Teknologi yang di awal dirancang untuk menyatukan pertemanan dan justru membangun sebuah benang merah baru justru berujung menjadi salah satu ancaman terbesar peradaban. Benar sekali, kita tentu tengah bicara soal ragam situs media sosial yang kini tumbuh menjadi bagian rutinitas kita sehari-hari. Bagi seorang Hideo Kojima, lewat apa yang terjadi dengan Death Stranding, situs media sosial adalah sesuatu yang berbahaya.
Hal tersebut lah yang ia ungkapkan dalam sesi dialog bersama dengan Alejandro Gonzalez Inarritu – sutradara di balik film Digger seperti yang ditranslasikan oleh situs Automaton.
Kojima menanggapi kekhawatiran Inarritu yang melihat bahwa manusia perlahan tapi pasti, mulai kehilangan konsep “shared reality”. Algoritma media sosial telah membuat manusia-manusia modern saat ini hanya menikmati sebuah kebenaran yang tidak utuh alias pecah. Sesuatu yang disebut Inarritu saat ini terjadi dengan film yang ia sutradarai – Digger dimana banyak orang yang lantang menyuarakan opini mereka tanpa pernah menikmati filmnya dengan mata dan kepala sendiri.
Hal inilah yang diamini oleh Hideo Kojima, yang mengaku merasa bahwa situasi yang sama juga terjadi dengan game perdananya di bawah bendera Kojima Productions berbintangkan Norman Reedus – Death Stranding.
Kojima menyebut bahwa Death Stranding seringkali disebut sebagai game “Walking Simulator” oleh gamer-gamer yang tidak pernah memainkannya secara langsung. Lebih parahnya lagi? “Identitas” yang notabene tidak lengkap ini kemudian tidak hanya eksis, tetapi juga terus bertahan hingga saat ini. Situasi ini disebut Kojima, menakutkan.

Ia juga menyuarakan kecemasannya ketika situasi yang sudah buruk terkait media sosial ini kemudian melebur dengan penggunaan AI. Ia merasa bahwa kombinasi keduanya akan membuat manusia kian tampil bak “katak dalam tempurung” dimana mereka hanya akan disajikan dengan konten yang menawarkan opini yang sejalan tanpa memberikan ruang untuk berhadapan dengan opini yang berbeda.
Bagaimana dengan Anda sendiri? Termasuk gamer yang setuju dengan narasi Death Stranding sebagai game “walking simulator”?

