Review Ghost of Yotei – Echoes of Sekigahara: Ini Soal Aksi, Ini Juga Soal Hati!

Review Ghost of Yotei – Echoes of Sekigahara: Ini Soal Aksi, Ini Juga Soal Hati!

Author picture
Author picture

Tidak sekadar apresiasi, apa yang berhasil dicapai Sucker Punch dengan Ghost of Tsushima memang sesuatu yang pantas untuk dirayakan. Kesuksesan tersebut terus berlanjut ke seri terbaru – Ghost of Yotei yang tidak hanya sama indahnya, tetapi juga membawa perspektif cerita personal yang berkutat pada aksi balas dendam. Dengan gameplay pertarungan pedang memuaskan yang kini juga dibumbui dengan alternatif senjata dan tidak lagi sekadar gaya bermain katana, Ghost of Yotei langsung menempatkan diri sebagai salah satu game eksklusif terbaik Playstation 5 saat ini.

Namun seolah tidak ingin mengakhiri perjalanan Atsu begitu saja sekaligus menggoda gamer-gamer Playstation 5 yang mungkin masih ragu untuk terjun menikmati megahnya latar gunung Yotei di Ezo Sony dan Sucker Punch memperkenalkan Ghost of Yotei: Complete Edition. Complete Edition ini mengacu pada penambahkan sebuah skenario ekstra – Echoes of Sekigahara yang akan membawa kita ke masa lalu Atsu dan sebuah mode roguelike bernama Most Wanted yang difokuskan pada sisi aksi.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Ghost of Yotei: Complete Edition ini, terutama di expansion cerita – Echoes of Sekigahara? Mengapa kami menyebutnya sebagai expansion yang melebur soal hati dan aksi? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Semua screenshots yang kami pasang di artikel review ini diambil dari versi Playstation 5 Pro, dengan PSSR Enhanced aktif, dan mode grafis di “Ray Tracing Pro”.

Memotong Kepala Ular

Ghost of Yotei: Echoes of Sekigahara membawa Atsu pada usaha membersihkan sisa kelompok The Snake yang juga ternyata juga melibatkan seorang karakter penting dari kisah masa lalunya – Nagato.

Sebagai sebuah expansion yang terikat pada game dasarnya, Echoes of Sekigahara tentu saja akan mengusung cerita yang terikat pada perjalanan Atsu di Ghost of Yotei versi dasar. Jika kita berbicara soal timeline, ia terjadi sebelum Atsu berhadapan dengan sang musuh abadi – Saito.

Semuanya dimulai dari papan Bounty yang ternyata memuat hadiah uang untuk sosok yang tidak pernah terbayar oleh Atsu akan hadir kembali di hidupnya. Ia adalah Nagato, seorang companion yang sempat menemaninya bertarung di Battle of Sekigahara.

Seperti yang bisa diprediksi, persinggungan keduanya melahirkan sebuah petualangan baru yang tidak hanya berkutat pada usaha untuk mencari harta karun Saito, tetapi juga “menjebak” keduanya pada konflik internal klan milik The Snake yang sudah dibunuh Atsu di awal permainan. Kekosongan kepemimpinan ini membuat para anggota klan lainnya yang merasa pantas untuk menggantikan posisi The Snake kemudian bermunculan dan membuat onar. Kelompok ini kemudian menamai diri mereka sendiri “The Vipers”.

Walaupun punya motivasi berbeda, keduanya “terjebak” dalam konflik internal Vipers yang ingin mencari pengganti yang pantas untuk menjadi “The Snake” selanjutnya.

Petualangan tersebut akan membawa Anda ke sebuah lokasi baru bernama Ashoro Foothills yang seperti di versi dasarnya, juga ditawarkan sebagai sebuah lokasi terbuka dengan pemandangan yang indah.

Sucker Punch sepertinya sudah sangat menguasai apa yang perlu mereka lakukan untuk meracik sebuah dunia dramatis yang akan membuat mata Anda tetap termanjakan di setiap sudut. Hal tersebutlah yang tetap berhasil mereka eksekusi dengan Ashoro Foothills yang juga dikelilingi dengan gunung-gunung besar di sekitarnya. Sisa kekacauan yang dihasilkan oleh para Vipers melebur bersama dengan landscape yang akan membuat aksi berkuda Anda tidak pernah membosankan.

Di dalamnya, seperti sang game versi dasarnya, juga bergelimang ragam aktivitas sampingan untuk Anda selesaikan. Akan ada Shrine yang bisa Anda kunjungi untuk tambahan charm baru dan points skill untuk didistribuisikan ke cabang yang baru, ada juga penduduk kelaparan dengan gudang makanan yang dikuasai oleh para Vipers menunggu untuk Anda selamatkan, dan tentu saja – ragam bounty dengan isi karakter absurd yang menarik. Untuk urusan terakhir ini, Echoes of Sekigahara juga akan menawarkan satu bounty yang siap untuk menguji seberapa tangguh dan sabar Anda dengan level nyaris, mirip Takezo di game versi dasarnya.

Tidak ada keraguan sama sekali bahwa Sucker Punch terbilang sudah “menguasai” cara desain dunia yang dramatis dan memanjakan mata di saat yang sama.
Sayangnya, porsi pertempuran Sekigahara hadir linear tanpa kebebasan eksplorasi, yang memang didesain semata-mata untuk mendukung cerita yang hendak disajikan.

Sayangnya, untuk sesi flashback cerita Atsu dan Nagato saat beraksi di Battle of Sekigahara, hampir kesemua porsi cerita tersebut disajikan dalam format yang benar-benar linear. Tidak ada dunia besar yang bisa Anda eksplorasi bebas dan sejenisnya, dimana jelas bahwa desainnya memang dirancang khusus untuk sekadar membangun atmosfer dan cerita semata.

New Takezo?
Ia tetap diisi dengan OST baru yang siap menggetarkan hati dan emosi Anda.

Bagian terbaiknya? Selain voice acting untuk bahasa Jepang yang sekali lagi memesona, terutama untuk Atsu dan Nagato, Echoes of Sekigahara juga tetap berhasil menyuntikkan beberapa OST keren yang salah satu di antaranya kami yakin, akan sukses menyayat hati Anda. Semuanya dipadukan dengan peleburan scene yang kian memperkuat atmosfer dan emosi yang tengah berusaha mereka bangun.

Author picture
Editor in Chief
Pladidus sudah berkecimpung selama 14 tahun di industri media game Indonesia dan selalu bersemangat untuk merekomendasikan Suikoden II kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Previous Post

Next Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Level Up Your Gaming News!

Subscribe for the latest gaming news and updates.

Share this website