Review Romeo Is a Dead Man: Batas Tipis Gila dan Kreatif!
Page 3

Review Romeo Is a Dead Man: Batas Tipis Gila dan Kreatif!

Author picture
Author picture

Sekadar Gila atau Sebenarnya Dalam?

Ada misi sampingan dating sim yang menuntut Anda menjawab 99 pertanyaan berturut-turut tanpa boleh sekalipun melakukan kesalahan.

Kelemahan yang kita bicarakan dari sisi gameplay ini juga sayangnya terpotret dari struktur pergerakan cerita yang dibangun dengan metode yang sama dari satu chapter ke chapter lainnya. Memang ada sedikit upaya diversifikasi seperti desain salah satu chapter yang berusaha menawarkan sedikit konsep survival horror dimana alih-alih bertarung, porsi pertama permainan Anda difokuskan untuk bersembunyi dan menghindari dari monster yang tengah berpatroli. Namun kehadiran variasi ini bisa dibilang minim. Hampir sebagian besar petualangan Anda bergerak pada satu pola yang sama.

Pola tersebut hanya bersikar pada sekuens berikut: Romeo tiba di satu tempat, mengetahui bahwa lokasi yang ia tuju ternyata lebih kompleks dari yang ia bayangkan, melewati sedikit puzzle eksplorasi yang meminta Anda keluar masuk antara area sub-space dan dunia nyata yang secara mengejutkan cukup linear, mengambil kunci, membuka gerbang melawan boss, menang, kembali ke kapal induk untuk sedikit briefing dan ekstra cerita, dan masuk ke chapter yang baru untuk mengulang hal yang sama. Di tengah dari proses ini, ada sedikit aksi mengendarai kapal dengan minim kontrol yang hanya memungkinkan Anda untuk bergerak lurus sembari mengumpulkan material di sekitar.

Walaupun Romeo is a Dead Man tidak bisa dibilang benar-benar luar biasa sebagai game action, namun sebagai sebuah produk kreatif, Suda51 sebenarnya memperlihatkan begitu banyak sentuhannya dengan daya tarik yang tidak mungkin ditawarkan oleh developer lain, terlepas dari apakah ia sengaja didesain untuk memancing emosi atau tidak.

Salah satu favorit kami? Game dating sim di dalam hub kapal yang menuntut Anda untuk menjawab pertanyaan sang gadis selama 99 kali berturut-turut secara benar. Melakukan kesalahan satu kali saja? Anda harus mengulangnya dari awal kembali sembari menebak kira-kira opsi jawaban mana yang benar ketika berhadapan dengan pertanyaan baru. Kami berujung menyelesaikan sesi ini menggunakan kunci jawaban dari situs gaming lain. Tidak terbayang seberapa kerasnya perjuangan untuk terus melakukan trial dan error sembari menghafal setiap jawaban benar tanpa guide yang kami yakin bisa menuntut waktu penyelesaian hingga berjam-jam lamanya.

Namun dengan semua keunikan dan kegilaan, ada satu hal besar yang bisa kami kesampingkan begitu saja selama memainkan Romeo is a Dead Man. Pertanyaan sesederhana: apakah Suda51 sekadar gila atau punya pesan yang lebih mendalam dengan game action penuh darah ini.

Apakah ini sebenarnya kritik terselubung pada birokrasi yang menolak mati bahkan ketika semesta terancam?
Apakah kisah cinta kedua sejoli ini semata-mata hanya simbolisasi?

Karena ada beberapa hal kecil yang membuat Anda merasa bahwa game action ini lebih dari sekadar wujud ekspresi gila tanpa makna. Sebagai contoh? Soal ritme kerja unit ruang dan waktu FBI dimana Anda bernuang misalnya. Fakta bahwa Romeo masih disibukkan dengan beragam hal tetek bengek terkait laporan dan dokumentasi sembari melewati berbelitnya proses birokrasi yang ada di tengah potensi kehancuran semesta membuat Anda bertanya-tanya apakah ini adalah kritik soal pola kerja di banyak organisasi pemerintahan di dunia, terutama di Jepang sekalipun.

Konteks cerita yang lebih serius juga terpancar dari setiap buronan yang dikejar oleh Romeo yang masing-masing jelas mewakili sesuatu yang begitu jahat dan berbahaya, yang sayangnya, juga merefleksikan apa yang masih kita temui di dunia nyata. Ada tema soal rasa superioritas berbasis ras yang tentu saja terikat kuat pada rasisme hingga kepercayaan buta pada sistem keyakinan yang bisa berujung menimbulkan masalah yang pelik. Semuanya dibungkus dengan pendekatan aneh nan eksentrik Suda51.

Bahkan Anda juga akan bertanya-tanya soal hubungan antara Romeo dan Juliet yang begitu kompleks namun juga dieksplorasi cukup dalam dari satu chapter ke chapter. Apakah keduanya memang dikisahkan lugas, bahwa ini adalah soal karakter supehero penembus ruang waktu yang memang hendak mencari wanita pujaannya yang kebetulan juga entitas paranormal yang kuat? Atau ini semua hanya simbolisasi untuk hubungan antara dua manusia dewasa? Untuk urusan itu, Anda yang harus menentukan sendiri.

Kesimpulan

Jika yang Anda kejar adalah sebuah pengalaman bermain menyegarkan, unik, dan aneh, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk tidak terjun ke dalam kisah cinta melintasi ruang dan waktu ini. Namun jika yang Anda kejar adalah sensasi pertarungan melee yang memuaskan dan intens? Sayangnya, Romeo is a Dead Man bukan game yang Anda cari saat ini.

Romeo is a Dead Man adalah sebuah game berbeda, ini adalah pujian tertinggi yang bisa kami berikan untuk proyek yang berhasil mencerminkan kembali betapa eksentriknya seorang Suda51. Dari sisi presentasi, dari bagaimana mereka mendesain cerita, gaya bercerita dengan pendekatan komik yang keren, perubahan visual menjadi pixel-art di beberapa titik, hingga lagu rap Jepang absurd yang menemani, jelas bahwa game action penuh darah ini  memang “istimewa”. Ini adalah game yang jelas merefleksikan sebuah energi kreatif besar tanpa batas yang benar-benar tidak ambil banyak pusing soal persepsi apa yang gamer lihat sebagai “normal”. Sebuah game antara ambang batas gila dan kreatif yang kami sambut dengan apreseiasi yang tinggi.

Namun di sisi lain, seiring dengan lamanya waktu bermain, sulit untuk mengabaikan mimpi dan harapan untuk membayangkan sebuah versi Romeo is a Dead Man yang lebih memerhatikan sisi gameplay yang ia usung. Sebuah game Romeo is a Dead Man yang menawarkan konsep parry yang renyah untuk keseruan ekstra, sebuah game Romeo is a Dead Man yang menawarkan stuktur cerita yang lebih beragam daripada sekuens yang repetitif, hingga Romeo is a Dead Man yang berani untuk mengeksplorasi lebih dari sekadar sebuah desain dunia yang linear. Ia terbentuk menjadi sebuah game potensial yang tidak terealisasi penuh rasanya.

Apakah kami merekomendasikan Romeo is a Dead Man ini? Jika yang Anda kejar adalah sebuah pengalaman bermain menyegarkan, unik, dan aneh, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk tidak terjun ke dalam kisah cinta melintasi ruang dan waktu ini. Namun jika yang Anda kejar adalah sensasi pertarungan melee yang memuaskan dan intens? Sayangnya, Romeo is a Dead Man bukan game yang Anda cari saat ini.

Kelebihan

Tanpa bisa dirasionalisasi sama sekali, ada titik dimana Romeo is a Dead Man tiba-tiba memamerkan pertarungan mecha ala Gundam.
  • Desain Romeo sebagai Dead Man yang keren
  • Presentasi cerita via komik yang asyik
  • Hadir dengan banyak sistem dan mekanik unik
  • OST yang secara mengejutkan terasa cocok
  • Sistem progression dan penguatan karakter hadir sederhana
  • Konten-konten tambahan yang “gila”
  • Kreativitas yang jelas tidak dikekang

Kekurangan

Sangat disayangkan game dengan sistem melee seperti ini tidak mengusung mekanik parry.
  • Sistem bertarung melee kurang dalam, tanpa sistem parry
  • Varian musuh sangat terbatas
  • Masalah kamera masih terjadi saat bertarung melawan monster berukuran besar
  • Pemilihan warna hingga kontras membuat beberapa hal sulit dicerna cepat dan terlihat buruk
  • Mudah terasa repetitif karena struktur cerita

Direkomendasikan untuk gamer: yang mencintai game-game Suda51, yang menyenangi game dengan pendekatan super unik terutama dari sisi presentasi

Tidak direkomendasikan untuk gamer: yang menginginkan game action melee yang renyah, yang mencintai game dengan pendekatan cerita yang lebih sederhana dan lugas

Author picture
Editor in Chief
Pladidus sudah berkecimpung selama 14 tahun di industri media game Indonesia dan selalu bersemangat untuk merekomendasikan Suikoden II kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Next Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Level Up Your Gaming News!

Subscribe for the latest gaming news and updates.

Share this website