
Hampir sebagian besar gamer yang tumbuh besar dengan Playstation sepertinya masih ingat jelas soal perubahan kepemimpinan yang terjadi di dalam internal salah satu brand gaming terbesar ini. Bahwa terlepas statusnya sebagai divisi di bawah perusahaan Jepang, Playstation justru sempat mengalihkan tampuk kepemimpinan kepada para petinggi asal Eropa di era Jim Ryan.
Ketika perubahan ini terjadi, Sony Jepang seolah kehilangan relevansinya, termasuk turunnya seorang Shuhei Yoshida yang sebelumnya menjabat sebagai kepala Playstation Studios. Sebuah perpindahan kekuasaan yang sempat memancing tanda tanya besar dari gamer.
Rasa penasaran tentu saja mengarah pada apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar Playstation pada saat perubahan kepemimpinan ini terjadi. Ternyata oh ternyata, setidaknya dari Shuhei Yoshida, ia tidak dengan sukarela menyerahkan perannya begitu saja di kala itu.
Hal tersebut diungkapkan dan diakui oleh Shuhei Yoshida langsung dalam event ALT: GAMES – festival gaming Australia seperti yang diliput oleh situs This Week in Video Games.
Diucapkan sembari tertawa, Yoshida mengaku bahwa dirinya dipecat dari posisinya sebagai Head of Playstation Studios alih-alih turun secara sukarela. Pemecatan tersebut dilakukan oleh sang CEO – Jim Ryan karena Yoshida menolak untuk mematuhi perintahnya. Tidak ada detail apa perintah yang dimaksud, hanya saja Yoshida menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.

Setelah posisinya digantikan oleh Hermen Hulst yang masih bertanggung jawab hingga saat ini, Yoshida mendapatkan tawaran dari Jim Ryan untuk mengepalai insiiatif Sony yang baru atas nama memberikan perhatian ekstra pada studio indie. Mengingat dirinya memang mencintai game-game indie, Yoshida pun berujung menyanggupi.
Shuhei Yoshida sendiri akhirnya resmi keluar dari Playstation di bulan Januari 2025 kemarin setelah berkarir selama 31 tahun. Ia kini secara aktif berbagi pengetahuan dan ilmu dengan publisher, developer, dan ragam media tanpa lagi terikat pada ketentuan untuk hanya membicarakan Playstation sebagai platform.
Bagaimana menurut Anda soal situasi ini?

