Survival Horror

Sudah bukan rahasia lagi sepertinya bahwa salah satu daya tarik utama Resident Evil Requiem adalah sistem dual protagonis yang ia bahwa – Grace dan Leon. Sistem ini tidak mengikuti gaya Resident Evil 2 dimana cerita akan dibagi dalam skenario A atau B dimana masing-masing karakter akan punya satu playthrough penuh. Ia juga tidak menghadirkan sistem ala Resident Evil 5 atau 6 yang langsung meleburnya ke dalam sebuah sistem co-op.
Cara terbaik menyederhanakannya adalah membandingkannya dengan sesi Jill dan Carlos di Resident Evil 3, namun dengan pendekatan yang sangat berbeda. Ini berarti kedua karakter ini akan menjalani satu garis cerita utama yang sama, yang dilakukan secara bergantian dengan proporsi 50:50 yang sesimbang. Yang membuatnya unik? Akan ada sesi dimana Leon dan Grace akan mengeksplorasi satu lokasi yang sama sehingga ada implementasi strategi unik yang bisa dieksekusi di sini. Sebagai contoh? Lari dari para zombie di sesi Grace mengingat resource yang terbatas untuk nantinya membiarkan Leon yang akan tiba di tempat yang sama untuk aksi “bersih-bersih” lebih efektif.
Grace adalah pondasi survival horror di Resident Evil Requiem. Ia menawarkan pengalaman yang serupa dengan apa yang sempat Anda rasakan di Resident Evil 2 Remake dimana efisiensi penggunaan resource, dari peluru hingga item penyembuh akan memainkan peran yang sangat besar. Anda harus memilah dan memilih zombie mana saja yang pantas untuk Anda prioritaskan dan mana yang bisa Anda lewati begitu saja. Di tingkat kesulitan normal, zombie-zombie akan butuh beberapa kali timah panas di kepala untuk bisa ditundukkan. Walaupun untungnya, Grace juga dibekali dengan serangan melee untuk menjatuhkan lawan sehingga mereka terkapar dan terdiam untuk beberapa waktu, memudahkan Anda untuk menembak dan menargetkan titik lemah mereka.
Satu ekstra tantangan lain yang disematkan khusus untuk sesi Grace adalah pengaturan inventory. Walaupun nantinya bisa diperluas dengan semakin banyaknya tas yang Anda temukan saat proses eksplorasi, Grace akan secara konsisten diuji dengan memilih item mana saja yang hendak ia bawa dan simpan.
Situasi ini dipersulit dengan sistem Charm misalnya, yang di sesi Leon akan bisa disematkan langsung di senjata-senjata yang ada. Sementara di sesi Grace? Charm tersebut hanya perlu dibawa di dalam inventory untuk memancarkan efek yang ia tawarkan tanpa bisa disematkan dimanapun. Sebagai konsekuensinya? Ini berarti slot yang secara permanen terpakai dengan semakin banyaknya charm yang Anda gunakan.


Anda juga akan secara sukarela menyiapkan satu slot permanen untuk item bernama “Blood Collector” yang memungkinkan Grace mengumpulkan darah yang tercecer ataupun dari musuh yang tewas. Darah ini akan digunakan sebagai basis material crafting untuk beragam hal yang Anda butuhkan, dari peluru handgun hingga Hemolytic Injector. Untuk yang terakhir ini, ia merupakan item yang memungkinkan Anda untuk menghabisi banyak zombie, temasuk varian mini-boss sekalipun, dengan hanya satu serangan stealth. Ia juga akan membuat mereka berubah menjadi “bubur”, yang otomatis menihilkan kesempatan mereka untuk kembali dengan mutasi yang menyebalkan. Anda benar-benar tidak akan ingin zombie ini bermutasi saat bermain sebagai Grace.
Grace untungnya punya level bertahan hidup yang cukup tinggi berkat beberapa hal ekstra lainnya. Ia bisa menggunakan tampungan darah dan material spesifik untuk meracik item penguat permanen yang bisa meningkatkan jumlah health maksimal atau justru kemampuan tembaknya. Anda juga akan bertemu dengan resource seperti Antique Coins (yang lagi-lagi akan meminta setidaknya satu slot inventory) yang bisa dialihkan untuk ragam item upgrade. Masih belum cukup? Pistol andalan Leon yang ia pinjamkan – Requiem akan jadi senjata mumpuni untuk menghabisi nyaris semua musuh dengan satu tembakan, yang diseimbangkan lewat jumlah peluru yang terbatas.

Tenang saja, Anda yang benci dengan trope karakter lemah yang seringkali diposisikan tidak mampu menangani banyak ancaman tidak akan menemukan rasa frustrasi tersebut bersama dengan Grace. Seiring dengan cerita bergerak, yang juga diikuti dengan seberapa aktif aksi eksplorasi Anda, ia akan mulai memamerkan diri sebagai protagonis yang mampu menjaga dirinya sendiri. Desain level dan puzzle yang ia usung juga tidak akan terus menguji kemampuan Anda mengatur inventory, yang bisa berujung menyebalkan untuk beberapa gamer.

