
Ketika seorang Asha Sharma terpiilh untuk memimpin divisi Xbox, sebagian besar gamer memang mengeryitkan dahi. Kita bicara soal perempuan muda yang sempat memimpin divisi AI dan tidak terlihat sebagai gamer aktif yang diminta untuk memimpi sebuah divisi gaming perusahaan dengan kapital masif yang sejauh ini memang tidak tampil gemilang dari sisi performa.
Apalagi Sharma diminta untuk menggantikan sosok se-ikonik Phil Spencer yang sudah malang melintang cukup lama di industri ini. Namun menariknya? Boss baru Xbox ini sepertinya paham ragam masalah yang dihadapi oleh si brand, termasuk Game Pass.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Microsoft memang mulai “terbebani’ oleh layanan andalan Xbox – Game Pass yang memang memungkinkan gamer menikmati banyak game baru dengan harga yang terjangkau. Tidak mengherankan jika dalam satu atau dua tahun terakhir, ia sempat mengalami beberapa proses modifikasi konten dan tier, yang sayangnya juga diikuti dengan kenaikan harga di atasnya.
Situasi ini bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh Sharma. Dalam memo internal yang ia bagi dan berhasil didapatkan oleh situs The Verge, Sharma mengaku bahwa harga Game Pass saat ini terlalu mahal untuk para gamer.

Oleh karena itu, untuk solusi jangka pendek, ia merasa Game Pass untuk perhitungan nilai sepadan yang lebih baik. Sementara untuk jangka panjang? Sharma ingin Game Pass tumbuh menjadi sistem lebih fleksibel dimana mereka akan terus melakukan proses uji coba dan belajar dengannya.
Walaupun tidak dibicarakan secara eksplisit, namun komentar yang dilemparkna Sharma untuk memo internal ini sepertinya jelas mengindikasikan rencana MIcrosoft untuk kesekian kalinya, memodifikasi harga Game Pass di masa depan. Namun setidaknya dari diskusi ini, ada probabilitas besar bahwa alih-alih kian mahal, ia akan menawarkan opsi yang lebih terjangkau.
Microsoft sayangnya tidak berbagi lebih detail soal dampak kenaikan harga Game Pass Ultimate hingga 50% tahun lalu terhadap jumlah pelanggan Game Pass saat ini.
Bagaimana menurut Anda soal situasi ini?

