
Inklusiivitas memang selalu menjadi salah satu semangat yang terus dikobarkan oleh industri game global, termasuk Indonesia. Walaupun masih belum sepenuhnya sempurna dimana ia masih jadi industri yang lebih banyak didominasi oleh pria terutama di tampuk kepemimpinan. namun para wanita kini mulai terlibat di dalam industri yang kita cintai ini. Mereka datang membawa tidak hanya keahlian saja, tetapi juga beragam perspektif dan talenta unik yang membuat industri game Indonesia kian beragam dan berwarna di saat yang sama. Namun di tengah upaya inklusivitas ini, tantangan yang harus developer Indonesia memang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Hal ini jugalah yang sempat diungkapkan oleh Riris Marpaung – CEO Gamechanger Studio yang selama ini terkenal lewat seri “My Lovely” series dan juga 1998: The Toll Keeper Story dalam panel IGDX 2026. Menurutnya, developer wanita di Indonesia tentu harus membekali diri mereka dengan beragam set untuk bisa bersaing dengan developer pria. Kita bicara soal kebutuhan untuk terus mengakumulasikan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mencapai misi tersebut dan tentu saja, rasa percaya diri yang kuat untuk memperlihatkan kemampuan tersebut saat dibutuhkan. Semuanya dikombinasikan dengan dukungan sesama developer wanita di dalam ekosistem itu sendiri.
Riris sendiri merasakan soal konsekuensi dari dominasi kepemimpian pria yang seringkali berujung meremehkan kemampuan wanita dii urusan industri pengembangan game, apalagi ketika mereka menyentuh level karir yang tinggi. Developer wanita seringkali diragukan kemampuannya dengan stigma yang terus menempel bahwa semua aspek kewanitaan mereka justru akan berujung menghambat kerja itu sendiri. Akibatnya? Terkadang, game-game buatan developer wanita seringkali tidak mendapatkan kesempatan kedua ketika proyek pertamanya gagal.

Bagi Restya Windya Astari – CEO dari Agate Academy, wanita seharusnya dipandang lebih serius dan siap dalam industri game, apalagi untuk level kepemimpinan karena kewanitaan mereka, terutama untuk mereka yang sudah berkeluarga. Fakta bahwa wanita seringkali juga secara aktif berperan sebagai “manager” dalam rumah tangga yang mengatur segala sesuatunya, dari sekadar waktu makan anak, persiapan sekolah, hingga hal yang berkaitan dengan aktivitas suami menjadi bukti sekaligus pondasi untuk kesiapan tersebut. Skill-skill yang sering dianggap remeh ini seharusnya bisa ditranslasikan dengan baik untuk kebutuhan managerial di tim pengembang sekalipun.
Sayangnya, terlepas dari transformasi perlahan yang mulai terjadi di Indonesia, yang juga didukung dengan inisiasi seperti Indonesian Woman in Game alias IWIG, generasi developer lebih muda – Ratu Aida Raisya – Co-Founder dan CEO dari KARIS – Komunitas Aktif Roblox Indonesia Srikandi juga masih merasakan ketidaknyamanan dari stigma negatif untuk para developer wanita.
Panel kali ini tentu saja menjadi sebuah pengingat sekaligus pembuka mata soal kerja keras ekstra yang harus ditempuh oleh para developer wanita untuk memastikan diri mereka, yang notabene sudah dibekali dengan kemampuan dan rasa percaya diri sekalipun, untuk bersinar di ekosistem yang saat ini masih didominasi pria.

