
Hampir sebagian besar gamer Indonesia, setidaknya yang mengikuti scene lokal, sepertinya sudah familiar dengan game survival horror racikan Separuh Interactive – AGNI: Village of Calamity. Hadir dengan pendekatan visual horror yang menarik, kehadiran sineas besar film lokal seperti Joko Anwar, hingga atmosfer yang terlihat mencekam langsung membuat game ini berujung masuk ke radar penikmat kengerian. Semuanya dipermanis dengan “dukungan” seorang Hideo Kojima yang juga mengaku sempat melihat dan memerhatikan trailer AGNI sebelumnya.
Namun mau tidak mau harus diakui, AGNI bukanlah sebuah game survival horror “biasa” jika dibandingkan dengan produk sejenis di luar sana. Sebagai contoh paling jelas? Sang karakter utama mengenakan jilbab, yang terikat erat pada satu agama dan kultur spesifik, yang besar kemungkinan membuatnya otomatis berujung tidak relevan untuk sebagian besar masyarakat yang lain. Belum lagi kita bicara soal kelompok masyarakat rasis yang sepertinya tidak terelakkan di banyak belahan dunia.
Hal ini jugalah yang menjadi fokus diskusi utama panel yang melibatkan Rivaldo Sutanto (The Lazy Monday) sebagai moderator, Ardhan Fadlurrahman (COO & Lead Producer Separuh Interactive), serta Leo Zullo (Managing Director & Co-Founder Wired Productions). Untuk Anda yang tidak terlalu familiar, Wired Productios merupakan publisher yang akan menangani AGNI nantinya.
Ardhan sebagai Lead Producer menyebut bahwa keputusan untuk menyertakan konsep seperti jilbab untuk karakter AGNI memang mengakar pada upaya untuk merepresentasikan budaya Indonesia itu sendiri. Memang tidak semua rakyat Indonesia beragam Islam, namun bagi mereka yang menganut, ia menjadi sebuah identitas tidak terbantahkan yang di satu titik, bahkan tumbuh menjadi bagian dari budaya itu sendiri, terutama di tanah Jawa.
Ia juga optimis bahwa selalu ada probabilitas dimana atmosfer dan setting yang ditawarkan AGNI justru akan memicu rasa penasaran gamer-gamer yang tidak familiar untuk mencari tahu lebih banyak soalnya. Sebuah situasi yang secara otomatis juga akan memperkenalkan Indonesia ke khalayak yang lebih ramai.
Namun dari posisi Wired Productions sebagai publisher, Leo juga menegaskan bahwa dengan hanya sekadar menjual budaya saja tidak akan cukup untuk membuat sebuah game bisa sukses di pasaran. Secara realistis, game tersebut harus bagus terlebih dahulu sebelum ia berujung dilirik. Namun ia mengakui bahwa tambahan ekstra lapis budaya seperti yang dihadirkan Separuh untuk AGNI akan menambah cita rasa otentik yang biasanya, beresonansi positif dengan apa yang diinginkan gamer.

Leo juga mengaku bahwa salah satu alasan utama mengapa Wired Productions berujung melirik AGNI juga mengakar dari fakta bahwa ia sendiri, tidak akan berkeberatan untuk mengeluarkan uang untuk memainkan game ini. Ia merasa AGNI hadir dengan elemen yang ia sukai. Ia brutal, penuh darah, datang dengan karakter yang menarik, dipenuhi puzzle, dan yang menariknya – untuk pertama kalinya juga, memperkenalkannya pada konsap “Cosmic Horror”.
Namun, ia juga mengakui bahwa bagian kultur yang didorong AGNI juga akan menjadi tantangan tersendiri saat hendak memasarkan game ini ke skala global. Ia memahami dan mengerti bahwa eksis orang-orang “ignorant” alias rasis yang tersebar di seluruh dunia, yang akan mengembangkan antipati untuk sisi yang justru hendak didorong AGNI. Namun ia akan mempersiapkan strategi marketing yang efektif untuk meminimalisir dampak tersebut, termasuk menunda “diskusi” terkait elemen ini hingga setidaknya, mendekati rilis nanti.
AGNI: Village of Calamity sendiri saat ini direncanakan rilis tahun 2027 mendatang, untuk Playstation 5, Xbox Series, dan tentu saja – PC.

