Butuh Reinkarnasi

Selama perjalanan Anda untuk menyelesaikan Beast of Reincarnation, ada satu hal yang sebenarnya tidak bisa terbantahkan. Bahwa jika dipikirkan dan dirasakan dengan matang, Beast of Reincarnation sebenarnya punya pondasi konsep yang cukup untuk menariknya ke level yang sama dengan NieR Automata atau Stellar Blade. Sulit untuk tidak berharap bahwa suatu saat di masa depan, entah karena alasan apapun, Game Freak akan mengambil keputusan radikal untuk merilis sebuah versi remaster hingga remake untuk Beast of Reincarnation dengan budget yang lebih besar dan penyempurnaan yang lebih baik.
Kita tidak hanya bicara soal sisi visual saja, tetapi game ini juga butuh perbaikan dari sisi desain level pula. Pergerakan cerita dari satu chapter ke chapter lainnya dibangun di atas pondasi yang sama – Emma akan tiba di satu lokasi, disambut dengan sebuah dunia dengan konsep sedikit terbuka, diminta untuk melakukan proses investigasi, dan kemudian membersihkan Nushi di sana.
Emma dan Koo akan pingan sebagai bagian dari lore, terbangun di Walker, dan kemudian mengulang proses yang sama lain. Satu-satunya hal yang “menyelamatkan” game ini hanyalah penyederhanaan desain level yang semakin ringkas pada saat cerita mulai bergerak jauh, sehingga rasa repetisi dan membosankan bisa sedikit berkurang.
Game ini juga butuh mencari cara untuk menyajikan cerita sci-fi super kompleksnya dengan lebih baik. Walaupun Anda akan bertemu dengan beberapa cut-scene sinematik yang diisi dengan sayangnya, animasi yang tidak sebegitu halus, sebagian besar cerita akan disajikan dalam bentuk ekspoisisi panjang dari satu atau dua karakter.
Mereka akan menjelaskan dengan panjang lebar apa yang sebenarnya terjadi dengan Beast of Reincarnation, yang biasanya juga terjadi pada proses eksplorasi. Berita buruknya? Saat ini terjadi, Anda tidak diperbolehkan mengakses fungsi apapun di dunia, termasuk mengaktifkan checkpoint atau shrine. Yang bisa Anda lakukan hanya berdiri menunggu sampai dialog ini selesai jika bertemu dengan skenario ini.
Atau membayangkan bagaimana porsi cerita yang melibatkan begitu banyak kota dan settlement di sini benar-benar didesain dan dieksekusi dengan semestinya. Hampir sebagian besar lokasi yang mereka sebut sebagai “Koloni” berakhir menjadi sebuah kota yang hanya dihiasi dengan gedung tinggi tanpa ada interaktivitas di dalamnya. Tidak ada kota yang bisa Anda kunjungi, tidak ada misi sampingan dari NPC, tidak ada rahasia yang menunggu, tidak ada karakter NPC tambahan untuk diajak bicara. Semuanya terasa benar-benar kosong.


Atau bagaimana ia menangani New Game Plus, yang notabene akan tersedia setelah Anda menyelesaikan game ini setidaknya sekali dengan tingkat kesulitan baru untuk diakses. Apa pasal? Karena sudah menjadi sebuah praktek standar bagi mode seperti ini menyediakan opsi Skip Cutscene di semua sisi cerita untuk mempercepat gamer menyelesaikannya kembali. Di Beast of Reincarnation? Anda akan langsung bertemu dengan inkonsistensi sulit diprediksi dimana ada cut-scene yang bisa di-skip dan ada yang hanya memungkinkan Anda untuk mempercepat dialog tanpa melewati keseluruhan scene. Bagian terburuknya? Porsi terakhir ini lebih banyak.
Seiring dengan waktu berjalan dan progress yang Anda dapatkan, sulit untuk tidak mendambakan dan membayangkan seperti apa Beast of Reincarnation jika ia berada di “kekuatan penuh” di semua elemen yang bisa ia sempurnakan. Anda seperti melihat sebuah calon bintang dengan potensi luar biasa yang berujung mengecewakan karena keenggananya untuk menginvestasikan lebih banyak waktu di hal-hal yang perlu ia perbaiki. Hingga di titik, bahwa solusi terbaik untuknya adalah berharap pada proses reinkarnasi itu sendiri.
Kesimpulan

Beast of Reincanartion sayangnya, gagal memenuhi harapan tinggi yang sudah disematkan oleh begitu banyak gamer, termasuk kami. Di pondasinya, ia bukanlah game yang buruk. Sistem pertarungan berbasis parry yang ia usung dan dikombinasikan dengan atmosfer bak NieR yang diracik fantastis oleh OST yang mengalun sebenarnya bisa tumbuh menjadi sebuah produk game acton RPG yang menawan. Hanya saja, ia dipenuhi dengan desain-desain elemen lain yang pantas dipertanyakan, yang akan secara konsisten membuat Anda penasaran kemana yang penghasilan Game Freak dari franchise Pokemon selama ini sebenarnya mengalir.
Karena harus diakui, Beast of Reincarnation adalah game yang jauh dari kata berkualitas tinggi, apalagi disandingkan dengan banyak rilis game modern saat ini. Visual lingkugannya berantakan dan penuh masalah teknis, atmosfernya terlalu kusam untuk sebuah game dengan lore yang penuh pepohonan, eksposisi ceritanya terhitung mengganggu ketika ia mulai mempengaruhi akses permainan Anda, hingga pertarungan boss yang gagal memuaskan karena keputusan untuk menjadikan monster-monster besar ini sebagai rintangan terbesar di banyak chapter.
Dengan semua kelemahan ini, apalagi dengan komitmen Game Freak untuk terus membenahinya, kami akan merekomendasikan Anda untuk menunggu Beast of Reincarnation “mendarat” di harga ynag menurut Anda lebih rasional dibandingkan pada saat review ini ditulis sembari menunggu perbaikan yang dijanjikan tiba. Karena apa yang mereka tawarkan di titik ini justru memperkuat keinginan kami untuk melihatnya benar-benar melewati sebuah proses reinkarnasi alih-alih sebuah game yang bisa sepenuhnya dinikmati.
Kelebihan

- Pondasi lore sci-fi yang sebenarnya menarik
- Sistem pertarungan berbasis parry yang cukup memuaskan ala Sekiro
- OST bergaya NieR yang memanjakan telinga
- Sistem akses skill untuk sang anjing – Koo yang berbeda dan unik
- Visualisasi model karakter hadir penuh detail
- Sistem pohon skill berbagi satu resource yang membuat Anda harus menentukan prioritas gaya bermain
- Kunai
- Aksi eksplorasi menggunakan tanaman yang bisa dijadikan alat bak jet pack atau jembatan berujung keren
Kekurangan

- Visualisasi lingkungan hambar, buruk, penuh masalah teknis
- Gameplay loop bisa terasa sangat repetitif
- Pertarungan melawan boss berbentuk monster raksasa yang tidak memuaskan
- Cerita yang kompleks dipenuhi dengan eksposisi panjang
- Animasi cut-scene terasa lebih kaku daripada gameplay
- World building lemah untuk sebuah game yang menjadikan misterinya sebagai salah satu daya tarik
- Reward eksplorasi bisa terasa tidak relevan mulai dari chapter-chapter awal
- Tidak semua cut-scene bisa diskip atas nama efektivitas menikmati New Game Plus
Direkomendasikan untuk gamer: yang mencintai gaya bertarung berbasis parry ala Sekiro, mencintai musik ala NieR.
Tidak direkomendasikan untuk gamer: yang mendambakan cerita sci-fi dengan visual menawan, yang menginginkan pengalaman padat konten ala game action RPG pada umumnya.

