Review Romeo Is a Dead Man: Batas Tipis Gila dan Kreatif!

Review Romeo Is a Dead Man: Batas Tipis Gila dan Kreatif!

Author picture
Author picture

Sebagai sebuah industri kreatif, video game memang tidak kekurangan para kreator-kreator eksentrik dengan inspirasi yang mengundang banyak rasa penasaran. Tidak sedikit dari kreator tersebut datang dari Jepang, dengan beberapa di antaranya berhasil meraih nama besar dengan produk yang selalu ditunggu. Di antara para sosok eksentrik tersebu, hadir satu nama yang selalu punya ide gila dan tidak ragu untuk mengeksekusinya dengan apa yang ia visikan, seaneh apapun hal tersebut bisa berujung. Benar sekali, kita tengah bicara soal Suda51.

Ketika proyek teranyar bersama dengan Grasshopper Manufacture – Romeo is A Dead Man diperkenalkan ke publik, ia langsung mencuri perhatian karena ide trailer yang sebegitu anehnya, hingga tidak ada satupun gamer yang bisa memprediksi bahwa ia akan berujung jadi game action dengan sedikit elemen RPG di dalamnya. Dengan kian banyaknya informasi yang dibagi atas nama marketing mendekati jadwal rilis, Romeo is a Dead Man tetap berujung menyimpan cukup banyak misteri untuk mengundang rasa antisipasi tersendiri, apalagi dengan cerita yang hendak ia usung.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Romeo is a Dead Man ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game yang memiliki batas tipis antara gila dan kreatif? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Anda berperan sebagai Romeo Stargazer yang di ujung tanduk hiduipnya mendapatkan kekuatan baru yang mengubahnya menjadi Dead Man.

Seperti nama yang ia usung, Romeo is a Dead Man akan meminta Anda untuk berperan sebagai seorang pria bernama Romeo Stargazer yang nyaris tewas karena diserang oleh monster yang entah datang dari mana. Namun alih-alih meregang nyawa, Romeo justru mendapatkan suntikan teknologi baru yang memungkinkannya tetap hidup. Namun tidak lagi sekadar sebagai Romeo, tetapi juga entitas bernama Dead Man.

Dengan situasi unik yang ia miliki, Romeo pun direkrut oleh divisi perlindungan ruang dan waktu FBI. Misi Romeo? Mengejar para penjahat yang dianggap sudah menyalahi ketentuan ruang dan waktu untuk keuntungan pribadi mereka masing-masing. Untuk bisa menangkap dan menundukkan mereka, Romeo tentu harus melompat melewati waktu. Namun, proses investigasi ini membuka sebuah informasi baru yang tidak pernah ia prediksi sebelumnya.

Berbekalkan senjata bernama DeathBall, ia diminta oleh satuan tugas ruang dan waktu FBI untuk berburu para buronan yang bermain-main dengan elemen tersebut.
Di pusat dari kekacauan ini adalah sang gadis pujaan hati – Juliet yang ternyata bukan sekadar wanita sembarangan.

Wanita yang begitu ia cintai – Juliet yang sempat menghilang ternyata bukan wanita biasa. Juliet dipercaya merupakan entitas yang tidak banyak berbeda dengan buronan yang dikejar oleh Romeo, seseorang yang tidak hanya mampu melintasi ruang waktu saja, tetapi disinyalir merupakan penyebab di balik ragam anomalii yang ada. Perjalanan berburu Romeo pun kini melekat pada upaya untuk menemukan sosok Juliet yang ia kenal di tengah begitu banyak varian Juliet yang masing-masing menawarkan ancaman tersendiri.

Lantas, mampukah Romeo berujung menemukan versi Juliet yang ia cintai? Tantangan melintasi ruang waktu seperti apa yang harus ia hadapi? Bagaimana kisah ini akan berakhir? Anda tentu saja harus memainkan Romeo is a Dead Man untuk mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan ini.

Author picture
Editor in Chief
Pladidus sudah berkecimpung selama 14 tahun di industri media game Indonesia dan selalu bersemangat untuk merekomendasikan Suikoden II kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Next Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Level Up Your Gaming News!

Subscribe for the latest gaming news and updates.

Share this website