Review Romeo Is a Dead Man: Batas Tipis Gila dan Kreatif!
Page 2

Review Romeo Is a Dead Man: Batas Tipis Gila dan Kreatif!

Author picture
Author picture

Tanpa Kekang

Sisi presentasi visualnya memang masih meninggalkan kesan game AA yang kuat.

Pada dasarnya, Romeo is a Dead Man bisa didefinisikan sebagai game action third-person dengan sedikit elemen RPG di dalamnya. Maka seperti kebanyakan game modern saat ini, ia juga dibangun dengan visual 3D, namun tidak hingga pada kapasitas hingga kami akan menyebutnya memesona. Pada akhirnya, Anda akan merasa cita rasa game AA yang begitu kental dari sisi presentasi visual yang ia usung.

Maka seolah menjadi sebuah identitas Suda51 di begitu banyak proyek gamenya, Romeo is a Dead Man juga menjadikan darah sebagai “kosmetik” untuk nyaris semua skenario pertarungan Anda. Dengan proses mutilasi yang sayangnya sedikit kehilangan rasa brutalitasnya mengingat fakta bahwa semua monster yang Anda lawan memang berujung menjadi monster, darah akan jadi cairan yang akan dengan mudah Anda temui di sini, dalam beragam intensitas kucuran. Walaupun bisa berujung membuat pandangan sedikit terhambat saat bertarung, namun efek ini tidak pernah gagal membuat Anda merasa menjadi seorang pahlawan sekaligus pembunuh yang efektif.

Maka seperti tema yang ia usung, cerita juga akan membuat Anda melintasi beragam ruang dan waktu untuk menjalankan peran Anda sebagai anggota FBI. Namun sayangnya, game ini tidak mampu menghadirkan setting yang benar-benar menarik dan merefleksikan dengan tepat atmosfer waktu yang Anda tuju. Sebagian besar dari mereka didesain setengah hati dan berperan sekadar sebagai ruang bagi Romeo untuk beraksi dan melanjutkan cerita, itu saja. Hal yang sama juga terjadi di arsitektur yang berperan sebagai level, kebiasaan para zombie yang Anda tebas, para monster, hingga karakter NPC yang Anda temui. Waktu seolah hanya sekadar penguat sisi cerita tanpa diwakili dengan maksimal.

Darah adalah elemen penting dalam cerita dan gameplay Romeo is a Dead Man.
Efek yang dihasilkan ragam serangan dan mekanik bisa menimbulkan efek visual tumpang tindih yang membuat Anda sulit untuk menangkap informasi apa yang sedang terjadi.

Sedikit kritik juga pantas dilayangkan untuk kontras warna di beberapa area, khususnya dungeon di akhir-akhir cerita yang terlalu gelap, apalagi ketika Anda mengeksekusi serangan-serangan skill spesifik bernana “Bastards” yang akan kita bicarkan lebih jelas di sesi yang lain. Kombinasi warna ini menghasilkan arena yang sebegitu gelapnya hingga tidak jarang Anda seolah tengah bermain menjadi siluet Romeo saja. Efek serangan yang terlalu berlebihan untuk beberapa varian juga akan membuat Anda sulit menangkap informasi dengan cepat soal apa yang tengah terjadi, terutama soal animasi dan lokasi musuh.

Walaupun demikian, “tanpa batas” memang bukan kesan yang berlebihan saat membicarakan soal sisi presentasi Romeo is a Dead Man. Mengapa? Karena Suda51 benar-benar tidak ambil pusing dan membatasi kreativitasnya untuk menyampaikan cerita sci-fi yang ia kehendaki. Game ini memang mengusung visual dan model 3D di gameplay utama, lengkap dengan ekstra cut-scene atas nama bumbu dramatisasi yang ia usung. Namun begitu Anda masuk ke kapal induk yang juga berfungsi sebagai hub? Visual tiba-tiba berubah menjadi pixel-art yang punya daya tariknya tersendiri. Sederhana, namun menjalankan tugasnya dengan baik.

Game berubah visual menjadi pixel-art saat Anda mengeksplorasi sang kapal utama.

Sisi presentasi super unik ini juga akan Anda temukan di rangkaian UI yang diusung, dari sekadar save point, toko untuk berbelanja item, hingga sistem upgrade karakter yang menggunakan mekanik mirip Pac-Man. Ada kesan retro-futuristic yang kuat di sana, dimana kesan analog yang kuat berbaur dengan visual yang mengingatkan Anda pada generasi konsol yang bahkan lebih tua dibandingkan NES sekalipun. Untungnya, kreaitivitas desain UI yang menjadi identitas Romeo is a Dead Man tidak serta merta diaplikasikan di menu utama nan esensial dimana Anda bisa mengatur equipment hingga aksesoris. Setidaknya Suda51 masih memahami bahwa untuk area sepenting ini, estetika tidak jadi fokus melainkan kejelasan informasi.

Namun setidaknya, apresiasi pantas untuk dilayangkan untuk sisi audio, terutama untuk ragam OST yang ditawarkan oleh Romeo is a Dead Man ini. Ia mengandalkan ragam musik rap Jepang untuk membangun atmosfer yang seru sekaligus membangun identitas yang semakin kuat di luar sisi visualnya yang sudah terhitung “absurd”. Sisi cerita juga didukung dengan sisi voice acting yang menjalankannya tugasnya dengan cukup baik.

Aksi Setengah Jadi

Potensi yang tidak tergarap maksimal adalah kesan yang kami dapatkan dari game racikan Suda51 ini.

Seperti yang kami bicarakan sebelumnya, Romeo is a Dead Man pada dasarnya adalah sebuah game action third-person yang menawarkan konsep pertarungan melee dan range dengan pondasi konsep yang sederhana. Kita tidak tengah berbicara soal game sekelas Devil May Cry yang diisi dengan animasi penuh gaya atau sesuatu yang sayangnya, sedalam Sekiro yang datang dengan aksi parry memuaskan. Yang Anda temukan dengan game ini adalah sebuah game action standar yang sekadar didesain untuk mendorong cerita saja.

Romeo akan selalu dibekali dengan senjata melee dan range yang bisa Anda gonta-ganti dengan mudah layaknya game action pada umumnya. Akan ada setidaknya 4 varian untuk masing-masing jenis senjata yang bisa Anda beli dengan resource yang Anda dapatkan dari membunuh rangkaian musuh atau sekadar mengoleksinya dari level yang ada. Senjata melee hadir dengan pendekatan klise dimana opsi pedang raksasa yang lambat namun menawarkan damage besar misalnya, tersedia. Sementara untuk senjata range? Pendekatannya serupa, dimana selain pistol, varian yang menyerupai SMG hingga RPG tersedia untuk digunakan.

Kombinasi serangan normal dan kuat untuk melee dan juga range akan menjadi pondasi gameplay action yang Anda temui di Romeo is a Dead Man ini. Tentu saja, Anda juga akan menemukan rangkaian angka-angka damage yang bertebaran untuk menunjukkan seberapa kehancuran yang tengah Anda picu, yang angkanya tentu akan bertambah seiring dengan menguatnya Romeo. Untuk setiap serangan yang ia hasilkan, Romeo juga akan otomatis memicu dan mengumpulkan darah-darah yang mengucur dari musuh.

Romeo akan dibekali dengan serangan normal dan range untuk mengatasi ragam musuh yang ada.
Serangan spesial bernama Bloody Summer akan bisa diakses untuk ragam fungsi dengan yang utama – memulihkan Romeo.

Ketika jumlah darah ini cukup, yang ditandai dengan UI tabung kecil di bagian kiri layar yang jelas, Anda bisa mengakses serangan spesial bernama Bloody Summer yang juga punya animasi khusus untuk masing-masing senjata, melee ataupun range. Setiap kali ia dieksekusi, Bloody Summer akan menghasilkan setidaknya tiga efek secara bersamaan: menawarkan invisible frame untuk serangan musuh apapun, memulihkan darah, dan juga memicu efek stagger yang cukup untuk membatalkan apapun yang tengah dilakukan oleh musuh. Anda bisa mengaksesnya kapan saja Anda inginkan, atas nama sekadar serangan atau menyimpannya untuk mengeksekusi strategi tertentu.

Untungnya, pertarungan di Romeo is a Dead Man tidak bisa dibilang sulit. Dengan cerita utama yang tidak membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan, varian musuh yang Anda hadapi juga bisa dibilang terbatas. Oleh karena itu, tidak sulit untuk mengenal dan menghafal apa saja yang bisa dilakukan musuh-musuh ini, termasuk boss dan mini-boss sekalipun, untuk menghabisi mereka dengan cepat dan mudah. Apalagi beberapa varian musuh juga memamerkan titik lemah mereka dengan jelas, yang bisa dihabisi dengan serangan range selama Anda bisa mengeksekusinya dengan tepat.

Masalah terbesar dari Romeo is a Dead Man dan membuatnya sulit adalah hal remeh-temeh yang seringkali membuat Anda merasa bahwa kematian dan kekalahan yang harus Anda lalui tidak datang dari Anda, melainkan desain yang menyebalkan. Kita bicara soal sistem kamera yang jelas tidak bisa mengakomodasi dengan baik pertarungan monster dengan ukuran besar, serangan dari musuh yang sulit terlihat baik karena pilihan efek hingga warna, atau sekadar komposisi musuh yang memang terasa tidak seimbang.

Kelemahan terbesarnya? Bahwa untuk alasan yang tidak bisa dirasionalisasi, di tengah era game action modern saat ini, Romeo is a Dead Man sama sekali tidak menyuntikkan opsi guard ataupun parry. Padahal sangat jelas dan tidak butuh kecerdasan tinggi untuk memahami bahwa dari desain pondasi sistem gameplay yang ia usung dan dari animasi serangan musuh yang ia hadapi, game ini akan jauh lebih menyenangkan dan seru jika ia memuat konsep parry di dalamnya. Absennya kemampuan untuk melakukan aksi pertahanan ini juga terkadang memosisikan Anda di situasi yang sulit, terlepas dari jumlah item penyembuh yang cukup banyak.

Bayangkan game dengan desain pedang sekeren ini berujung tidak memiliki sistem parry sama sekali.
Sistem level-up ditempuh dengan gameplay ala Pac-Man.

Maka sisa petualangan Anda yang lain akan berfokus pada ekstra sistem penguatan Romeo yang lain. Anda bisa mengumpulkan serangkian pin yang berfungsi layaknya aksesoris di game RPG dimana masing-masing darinya akan menawarkan efek buff yang cukup signifikan untuk memfasilitasi gaya bermain berbeda Anda. Anda juga akan memiliki sebuah sistem level-up ala Pac-Man dimana menggunakan resource tertentu sebagai bahan bakar, Anda bisa menggerakkan sejenis kapal terbang untuk mengumpulkan beragam power-up melewati sebuah labirin untuk memperkuat beragam aspek milik Romeo. Tentu saja, tidak ketinggalan, ada sistem upgrade senjata dengan resource yang akan menawarkan ekstra motivasi untuk mengunjungi dungeon yang ada.

Romeo juga akan dipersenjatai dengan para companion “zombie” yang bisa disederhanakan bak tanaman yang butuh proses tanam hingga kawin silang untuk dimunculkan. Konsep bernama Bastards ini tampil bak skill aktif yang bisa dibongkar pasang dengan efeknya masing-masing. Dengan sistem berbasis cooldown, masing-masing Bastards ini akan menawarkan efek khusus yang terkadang bahkan bisa dikombinasikan untuk strategi tertentu. Sebagai contoh? Anda bisa memanggil Bastards yang fungsinya bak blackhole untuk mengumpulkan musuh, lalu menjatuhkan Bastards yang mampu melambatkan pergerakan musuh dalam lingkup AOE, dan kemudian menjatuhkan Bastards yang bisa menyerap darah AOE untuk membuat “amunisi” serangan Bloody Summer Anda tersedia secara terus-menerus misalnya.

Para zombie yang disebut sebagai “Bastards” yang notabene membutuhkan aksi tanam ini akan berperan bak skill aktif yang bisa Anda akses berbasis cooldown.

Namun harus diakui dari sekadar sisi gameplay yang diusung, Romeo is a Dead Man adalah sebuah game action yang bisa dibilang “standar”. Ia seolah melewatkan banyak kesempatan untuk benar-benar tampil bersinar di sisi ini dan lebih memilih untuk menghadirkan sesuatu yang terlalu biasa. Tidak buruk memang, namun ia juga tidak bisa dibilang istimewa.

Author picture
Editor in Chief
Pladidus sudah berkecimpung selama 14 tahun di industri media game Indonesia dan selalu bersemangat untuk merekomendasikan Suikoden II kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Next Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Level Up Your Gaming News!

Subscribe for the latest gaming news and updates.

Share this website