Leon – Sang Veteran

Maka seperti yang kami bicarakan sebelumnya, berbeda dengan Grace yang difokuskan pada sisi single-player, sesi Leon hadir dengan cita rasa lebih action yang sedikit mengingatkan Anda pada aksiinya di Resident Evil 4. Ini juga berarti Anda tidak akan dipusingkan dengan urusan management inventory mengingat Leon akan langsung datang membawa koper raksasa ikoniknya yang siap untuk membawa beberapa senjata sekaligus untuk mengatasi rangkaian ancaman yang ada.
Walaupun demikian, bukan berarti Anda akan melenggang begitu saja dengan semua persenjataan dan gerakan yang bisa dieksekusi Leon. Seperti yang bisa diprediksi, atas nama balancing, musuh dan ragam boss yang dihadapi oleh Leon akan jauh lebih kuat dan kompleks. Sebagian besar pertarungan boss dengan pendekatan lugas yang menuntut Anda untuk memuntahkan peluru sebanyak yang Anda bisa juga akan terjadi di Leon alih-alih Grace. Untuk sesi Grace, pertarungan boss seperti ini masih dibumbui dengan banyak elemen survival horror, dimana lari dan aksi mengeksekusi runtut solusi tertentu akan jadi kunci.
Bersama dengan tubuh yang lebih tua, Leon kini juga jauh lebih siap menghadapi ragam ancaman yang ada. Pertama-tama, ia kini langsung dipersenjatai dengan sebuah kapak kecil dengan sistem durabilitas yang bisa terus Anda perbaharui dengan batu asah yang juga sudah Anda siapkan. Sang kapak tidak hanya akan bisa diandalkan untuk sisi ofensif saja, tetapi juga untuk aksi parry yang bisa Anda eksekusi untuk hampir semua jenis musuh dan boss. Aksi parry ini biasanya akan membuka celah periode serang lebih aman sembari menihilkan potesni damage yang ada. Bahkan di beberapa pertarungan, ia akan sangat punya peran yang penting.


Kedua? Leon kini juga sudah cukup “cerdas” untuk lebih reaktif pada lingkungan yang ada untuk aksi takedown lebih mematikan. Jika Anda mengeksekusi aksi tembak kaki dan tendang khas Leon selama ini, kesempatan untuk menghabisi mereka setelahnya kini jauh lebih terbuka lebar. Eksekusi ini bisa terjadi dengan ekstra sabetan kapak di akhir atau sekadar menggunakan lingkungan sekitar, dari dinding hingga sisi meja untuk memastikan para zombie ini tidak lagi bisa bergerak. Situasi ini juga membuat Leon justru terasa lebih lincah di usianya yang kian menua terlepas dari situasi yang harus ia hadapi.
Terlepas dari fakta bahwa ia sudah lebih kuat daripada Grace, Capcom tetap menyuntikkan sistem penguatan untuk Leon dengan mekanisme yang tentu saja berbeda. Selain charm yang kini dipasangkan untuk menguatkan efek senjata tertentu, Leon kini juga didukung dengan teknologi yang memungkinkannya untuk mengakumulasikan sejenis poin dari ragam aksinya, yang kemudian bisa dialokasikan untuk berbelanja ragam hal dari senjata baru, armor, hingga item penyembuh. Lewat resource yang serupa ini pula, Anda juga bisa memperkuat ragam aspek dari senjata yang Anda miliki, termasuk menyuntikkan scope untuk aksi bidik lebih akurat.

Maka sisa perjalanan Anda sebagai Leon hanyalah memastikan Anda akan bisa bertahan hidup melawan ragam ancaman yang tentu lebih mematikan baik dari sisi kualitas ataupun kuantitas. Untungnya, seperti halnya Grace, Leon juga diperkuat dengan sistem crafting untuk menghasilkan ragam resource yang mungkin Anda butuhkan. Yang membedakannya? Ia tidak perlu sistem darah sebagai salah satu kombinasi material. Dan tentu saja tidak seperti Grace yang akan mengandalkan stealth dengan Hemolytic Injector-nya, fokus Leon adalah meracik lebih banyak granat, granat, dan granat.
50 – 50?

Dengan sistem dua protagonis yang ia usung, Resident Evil Requiem tentu berpotensi untuk bertemu dengan satu masalah pelik yang bisa mengacaukan keseluruhan pengalaman yang ada. Kita tentu tidak sekadar bicara soal seberapa seimbang waktu permainan antara Grace dan Leon saja tetapi juga seberapa “seimbang” kesenangan saat mencicipi keduanya?
Karena begitu salah satu gagal untuk menawarkan pengalaman yang sama menyenangkan atau sama menegangkannya, maka gamer akan berpotensi untuk membenci sesi tersebut. Bahwa alih-alih sebagai sesuatu yang mereka nikmati, sesi yang mereka benci tersebut akan dilihat sebagai “batu sandungan” yang mencegah mereka untuk menikmati porsi gameplay yang mereka inginkan. Situasi ini akan menghasilkan sebuah pengalaman gaming buruk yang sulit untuk dinikmati dan akhirnya mencederai keseluruhan video game. Kami sempat merasakan situasi ini di Bayonetta 3 dimana kami mencintai sesi Bayonetta namun membenci sesi Viola.
Berita baiknya? Kami menemukan bahwa Resident Evil Requim untungnya, tidak berhadapan dengan masalah tersebut. Sebagai gamer yang mencintai pengalaman survival horror Resident Evil 2 Remake dan pengalaman action di Resident Evil 4 Remake, yang dilakukan Capcom di sini hanyalah mengkombinasikan keduanya dan kemudan menambahkan lokasi dan musuh baru.
Namun di sisi lain, ini membuat Requiem memang terasa “aman” dari banyak sisi dan kurang terasa revolusioner. Hasilnya adalah sebuah pengalaman yang secara garis besar, terasa familiar jika Anda sempat mencicipi seri Resident Evil modern selama beberapa seri terakhir.


Kami juga dengan bahagia bisa melaporkan bahwa klaim distribusi gameplay cukup merata antara Grace dan Leon memang terbukti. Namun perlu Anda ingat pula bahwa terlepas dari fakta bahwa keduanya bergerak di dalam satu cerita yang sama, tidak semua wilayah yang Anda kunjungi akan berujung memuat rotasi kedua karakter ini.
Anda akan bertemu dengan wilayah dimana keduanya terpisah atau jikapun dalam sistem rotasi, waktu gameplay untuk Grace lebih panjang daripada milik Leon ataupun sebaliknya. Namun keduanya diperlakukan cukup berimbang dimana masing-masing dari mereka punya porsi permainan yang lebih panjang dibandingkan dengan yang lain, yang disesuaikan dengan area dan cerita yang tengah terjadi.
Fakta bahwa kedua karakter ini juga tidak berbagi sistem progress yang sama juga setdaknya menyederhanakan tugas Capcom untuk menawarkan sistem dua karakter seperti in. Leon tidak akan bisa berinteraksi dengan item milik Grace dan begitu sebaliknya jika mereka kebetulan beraksi di satu area yang sama.

