
Dominasi adalah kata yang tepat untuk menggambarkan popularitas Valve sebagai paltform game digital PC terbesar di dunia saat ini. Terlepas dari persaingan yang beusaha ditawarkan oleh begitu banyak perusahaan besar dengan strategi mereka masing-masing, Valve bergeming. Ia tidak hanya tetap jadi platform belanja andalan gamer, tetapi juga platform jualan andalan para developer. Terlepas dari ramainya persaingan yang ada, Steam tetap jadi platform yang efektif.
Setidaknya hal tersebutlah yang dipamerkan oleh Valve dalam sesi presentasi mereka di Game Developer Conference (GDC) 2026. Adalah Communications Lead – KAci Aitchison Boyle dan Tom Giardino yang berbagi data super menarik.
Valve menyebut bahwa di tahun 2025 kemarin, hampir 6.000 game atau tepatnya sekitar – 5.863 game berhasil meraih pendapatan lebih dari USD 100.000 atau sekitar 1,6 miliar Rupiah. Sebagai perbandingan, di tahun 2020, hanya sekitar 3.000 game saja yang mampu menyentuh milestone menggiurkan ini.
Valve says more titles are finding success on Steam than ever before, despite concerns of over-saturation on the storefront.
— Chris Kerr ➡️ GDC (@kerrblimey.bsky.social) 2026-03-10T23:40:34.805Z
Lewat data ini. Valve ingin membuktikan bahwa terlepas dari semakin banyaknya jumlah game yang dirilis via Steam, ia tidak mengalami saturasi pasar. Bahwa Valve berhasil memastikan game yang tepat dipromosikan ke gamer yang tepat pula. Sebagai bukti lain? Valve menyebut bahwa hampir 1.500 game masuk ke dalam Daily Deal tahun lalu dengan setidaknya 8,2 juta user membeli satu di antaranya.
Di kesempatan yang sama, Valve juga berbagi data peta dunia soal dari mana saja pengguna aktif mereka tercatat. Seperti yang bisa diprediksi, jangkauannya memang sudah mendunia.
Valve juga sempat berbagi data bagaimana gamer-game Steam sudah mengunduh total data video game sebesar 100 exabytes di tahun 2025 kemarin dengan rata-rata 274 petabyte game diunduh dan di-update tiap harinya.
Dengan popularitas yang tidak memperlihatkan tanda-tanda akan meredup, bukan tidak mungkin bahwa akan ada lebih banyak game di masa depan yang siap untuk memanfaatkan Steam sebagai ujung tombak, apalagi dengan kemudahan yang ditawarkan teknologi sekelas AI.
Bagaimana dengan Anda? Termasuk gamer yang masih secara aktif menggunakan Steam saat ini?

