
Selama beberapa tahun terakhir, kinerja yang dipamerkan Ubisoft sebagai salah satu perusahaan video game terbesar di dunia memang tidak bisa dibilang memesona. Beberapa judul yang seharusnya jadi ujung tombak keuntungan seperti Star Wars Outlaws dan Avatar: Frontiers of Pandora misalnya, justru memperlihatkan performa yang jauh di bawah ekspektasi. Upaya restrukturisasi pun dimulai dengan dibentuknya Vantage Studios yang ternyata menjadi awal dari sebuah strategi yang akan diaplikasikan lebih luas. Sayangnya, ia juga membuat beberapa proyek game dibatalkan, temasuk Prince of Persia: The Sands of Time Remake.
Ubisoft baru saja mengumumkan proses restrukturisasi dan reorganisasi besar-besaran yang juga akan diikuti dengan konsekuensi negatif tidak terhindarkan seperti aksi PHK massal, penutupan studio, dan pembatalan video game.
Belum ada informasi jelas soal studio apa saja yang akan ditutup setelah studio Halifax dan Stockholm yang belum lama ini terdampak atau berapa banyak jumlah karyawan yang akan dirumahkan. Satu yang pasti, proses ini dipastikan Ubisoff membuat mereka harus membatalkan 6 proyek video game yang saat ini tengah dikerjakan, termasuk Prince of Persia: The Sands of Time Remake di dalamnya. Salah satu dari keenam game tersebut juga dipastikan adalah game mobile yang disebut Ubisoft memang tidak memenuhi standar kualitas mereka.

Proses restrukturisasi Ubisoft akan mengaplikasikan konsep serupa ala Vantage Studios ke lebih banyak anak perusahaan yang mereka sebut sebagai “Creative Houses” yang masing-masing akan difokuskan pada spesialisasi genre mereka sendiri-sendiri. Ada 5 Creative Houses yang direncanakan saat ini dengan masing-masing juga akan bertanggung jawab pada finansial dan performa ekonomi mereka sendiri. Mereka adalah:
- Creative House 1 (Vantage Studios): bertanggung jawab untuk memperluas franchise terbesar dan tersukses Ubisoft dengan target menjadikannya sebagai judul yang mampu menghasilkan pendapatan miliaran USD per tahun. Ia akan membawahi: Assassin’s Creed, Far Cry, Rainbow Six.
- Creative House 2: akan difokuskan untuk pengalaman game shooter kompetitif dan kooperatif. Ia akan membawahi: The Division, Ghost Recon, Splinter Cell.
- Creative House 3: akan menangani game-game live-service tertentu. Ia akan menangani: For Honor, The Crew, Riders Republic, Brawlhall, Skull & Bones.
- Creative House 4: difokuskan pada game-game dengan dunia fantasi yang imersif dan narrative-driven. Ia akan membawahi: Anno, Might & Magic, Rayman, Prince of Persia, Beyond Good & Evil.
- Creative House 5: difokuskan untuk merebut kembali posisi Ubisoft di pasar game kasual dan family-friendly. Ia akan membawahi: Just Dance, Idle Miner Tycoon, Ketchapp, Hungry Shark, Invinicble: Guarding the Globe, Uno, Hasbro.
Ubisoft memastikan bahwa mereka saat ini masih punya setidaknya 7 buah game yang masih dikerjakan. Atas nama untuk meningkatkan kualitas setiap produk ini, masing-masing game ini akan diberi ekstra waktu pengembangan. Game-game yang sempat direncanakan akan rilis di tahun fiskal 2026 resmi ditendang ke tahun fiskal 2027 mendatang.
Ubisoft juga memastikan bahwa mereka juga tengah meracik setidaknya 4 buah IP baru termasuk “March of Giants” yang baru mereka beli dari Amazon. Pengumuman soal game-game apa saja ini dan di Creative House mana saja ia akan mendarat akan diumumkan di kemudian hari.
Ubisoft menyebut bahwa langkah restrukturisasi besar-besaran ini esensial untuk membangun sebuah organisasi yang memiliki fokus, efisiensi, dan mampu bertahan untuk jangka waktu panjang.
Bagaimana menurut Anda?

