Ini Soal Aksi

Sebagai sebuah expansion, Echoes of Sekigahara sebenarnya tidak menawarkan sebuah perubahan yang signifikan dari sisi gameplay. Ini masih Ghost of Yotei yang Anda kenal, dimana sistem varian senjata menjadi jawaban untuk menundukkan musuh dengan senjata spesifik – seperti konsep gunting, batu, kertas yang dibungkus mewah. Anda yang sudah menyelesaikan progress karakter Atsu sampai mentok di versi dasar mungkin akan merasa sedikit terlalu over-powered walaupun harus diaku, ada upaya untuk dari Sucker Punch untuk membuat para Vipers ini sedikit lebih menyebalkan.
Upaya tersebut dieksekusi lewat dua mekanik yang kini menemani kelompok musuh baru ini. Pertama, mereka kini dipersenjatai dengan anak panah khusus yang mampu menancap lebih dalam dibandingkan anak panah biasanya. Didukung juga dengan clue visual, anak panah yang tertancap ini akan membuat Atsu tidak bisa menggunakan atau menambah Focus yang ia miliki, termasuk untuk healing sekalipun. Oleh karena itu, Anda butuh mencabutnya lebih dulu yang butuh sedikit ekstra waktu. Di skenario pertempuran yang lumayan cepat dan chaos, Anda dituntut untuk mencari waktu terbaik untuk mengeksekusi aksi cabut anak panah ini.


Ekstra moveset kedua yang bisa mereka eksekusi dan juga otomatis masuk dalam arsenal senjata yang juga bisa Anda lempar adalah rantai bola yang akan langsung otomatis menghentikan Anda di tempat. Bak terkena stun, Anda akan diminta untuk membuka sang rantai lebih dulu sebelum bisa melakukan aksi yang lain, yang otomatis membuat Anda jadi sasaran empuk para musuh yang beringas. Kerennya? Sucker Punch cukup konsisten mampu menyulap momen ini dengan ekstra bumbu dramatis, dimana Anda biasanya akan mampu menghindar ketika senjata musuh mulai terayun.
Tenang saja, Atsu juga akan diperkuat dengan setidaknya dua hal baru yang kian membuat sisi ofensifnya memukau. Pertama? Ia kini diberikan alternatif serangan ultimate baru, yang salah satunya bahkan memungkinkannya untuk memanggil lebih banyak serigala untuk menghabisi musuh di depan mata.
Kedua? Atsu kini cukup kuat untuk menenteng kategori senjata baru – Massive yang siap menawarkan damage besar dan mematikan, namun hanya bisa digunakan beberapa kali sebelum hancur. Melihat bagaimana senjata-senjata “raksasa” ini mempu meremukkan tulang hingga kepala musuh yang ada menghasilkan kepuasan yang bahkan lebih dari sekadar aksi mutilasi yang bisa dilakukan Atsu sejak Yotei versi dasar. Sisa kesempatan untuk memperkuat Atsu yang lain terletak pada varian armor baru yang juga akan bisa Anda akses, baik dari sekadar aksi eksplorasi hingga dari menyelesaikan misi sampingan.

Maka dengan kombinasi sistem-sistem ini, Ghost of Yotei: Echoes of Sekigahara menawarkan sensasi yang familiar dengan sedikit bumbu yang cukup mampu membuatnya tetap terasa segar dan tidak repetitif.
Jika Anda masih tidak puas dengan aksi pertarungan di sisi cerita tambahan ini, Ghost of Yotei: Complete Edition juga menawarkan satu ekstra mode bernama – Most Wanted yang akan memenuhi dahaga tersebut. Premis mode yang satu ini lugas – menyederhanakan proses berburu Yotei Six dari mode cerita utama ke dalam sebuah mode rogue-like yang menantang dan candu di saat yang sama.

Anda akan diperkenankan memilih satu dari empat karakter: Atsu, Oyuki, Nagato, dan sang legenda Tsushima – Jin Sakai. Setiap karakter akan memiliki pohon progress uniknya sendiri, dan tentu saja – senjata andalan, serangan ultimate, dan perk unik yang bisa Anda manfaatkan.
Maka seperti game rogue-like yang seharusnya, Most Wanted akan menempatkan anggota Yotei Six yang hendak Anda habisi sebagai boss terakhir dari level yang ingin Anda selesaikan. Semakin ke arah kanan Yotei Six yang Anda pilih, semakin tinggi pula tingkat kesulitannya. Tantangannya akan ditawarkan tidak hanya dari kuantitas musuh yang harus Anda habisi juga, tetapi juga tahapan yang harus Anda selesaikan sebelum mencapai “boss terakhir” – yakni sang buronan, mini-boss yang menanti di pertengahan, hingga varian kroco seperti apa yang menunggu Anda di level tersebut.


Tenang saja, meta progression tentu tidak akan terlewatkan dari mode ini. Walaupun besar kemungkinan Anda akan gagal, gagal, dan gagal dalam aksi berburu Anda, namun mata uang yang Anda kumpulkan di setiap sesi playthrough akan bisa diakumulasikan dan dibelanjakan untuk ragam upgrade yang ada. Ada upgrade yang bersifat global, dimana ia akan mempengaruhi semua karakter secara instan, ada yang didesain spesifik untuk senjata atau karakter tertentu, dan ada yang hadir sebagai Charm yang bisa Anda pasang dengan slot yang terbatas.
Kombinasi ini menghasilkan pengalaman Ghost of Yotei: Complete Edition yang lugas, dimana untuk gamer-gamer yang menginginkan lebih banyak aksi, termasuk merasakan bagaimana gimmick dan mekanik baru yang ditawarkan sang expansion membuat pertarungan melawan kerumunan kini kian menantang, Most Wanted memenuhi kebutuhan tersebut dengan sangat baik. Kehadiran sistem power-up yang bisa Anda kombinasikan untuk meracik build yang tidak akan tersedia di mode cerita sekalipun juga membuat segala sesuatunya terasa unik dan menyegarkan di saat yang sama.
Ini Juga Soal Hati

Namun pada akhirnya, yang membuat kami jatuh hati dan tidak ragu untuk merekomendasikan expansion “Complete Edition” ini ke semua gamer yang mencintai Ghost of Yotei bukanlah karena sisi aksi yang ia tawarkan dan serangkaian mekanik ekstra yang ia suntikkan. Bukan juga karena duel melawan salah satu bounty yang siap menantang. Dan juga bukan karena mode Most Wanted yang harus diakui, memang bisa terasa adiktif. Pada akhirnya, expansion ini berhasil mencuri hati karena dua nama – Atsu dan Nagato.
Salah satu keluhan yang sering kami dengar dari gamer-gamer terkait Ghost of Yotei versi dasar adalah soal karakter dan kepribadian Atsu yang bisa terasa terbatas karena pondasi motivasi yang ia usung. Bahwa ia kembali ke Ezo untuk “menagih nyawa” kelompok yang telah menghabisi keluarganya.
Motivasi ini kemudian menyeruak dan melebur ke dalam kepribadian Atsu yang lebih banyak dipenuhi dengan rasa amarah dan masa bodoh, alih-alih sesuatu yang simpatik. Ia terkadang terasa datar, dua dimensi, dan dingin. Bahkan, tidak berlebihan juga untuk menyebut bahwa trauma tersebut seolah merenggut total sisi feminim-nya yang tidak diekspresikan dengan baik di versi dasarnya. Baginya, balas dendam adalah absolut dan tidak ada celah untuk memperlihatkan sedikit pun kelemahan.
Yang dihadirkan oleh Echoes of Sekigahara adalah kesempatan bagi Atsu untuk mengekspresikan begitu banyak emosi, kepribadian, dan hal yang tidak pernah ia tampilkan di versi Ghost of Yotei versi dasar.
Kuncinya? “Ruang aman”. Bahwa sejak persinggungan pertamanya dengan Nagato setelah keduanya tidak lagi saling berkabar semenjak Battle of Sekigaraha, Anda akan langsung memahami bahwa keduanya berbagi masa lalu yang jelas lebih kompleks daripada sekadar pertemanan saja. Ada sesuatu yang tersirat dari pilihan kalimat, respon, hingga pandangan mata yang berikan satu sama lain. Ada kepercayaan soal saling mempertaruhkan nyawa yang tetap solid di tengah rasa takut untuk lebih banyak pengkhianatan di masa depan.


Bagian terbaiknya? Anda memahami semua hal ini tidak hanya dari cut-scene semata, tapi dari keputusan Atsu untuk memilih Nagato sebagai tempatnya untuk rapuh. Ia menuturkan hal-hal terdalam, apa yang ia impikan, apa yang ia harapkan, apa yang membuatnya takut, apa yang membuatnya kecewa, hingga apa yang membuatnya terus mengayunkan sang katana. Berita baiknya? Nagato juga harus kami akui, hadir sebagai karakter yang tidak kalah fantastisnya lewat respon dan pembawaannya di hadapan Atsu.
Walaupun tidak tertutup kemungkinan bahwa Anda yang mengharapkan expansion ini akan berfokus pada betapa epik dan masifnya perang Sekigahara akan berujung kecewa karena konten yang ia usung, Echoes of Sekigahara akan memuaskan gamer-gamer seperti kami yang ingin melihatnya jadi kesempatan bagi Sucker Punch untuk mengeksplorasi lebih dalam kepribadian dan emosi Atsu.
Bahwa yang Anda hadapi selama ini sebagai karakter utama mungkin bukan wanita dingin sebengis serigala. Mungkin, selama ini, ia adalah wanita yang pernah ingin tidak memilih katana.

