
AI, AI dan AI. Jargon yang satu ini memang tengah mendominasi sebagian besar diskusi teknologi saat ini, bahkan ketika kita bicara soal industri game sekalipun. Walaupun implementasinya sejauh ini belum terlihat mampu menyelesaikan masalah-masalah besar umat manusia, namun ia jadi teknologi yang dikejar banyak perusahaan besar dengan tanpa ragu mengorbankan tenaga kerja manusia di dalamnya. Salah satu ujung tombak teknologi ini? NVIDIA.
Terlepas dari asosiasinya yang masihj kuat di industri game sebagai salah satu penyedia kartu grafis / GPU andalan, terutama saat kita bicara soal eksositem PC, pondasi dan akar bisnis utama NVIDIA secara keseluruhan memang sudah berbeda. Mereka kini mendulang lebih banyak uang dari aksi menyediaka komponen dan infrastruktur AI.
Situasi ini pada akhirnya melahirkan sebuah konsekuensi yang tidak terhindarkan. Dalam laporan finansial mereka yang luar biasa, dimana mereka berhasil menjual hardware dengan nilai lebih dari 81,6 miliar USD dalam satu kuartal, NVIDIA akhirnya resmi “membuang’ kategori gaming begitu saja.

Benar sekali, mereka kini bahkan tidak lagi ambil pusing untuk melaporkan berapa banyak GPU gaming yang berhasil mereka jual di kuartal ini. NVIDIA kini mendesain laporan finansial mereka dengan hanya dua kategori besar saja: Data Center dan Edge Computing.
Kategori terpisah “gaming” di masa lau kini dilebur ke dalam kategori Edge Computing yang juga melibatkan penjualan di sektor robotic, workstation, otomotif, konsol gaming, infrastruktur telekomunikasi, dan tentu saja – PC. Terlepas dari kombinasi begitu banyak industri di kategori ini, angkanya tetap kalah jauh dibandingkan dengan nilai jualan NVIDIA untuk data center dan AI.
Keputusan untuk tidak lagi secara spesifik untuk menyebut gaming terlepas GPU RTX dan GTX mereka yang masih jadi andalan tentu saja bisa dilihat sebagai sebuah sinyal kuat bahwa arah dan fokus bisnis NVIDIA memang sudah berubah.
Bagaimana menurut Anda soal situasi ini?

