Review Mixtape: Mahakarya Kisah Remaja!
Page 2

Review Mixtape: Mahakarya Kisah Remaja!

Author picture
Author picture

Jamuan Audio dan Visual

Seperti sebuah jamuan audio dan visual, tidak ada lagi kalimat yang lebih baik untuk menjelaskan apa yang berhasil dicapai Mixtape dari sisi presentasi.

Hangat dan penuh warna sepertinya adalah dua kesan yang langsung muncul ketika Anda memainkan Mixtape pertama kali. Sang developer jelas memahami bagaimana cara yang tepat untuk mewakili kisah hidup para remaja yang penuh warna, dimana pilihan seringkali diambil atas nama kesenangan dan kegilaan tanpa banyak konsekuensi yang harus dihadapi. Semuanya tercermin dengan jelas sejak menit pertama Anda memainkan Mixtape.

Keputusan untuk menawarkan gaya animasi gerak yang mirip dengan apa yang ditawarkan oleh film animasi Multiverse Spider-Man (yang nama definitifnya tidak bisa kami temui bahkan lewat proses google sekalipun) memang membuat Mixtape hadir mencolok. Namun perlahan, Anda akan mulai setuju bahwa pemilihan gaya animasi ini memang cocok dengan apa yang hendak didorong oleh sang cerita.

Animasi ini membantu mengekspresikan dengan lebih baik dan tepat ketika Mixtape bergerak ke ranah “fantasi” untuk mewakili apa yang dirasakan oleh remaja-remaja ini terlepas dari temanya yang realistis. Ia membuat ekspresi yang terasa bak mimpi ini terasa tepat.

Sama seperti remaja pada umumnya, petualangan dan emosi juga diekspresikan dramatis bak cerita fantasi, yang tentu saja didukung dengan OST pilihan Rockford yang terasa tepat.
Aksi-aksi remaja ini juga mampu tampil menggemaskan dan berujung menimbulkan senyum hingga tawa di wajah Anda.

Satu hal yang pantas diapresiasi?  Scene-scene bak fantasi dari para remaja yang punya mimpi ini juga dieksekusi dengan fantastis. Mereka menawarkan pengalaman interaktif yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut, sembari memastikan bahwa panjang gameplay hingga tetap didesain untuk memfasilitasi cerita dan percakapan yang jadi poin utama. Bahkan, tidak sedikit situasi dimana sang developer berhasil membuat scene-scene ini justru jadi pondasi untuk membangun humor dan tawa yang efektif. Terlepas dari apakah Anda pernah “segila” remaja-remaja ini atau tidak, Anda akan tetap bisa merasakan semangat dan jiwa muda mereka.

Bagi gamer-gamer yang sudah berusia tua, timeline cerita di era tahun 1990-an yang diusung oleh Mixtape akan meninggalkan banyak kenangan. Masih ingat bagaimana Anda harus memutar kaset lagu dengan pensil untuk memutar lagu favorit Anda dari awal? Masih ingat bagaimana Anda harus merekam lagu-lagu favorit Anda di kaset dan meracik mixtape favorit Anda sendiri? Atau bagaimana Anda harus pergi ke toko penyewaan VCD untuk mendapatkan kopi film terbaru? Terlepas dari setting Amerika yang tentu punya kultur berbeda dengan Indonesia, tetap ada satu benang merah kisah remaja tahun 1990-an yang ternyata berlaku secara universal.

Jualan cerita bukan berarti Mixtape tidak memerhatikan sisi teknis yang ada. Sebaliknya, eksekusinya justru fantastis.
Ia membuat momen-momen yang istimewa kian istimewa.

Kami juga berujung takjub pada seberapa besar perhatian yang ditawarkan oleh sang developer – Beethoven and Dinosaur dengan hal teknis di game ini, terlepas dari minimnya sisi gameplay yang ia tawarkan. Physics yang mereka tawarkan untuk animasi lempar gulungan tisu, misalnya, hadir memesona. Melihat bagaimana gulungan tisu ini meninggalkan “jejak” lempar yang akurat dengan uraian yang halus berujung memanjakan mata. Atau melihat bagaimana aksi photo booth antara Slater dan Rockford didukung dengan fitur collision yang sebegitu memesona-nya hingga ia bisa diracik untuk menghasilkan ragam pose yang menawan. Sisi teknis yang ditawarkan game ini tidak main-main.

Tidak hanya fantastis dari sisi presentasi visual saja, Mixtape juga berhasil tampil gemilang dari sisi audio. Sebagai sebuah game yang berusaha menceritakan seorang remaja yang bermimpi untuk menjadi seorang Music Supervisor yang cukup gila untuk menyusun soundtrack untuk petualangan hari terakhir, Mixtape mengeksekusi tersebut dengan luar biasa.

Masih ingat dengan ini, hei Anda – gamer-gamer bangkotan?!!

Musik-musik yang dipilih oleh Rockford ini ditampilkan bak chapter cerita dengan monolog deskripsi soal sang musik dan alasan mengapa ia merasa pilihannya cocok dengan cerita dan nantinya, bagian interaktif yang akan Anda nikmati. Ia bahkan melakukannya dengan langsung menembus dinding keempat, dengan langsung menyampaikannya kepada Anda lewat layar kaca. Perlahan tapi pasti, seperti sebuah cerita meta yang seolah menembus dinding keempat yang sama, Anda akan bisa mulai membangun sebuah sikap setuju dan tidak setuju bahwa Rockford memang pantas untuk mengejar mimpinya menjadi Music Supervisor dari pilihan-pilihan musik ini.

Game ini juga hadir dengan salah satu voice acting paling natural yang pernah kami temukan di game manapun.

Apresiasi tertinggi juga pantas untuk diarahkan untuk kualitas voice acting di keseluruhan game ini, dari awal hingga akhir, yang sama sekali memperlihatkan sedikit pun cela terutama untuk ketiga karakter utama ini. Setiap dialog hadir natural, dengan intonasi yang memang mewakili sebagaimana seharusnya sahabat saling berbicara satu sama lain. Tawa canda, rasa frustrasi dan khawatir, lelucon basi dan resepsi monoton, pernyataan-pernyataan sarkas, hingga sekadar rasa kasih dan perhatian yang muncul terekspresikan dengan begitu baik. Benar-benar salah satu voice acting paling natural yang pernah kami temui di video game sepanjang sejarah kami berkecimpung di industri ini.

Dengan kombinasi ini, Mixtape menjadi sebuah game yang penuh dengan warna dan jiwa. Kami sendiri tidak akan terkejut jika ia berujung dinominasikan sebaga salah satu game dengan pendekatan Art Direction terbaik di ragam acara penghargaan Game of the Year untuk tahun 2026 ini.

Mari Bersenang-Senang!

Sesi inteaktif gameplay yang ditawarkan Mixtape lebih diarahkan untuk membuat sesi cerita kian imersif.

Maka seperti yang bisa Anda prediksi, gameplay memang bukan daya tarik utama Mixtape. Anda tidak datang ke seri ini untuk sebuah gameplay kompleks yang siap untuk membuat kening Anda berkeringat atau motivasi Anda membara karena tingkat kesulitan yang ada. Gameplay yang ditawarkan oleh Mixtape didesain sedemikian rupa untuk mendukung cerita dan menjadi media dari musik yang notabene merupakan salah satu elemen narasi paling krusial.

Walaupun demikian, bukan berarti Beethoven and Dinosaur tidak memastikan bahwa setidaknya sesi interaktif yang mereka tawarkan di game ini tetap akan hadir memuaskan dan didukung dengan sisi teknis yang pantas untuk dirayakan. Namun sekali lagi, jangan berharap bahwa Anda akan tertantang di sini.

Menjadi salah satu aktivitas yang mereka gandrungi, salah satu elemen gameplay interaktif yang paling sering Anda temui di Mixtape adalah skateboarding. Ia menjadi “moda transportasi” yang dipilih oleh tiga sekawan ini untuk bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Bahkan sesi yang di awal hanya berkisar soal melompat dan melakukan trik dengan aksj satu tombol ini juga akan semakin kompleks. Akan ada lebih banyak kendaraan yang harus hindari, akan ada lebih banyak rintangan yang bisa Anda lampaui, dan ada akan ada lebih banyak mobil yang bisa Anda ledakkan. Ledakkan? Ya, Anda tidak salah emmbacanya. Tenang, ini bukan game soal terorisme dan kenakalan remaja yang berlebihan hingga akhir cerita.

Naik dinosaurus??!
LIDAH????!!!

Interaktivitas ini juga seringkali dihadirkan dengan mekanisme kontrol sederhana yang seringkali dirangkai untuk mencapai satu tujuan spesifik – dari memberikan Anda kesempatan untuk ikut bersenang-senang dengan ketiga remaja ini atau membuat cerita yang hendak mereka usung lebih imersif. Untuk urusan terakhir ini, Beethoven and Dinosaur juga tidak segan untuk tampil gila dan terjun ke dalam ranah yang tidak pernah Anda prediksi sebelumnya. Kita bicara soal game yang memungkinkan Anda untuk menggerakkan lidah dua remaja yang tengah menikmati cumbu pertamanya. Segila dan sekreatif itu!

Dengan keseluruhan cerita yang terhitung singkat, Mixtape menjadi satu dari sedikit kasus unik dimana kami justru bersyukur bahwa pendekatan gameplay yang mereka usung memang sekadar hendak membuat pengalaman-pengalaman kunci dari hari terakhir tiga sekawan ini menjadi lebih interaktif dan imersif. Kami bersyukur tidak ada upaya untuk menawarkan konsep gamifikasi yang lebih standar seperti penilaian berbasis skor atau rintangan dengan potensi game over yang terlalu banyak.

Author picture
Editor in Chief
Pladidus sudah berkecimpung selama 14 tahun di industri media game Indonesia dan selalu bersemangat untuk merekomendasikan Suikoden II kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Next Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Level Up Your Gaming News!

Subscribe for the latest gaming news and updates.

Share this website