
Pajak adalah sebuah kewajiban yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga negara hampir di setiap negara yang eksis saat ini. Ia bahkan seringkali dilihat sebagai pondasi pundi uang yang dibutuhkan negara untuk terus bekerja dan berjalan. Namun di beberapa negara, atas nama untuk membuat aksi mengeluarkan uang ekstra dari dompet Anda ini tidak terasa begitu memberatkan, mereka membungkusnya dengan ekstra reward yang mungkin terlihat kecil namun akan terasa penting untuk kelompok masyarakat yang lain. Hal inilah yang baru dilakukan Final Fantasy XIV di Jepang.
Seperti yang kita tahu, Jepang punya sistem yang disebut sebagai “Furusato Nozei” dimana alih-alih keseluruhan pajak akan dibayarkan ke pemerintah pusat, setiap wajib pajak akan punya kebebasan untuk mengalokasikan sebagian darinya untuk mendukung kota dan distrik tertentu. Situasi inilah yang kemudian mendorong ragam distrik biasanya menawarkan sistem reward mereka sendiri untuk mendorong kontribusi lebih besar dari para pembayar pajak.
Hal inilah yang dilakukan oleh distrik Shibuya di tahun 2026 ini. Setelah sempat bekerjasama dengan game seperti Monster Strike di masa lalu, mereka kini bekerja sama dengan Square Enix dengan menggandeng game MMORPG andalan mereka – Final Fantasy XIV.

Gamer-gamer Final Fantasy XIV yang memutuskan untuk menyalurkan kontribusi pajak mereka ke distrik ini akan langsung mendapatkan ragam item menggoda. Mereka memberikan 5 buah Phials of Fantasia (item untuk mengubah penampilan karakter), set kostum Collegiate Attire (slack dan skirt), attier Magitek, 4 buah emote tari, dan sebuah mount bernama Magashiba yang didasarkan pada patung Hachiko di stasiun Shibuya. Iika diakumulasi, total semua item ini bernilai sekitar USD 88 atau 1,5 juta Rupiah.
Yang menarik? Square Enix sendiri tidak menempatkan kantor mereka di Shibuya, distrik kolaborasi ini. Namun mereka mengaku bahwa langkah ini tetap esensial untuk mendekatkan diri ke komunitas lokal sembari memaksimalkan keunikan karakteristik Shibuya sebagai sebuah distrik.
Bagaimana menurut Anda? Apakah langkah serupa bisa diterapkan di Indonesia untuk menggenjot penerimaan dari sektor pajak?

