
Keputusan Capcom untuk melanjutkan seri Dragon’s Dogma ke seri kedua dengan RE Engine sebagai basis di tahun 2024 kemarin adalah sebuah langkah yang pantas untuk disambut dengan tangan terbuka. Seperti yang kita tahu, sebagai satu dari sedikit tumpuan franchise RPG Capcom, Dragon’s Dogma memang masih terhitung sebagai pasar yang niche alih-alih mainstream. Terlepas dari kekurangan yang ia miliki, tetap sulit untuk membantah bahwa ia juga satu dari sedikit franchise RPG di luar sana yang berhasil menawarkan sensasi petualangan yang sesungguhnya.
Walaupun demikian, Dragon’s Dogma 2 bukanlah game yang sempurna. Di periode awal rilisnya, ia dipenuhi dengan masalah. Kita bicara soal buruknya performa teknis di banyak platform hingga keputusan desain yang justru memicu frustrasi alih-alih rasa senang, seperti membatasi titik fast travel dan item yang mendukung aksi tersebut. Namun di sisi lain, untuk aksi berburu monster dan ragam keunikan job yang disebut Vocation di sini, Dragon’s Dogma 2 bersinar.
Terlepas dari opini kontradiktif dari dua spektrum berbeda untuk game, selalu menjadi mimpi bagi fans untuk melihat seri ini mendapatkan expansion ala Dark Arisen di seri pertamanya. Sebuah mimpi yang kemudian dipenuhi Capcom lewat konfirmasi, yang uniknya, akan mempertahankan nama yang sama untuk seri kedua ini.
Lewat undangan Capcom Singapore, bersamaan dengan event preview Onimusha: Way of the Sword beberapa minggu lalu, kami diberi kesempatan untuk menjajal expansion – Dark Arisen untuk Dragon’s Dogma 2 ini lebih awal. Sayanngya tidak seperti Onimusha dimana kami diberi cukup banyak waktu, sesi ini hanya menawarkan 1 jam untuk menjelajahi sebanyak dan seaktif mungkin area baru yang akan ditawarkan oleh expansion ini.
Dengan waktu yang terhitung singkat tersebut, impresi seperti apa yang mereka tawarkan? Mengapa kami merasa ia bak sekadar melanjutkan petualangan yang ada? Sesi preview ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.
Dingin, Tangguh

Seperti selayaknya sebuah expansion RPG, Dragon’s Dogma 2: Dark Arisen akan menambahkan satu ekstra region baru bernama Norgan yang terletak di utara. Berbeda dengan sang versi dasar yang berisikan lebih banyak hutan dan rerumputan, Norgan merupakan sebuah area bersalju dan dingin, yang secara otomatis akan membuat sebagian besar sudut pandang Anda kini akan diwarnai dominan putih.
Sesi preview kami dimulai dari sebuah desa kecil yang berfungsi standar untuk Dragon’s Dogma 2. Ia memuat NPC yang menawarkan misi utama untuk mendorong progress, NPC dengan fungsi berbeda seperti untuk berisitrahat atau berganti vocation, serta beberapa yang sekadar berdiri untuk Anda ajak bicara. Mengingat waktu yang singkat, kami sendiri direkomendasikan untuk bergerak maju melewati sebuah bukti bersalju, tepat ke utara, untuk memicu sebuah porsi cerita yang esensial.
Satu yang hal yang bisa kami pastikan dari Norgan yang seharusnya akan bisa Anda buka setelah menyelesaikan cerita utama Dragon’s Dogma 2 ini? Bahwa ia benar-benar adalah region baru yang tangguh. Capcom sendiri menyediakan kepada kami sebuah karakter dengan semua Vocation yang sudah melewati proses upgrade penuh untuk menjamin petualangan yang lebih nyaman dan mudah. Bahkan, di tengah situasi seperti ini, daerah baru ini masih tangguh.
Tangguh dalam pengertian bahwa monster “remeh” yang Anda temui di jalan, seperti gerombolan serigala sekalipun, tetap butuh waktu untuk dihabisi. Ini mengesankan seolah-olah Capcom hendak memastikan bahwa expansion ini tidak didesain untuk membiarkan Anda dan semua pawn Anda yang sudah over-powered dengan ragam vocation berbeda untuk melenggang bebas tanpa masalah Anda juga tetap harus tetap memikirkan semua indikator yang Anda butuhkan untuk bertahan hidup karena situasi ini.

Puncaknya terjadi ketika kami bertemu dengan tipikal monster raksasa bak Yeti yang berjalan-jalan di tengah bukit yang memang sudah menjadi jalur kami untuk memicu sisi cerita yang direkomendasikan oleh Capcom. Bahkan dengan level vocation yang sudah penuh sekalipun dan companion pawn yang kami yakini seharusnya cukup efektif untuk berperan sebagai support, sang “Yeti” ini tetap menyeramkan. Ia terasa lebih tanky dibandingkan monster di versi dasar, punya moveset baru yang menyebal dan mematikan, dan siap untuk menghukum yang Anda yang gagal untuk terus mawas.
Puncak dari ketangguhan tersebut terjadi ketika kami akhirnya bertemu dengan plot point yang direkomendasikan, dimana kami bertemu dan bertarung melawan seekor naga yang jelas tidak dalam kondisi “terbaik”-nya, yang disebut sebagai Fallen Dragon.
Naga ini punya begitu banyak varian serangan AOE yang menyebalkan, bahkan ketika kami bermain super aman sekalipun, dengan cepat membuat companion kami jatuh berguguran dalam waktu singkat. Walaupun pada akhirnya diketahu bahwa petempuran ini “scripted” hingga lapisan darah naga tertentu, tidak menghalangi fakta bahwa ia butuh ekstra kerja keras untuk sekadar dilukai bahkan dengan karakter yang seharusnya di atas kertas, sudah terhitung kuat.
Sejujurnya, ada perasaan bahagia dan khawatir di saat yang sama saat terjun ke area baru Dark Arisen untuk Dragon’s Dogma 2. Bahagia karena pendekatan seperti ini berarti memberi motivasi bagi Anda untuk melakukan proses eksplorasi dan grinding untuk apapun yang tengah dipersiapkan oleh Capcom di Dark Arisen. Khawatir? Karena Anda yang sudah berjuang setengah mati memperkuat diri di versi dasar game ini mungkin akan kecewa karena semua perjalanan tersebut akan terasa sia-sia.

