
Berusaha menerjemahkan pengalaman game yang selama ini dikenal sebagai game konsol ataupun PC ke dalam perangkat mobile tentu bukan hal yang mudah. Jika si developer hanya sekadar mempertimbangkan port setengah hati, maka keseluruhan pengalaman bisa berantakan. Bahwa apapun yang sudah dibangun si video game di platform sebelumnya seringkali tidak bisa diterjemahkan begitu saja menjadi sebuah game mobile yang solid. Oleh karena itu, pendekatan paling rasional adalah yang dilakukan oleh TiMi Tencent dengan Monster Hunter Outlanders.
Bahwa menggunakan lisensi resmi dari Capcom, TiMi berusaha mereka ulang pengalaman Monster Hunter versi original ke dalam format smartphone, yang kemudian juga diisi dengan strategi monetisasi berbeda dan format kontrol yang disederhanakan atas nama layar sentuh. Darinya, Monster Hunter Outlanders kemudian diracik sedemikian rupa untuk tetap mempertahankan semua identitas franchise ini, sembari memastikannya terasa original dan otentik di saat yang sama.
Minggu lalu, berkantor di Garena Indonesia, yang notabene akan berperan sebagai publisher untuk game mobile ini di kawasan Asia Tenggara, kami berkesempatan untuk menjajal sedikit pengalaman yang berupaya ditawarkan game ini.
Sedikit Intipan

Maka seperti pendekatan banyak seri Monster Hunter modern selama setidaknya tiga seri terakhir dimulai dari World, cerita akan disampaikan dalam ragam cut-scene dramatis yang menariknya, juga disertakan dengan ekstra QTE di Outlanders ini. Untuk presentasi sebuah game mobile, ia menawarkan kesan premium yang kuat di sisi yang satu ini. Bagian terbaiknya? Mengikuti pakem banyak game gacha pula, Monster Hunter Outlanders sepertinya memahami bahwa akan ada banyak gamer penikmatnya yang tidak ambil pusing dengan sisi cerita. Oleh karena itu, sebuah tombol skip dengan ekstra sinopsis cerita apa yang baru Anda lewatkan juga tersedia di sini.
Dengan animasi pembuka yang panjang, kami juga disambut dengan sang kota perdana yang seperti halnya seri Monster Hunter yang lain, sepertinya akan berfungsi sebagai hub untuk tidak hanya meneruskan cerita utama saja, tetapi juga terlibat dalam ragam aktivitas sampingan dan aksi berburu monster nantinya. Sayangnya, sesi demo super singkat ini berakhir di kesempatan untuk setidaknya mengintip sesi kota ini tanpa kesempatan untuk keluar dan menikmati keseluruhan dunia yang ia tawarkan.
Sejujurnya, terlepas dari usaha TiMi untuk menawarkan sensasi Monster Hunter yang otentik, kesan bahwa Outlanders adalah sebuah game live-service berbasis sistem gacha tidak bisa dikesampingkan begitu saja, bahkan dari tampilan menu sekalipun. Akan ada begitu banyak menu menyambut Anda untuk beragam fungsi, yang tentu saja tidak akan Anda temukan di seri Monster Hunter Premium. Kami juga menemukan hal sepert sistem energi harian yang tentu saja dirancang membatasi proses progression Anda.


Terlepas dari sistem gacha yang akan memungkinkan Anda untuk merekrut karakter companion ekstra bernama “Adventurers” dan juga item kosmetik yang ada, Monster Hunter Outlanders diklaim tidak akan jadi game pay-to-win. Terdengar sedikit mustahil memang, namun klaim ini setidaknya masih bisa dibuktikan dengan skenario pertarungan semenantang versi utamannya. Bahwa memiliki karakter pendamping yang kuat sekalipun tidak menjamin bahwa Elder Dragon tersebut akan mudah dilibas cepat dan efektif, apalagi dengan obsesinya untuk terus menyerang dan hanya menyerang Anda saja.
Walaupun demikian, dengan posisinya sebagai game live-service, potensi untuk “Pay-to-Win” ini sepertinya tetap menjadi “ancaman” yang terbuka lebar, apalagi jika kita memerhatikan game-game gacha yang eksis sebelumnya. Menawarkan karakter yang akan mampu menghadirkan peran dan fungsi yang lebih besar dan efektif di dalam tim saja, di mata banyak gamer gacha, sudah akan memenuhi kriteria ini. Namun tentu saja, berapa besar potensi ini akan sangat ditentukan oleh klausul kerjasama TiMi dan Capcom di belakang layar.
Sejujurnya, sesi singkat kami dengan Monster Hunter Outlanders ini juga meninggalkan banyak rasa penasaran soal strategi Garena untuk melakukan penetrasi pasar yang efektif untuk Monster Hunter Outlanders, terutama di pasar Indonesia.
Pertama, tentu saja seberapa besar potensi game yang notabene sudah punya genre yang niche ini untuk menarik pangsa pasar gamer di Indonesia. Di satu sisi, gamer-gamer veteran Monster Hunter lokal untuk versi konsol dan PC adalah salah satu komunitas yang paling bersahabat untuk gamer-gamer pendatang baru. Namun di sisi lain, sulit rasanya untuk menyangkal bahwa selalu ada potensi bahwa mereka akan langsung “menolak” eksistensi Outlanders dan komunitas yang tercipta darinya hanya karena fakta bahwa ia adalah game mobile dengan gimmick yang berbeda.
Situasi “niche” ini juga diperparah dengan fakta tidak terbantahkan bahwa salah satu indikator sukses game mobile di Indonesia juga masih terikat pada kebutuhan spesifikasi yang ia butuhkan. Semakin berat sebuah game, semakin ia menuntut smartphone dengan spesifikasi semakin berbobot, semakin besar pula potensi mereka untuk gagal menangkap perhatian gamer mobile Indonesia, terutama mereka yang di ranah kasual. Monster Hunter Outlanders memang diklaim bisa dimainkan dengan smartphone keluaran setidaknya tahun 2018 di setting terendah, namun pada akhirnya, kenyamanan untuk genre seperti ini juga memainkan peran penting.


Kedua? Sesi kunjungan kami ke Garena Indonesia ini juga sayangnya, tidak membuka tabir misteri soal harga yang akan dipatok untuk ragam resource yang memang biasanya melekat untuk game gacha, terutama untuk aksi rekrut karakter. Di tengah ekonomi dunia yang semakin menjerit dan ekonomi Indonesia yang harus diakui tidak berada dalam bentuk terbaiknya, harga mata uang gacha seperti ini juga akan memainkan peran tidak kalah penting untuk setidaknya, mempengaruhi minat gamer lokal.
Harus diakui, Garena Indonesia setidaknya akan punya pekerjaan yang cukup berat untuk memutarbalikkan dua situasi yang tidak terhindarkan: menarik minat para veteran Monster Hunter konsol dan PC yang mungkin sudah membangun antipati terhadap Outlanders karena statusnya sebagai game mobile dan di sisi sebaliknya – menarik gamer-gamer kasual lokal untuk masuk ke dalam genre yang sudah terhitung niche ini.
Upaya untuk Otentik

Dari sesi demo singkat kami, jelas bahwa ada upaya dari TiMi untuk menawarkan pengalaman otentik ala seri Monster Hunter utama di game mobile yang satu ini. Kesempatan untuk menikmatinya dengan skema kontrol sederhana juga memberikan kesempatan bagi gamer-gamer yang mungkin tidak terbiasa dengan layar sentuh untuk langsung terjun dan menguasai weapon andalan mereka masing-masing.
Semuanya dibungkus dalam format game live-service free to play yang juga berarti menghadirkan opsi masuk bebas resiko untuk setidaknya menangkap pengalaman seperti apa yang hendak ditawarkan oleh game yang satu ini. Akan sukses atau tidak game ini di pasar Indonesia? Semuanya akan bergantung pada kerja keras Garena Indonesia dan bagaimana mereka menarik potensi dua pasar yang seolah berdiri di dua kubu ekstrim yang butuh strategi berbeda.
Monster Hunter Outlanders sendiri rencananya akan meluncur pada tanggal 29 Oktober 2026 mendatang untuk perangkat berbasis Android / iOS. Bagaimana dengan Anda? Termasuk gamer yang menantikan game yang satu ini?

