Sangat Kasar

Dengan kesuksesan yang sudah mereka raih dengan game Pokemon selama ini, terlepas dari fakta bahwa proses pengerjaan untuk Beast of Reincarnation ini sebagian besar mereka alihkan ke studio outsource, tentu aman untuk membangun asumsi bahwa Game Freak punya kekuatan kapital yang cukup untuk membuat game memesona. Namun hasil akhirnya justru membuat kami datang dengan satu pertanyaan yang berulang di kepala: “Kemana perginya semua uang Pokemon ini?”.
Karena ketika ia diumumkan akan menggunakan Unreal Engine 5 sebagai basis, ada ekspektasi bahwa ia setidaknya akan terlihat memanjakan mata seperti halnya game modern dengan engine serupa. Walaupun pada akhirnya, sisi performanya bisa saja tidak bisa diandalkan. Nyatanya? Beast of Reincarnation hadir dengan sisi presentasi, terutama visual, yang terhitung kasar.
Permasalahan utamanya adalah inkonsistensi yang jelas terlihat. Di satu sisi, model karakter yang diusung terlihat fantastis. Emma terlihat begitu keren dengan jubahnya, Kunai terlihat seperti seorang prajurit wanita mematikan dengan kostumi yang dibangun menggunakan material berbeda, hingga sang anak perempuan – Kagura yang dibangun sebegitu detailnya hingga Anda bisa melihat rona merah di kedua pipinya di begitu banyak momen. Tidak hanya model karakter saja, hampir semua animasi gerak serangan dan skill yang bisa diakses Emma dan Koo pun hadir tidak kalah halus dan memesonanya.


Namun begitu presentasi ini Anda bandingkan dengan apa yang mereka racik untuk lingkungan permainan yang ada, semuanya terlihat begitu kontras dan menyedihkan. Bukan hanya karena variasi yang begitu minim untuk sebuah game action RPG dimana alih-alih membiarkan Anda bertarung lintas biome yang tentu akan mengusir sedikit rasa kebosanan, hampir sebagian besar dunia Beast of Reincarnation berkutat pada reruntuhan, hutan, dan fasilitasi bawah tanah. Berita lebih buruknya lagi? Bahwa konsep ini tidak lantas menyambut Anda dengan penuh warna hijau yang cerah. Sebagian besar dunia post-apocalyptic ini hadir kusam terlepas dari konsep yang ia usung.
Semuanya kian parah ketika Anda memahamii betapa kasarnya eksekusi yang dihadirkan Game Freak ataupun studio outsource yang mereka percaya untuk menanganinya. Di luar sebagian besar tektstur lingkungan yang hadir rendah, Anda juga akan bisa menemukan efek texture popping di banyak tempat.
Belum cukup buruk? Desain dunia juga tidak sedikit yang memamerkan ilusi terbuka, namun ketika Anda berusaha mencapainya, ia terhalangi dinding tak terlihat sebagai pembatas. Bagian paling parah? Ada “kemalasan” yang kesannya entah muncul karena sengaja atau tidak sengaja, seperti saat Anda menemukan bahwa struktur air terjun yang ia hadirkan ternyata tidak diisi batu yang bahkan menempel rapi satu sama lain.
Untungnya, setidaknya Beast of Reincarnation hadir dengan pendekatan user-interface yang cukup elegan dan efektif di saat yang sama. Memamerkan pohon skill menggunakan bentuk pohon yang sebenarnnya, yang juga terikat pada sisi cerita utama itu sendiri, hadir menarik. Semua sistem equipment untuk Emma dan Koo hadir sederhana dan baik untuk memastikan Anda untuk menagkap informasi cepat soal status, apa yang bisa Anda pasang atau ganti, dan sebagainya. Sisi pertarungan juga tidak cukup “bersih” dengan efek-efek serangan yang tidak berlebihan. Sesuatu yang esensial untuk game action RPG seperti ini.
Sementara untuk urusan audio? Beast of Reincarnation memang terhitung cukup unik jika kita bicara soal antisipasi seperti apa yang bisa kita dapatkan dari karakter yang ada. Berbeda dengan karakter di banyak game yang “hidup”. sang Voice Actress, terutama untuk bahasa Jepang yang kami andalkan, terhitung efektif untuk menangkap ekspresi tanpa emosi milik Emma yang memang diceritakan berusaha untuk mencari kemanusiaannya kembali. Sementara untuk karakter-karakter lain, tidak ada banyak keluhan selain absennya ekspresi wajah yang seharusnya bisa membuat beberapa momen ini menjadi lebih baik.

Namun ada pujian ekstra yang harus kami berikan kepada Beast of Reincarnation ini, yakni untuk OST yang ia usung. Hampir serupa dengan apa yang Anda temukan di NieR dan Stellar Blade, ia menawarkan begitu banyak lagu yang siap untuk membuat hati Anda tenang sembari menikmati begitu banyak kekacauan di layar. Sebegitu baiknya, ia tidak akan terlihat aneh jika berujung masuk ke dalam playlist lagu game pribadi kami.
Sekiro-sisasi NieR-isme

Lewat sisi presentasi yang ada, minus kebutuhan untuk menjadikan sang karakter protagonis utama super sensual, sulit rasanya untuk tidak merasakan atmosfer yang serupa dengan NieR di Beast of Reincarnation. Salah satu peracik atmosfer serupa yang paling efektif selain OST adalah konsep cerita yang akan memuat sebagian besar interaksi cerita dengan para robot bernama Golem alih-alih kelompok manusia yang lain. Walaupun kami yakini, tidak sedikit pula dari Anda yang mungkin akan merasa bahwa asosiasinya dengan Stellar Blade akan terasa lebih cocok dibandingkan dengan NieR Automata.
Di atas atmosfer NieR yang begitu kental ini, Game Freak menyuntikkan permainan action RPG yang justru lebih kental dengan apa yang Anda kenal. Sang protagonis – Emma hanya akan dipersenjatai dengan hanya satu jenis senjata – Katana yang kemudian hadir bervariasi dengan efeknya masing-masing. Fokus permainan tidak didesain untuk menyerang membabi-buta dengan penuh gaya seperti Devil May Cry, melain terukur dan penuh kewaspadaan seperti halnya Sekiro. Walaupun bukan Souls, namun sedikit saja kelalaian tidak akan sulit untuk membuat Anda berujung menikmati layarGame Over. Untungnya? Tidak ada resiko kehilangan resource di sini.
Salah satu elemen terkuat Sekiro di Beast of Reincarnation adalah prioritas sistem pertahanan yang akan sangat mengandalkan aksi parry daripada melakukan side-step. Setiap aksi parry seperti yang bisa diprediksi, juga akan menghasilkan damage untuk posture musuh, yang kemudian akan membuka opsi untuk serangan eksekusi untuk menghabisi mereka secara instan. Lantas, yang membuat game ini unik?


Bahwa aksi parry ini juga kemudian akan diposisikan sebagai sumber resource untuk mengeksekusi skill sang anjing companion – Koo yang akan terus ikut bertarung bersama dengan Anda. Dengan menggunakan satu tombol sederhana, Anda akan membuka menu skill aktif yang bisa diakses Koo, yang masing-masing akan membutuhkan resource dari hasil parry Emma ini. Skill ini akan punya beragam skala damage dan efek debuff untuk mempercepat pertempuran. Tenang saja, di luar skill ini, Koo juga akan terus secara aktif membantu Emma bertahan atau bertarung.
Tidak hanya Koo, Emma juga akan memiliki sebuah resource bar bernama Entanglement yang nantinya bisa diisi dengan beragam aksi berbeda. Sederhananya, Entanglement merupakan sebuah bar resource bagi Emma untuk mengakses beragam skill aktif pribadinya, yang sebagian besar terikat ke dalam kombo serangan itu sendiri. Begitu ia mencapai jumlah tertentu, Anda juga akan bisa mengaktifkan Overdrive yang nantinya akan membuat waktu melambat dan memberikan Anda akses serangan yang lebih bebas.
Maka selayaknya gmae action RPG pada umumnya juga, Beast of Reincarnation akan menyediakan kesempatan untuk memperkuat Emma dan Koo lewat sistem level, penempatan atribut, aksesoris pendukung untuk memperkuat sektor serangan atau pertahanan tertentu, armor, upgrade senjata untuk Emma, hingga varian makanan yang bisa diakses sebelum Anda menjelajahi sebuah tempat. Kesemua sistem ini kemudian menjadi pondasi untuk melakukan ekstra kesibukan aksi eksplorasi untuk mendapatkan ragam reward ekstra, termasuk ragam skill aktif yang nantinya akan menentukan tingkah laku dan akses serangan Koo untuk membantu Anda.
Namun bagian yang paling menarik tentu saja akses pohon skill yang ia usung. Apa pasal? Alih-alih membuatnya terpisah, Beast of Reincarnation menggabungkan resource point unutk pohon skilll Emma dan Koo. Oleh karena itu, keterbatasan ini mau tidak mau membuat Anda harus memilih berdasarkan gaya permainan Anda sejauh ini, apakah Anda ingin memprioritaskannya untuk memperkuat Emma, Koo, atau adil namun tidak membuat salah satu mereka “bersinar”. Ini adalah sistem balancing yang menariknya, kami terima dengan tangan terbuka alih-alih terasa menyebalkan.


Sisa perjalanan Anda kemudian diarahkan untuk menyelesaikan setiap chapter yang ada, yang biasanya menempatkan akan menempatkan Anda di lokasi baru dengan konsep dunia yang sedikit terbuka dan menghadirkan ragam item rahasia dan material untuk dibuka. Ia bisa berujung jadi material berupa biji-bijian untuk aksi tanam tumbuhan di Cleanse Walker Anda yang bertindak bak sebagai sebuah hub, senjata ekstra, hingga material untuk melakukan aksi upgrade senjata melee dan range yang ada.
Proses eksplorasi ini juga menghadirkan salah satu mekanik yang begitu kami cintai dari Beast of Reincarnation, yakni kemampuan Emma untuk memanipuilasi tumbuhan yang akan memungkinkannya untuk tidak hanya meloncat sangat tinggi akan tetapi juga membangun jembatan untuk menggapai platform yang lebih jauh. Sistem ini kemudian dikombinasikan dengan desain level vertikal, yang sekali lagi – walaupun sangat kasar dan terbatas, sebagai ekstra tantangan jika Anda ingin mengejar reward tertentu. Ada kepuasan tersendiri saat mengakses kedua fungsi Emma ini, apalagi ketika Anda memanfaatkannya untuk membunuh musuh secara instan menggunakan stealth kill dari ketinggian.
Sayangnya, semua pesona dari sistem pertarungan ala Sekiro dan aksi eksplorasi ini harus bertabarakan dengan rasa ketidakpuasan yang mengakar kuat di pertarungan boss yang ditawarkan ini. Apa pasal? Karena mengikuti lore yang Anda, sebagian besar Nushi yang harus Anda bunuh akan diposisikan sebagai binatang raksasa yang berukuran besar, dengan limitasi animasi ala binatang pula.


Alih-alih pertukaran tebasan pedang, pengalamaan pertarungan boss Anda kini diisi oleh animasi serangan binatang repetitif yang diperparah dengan sistem kamera yang sering gagal mengakomdasi hal tersebut. Semua ini kian menyebalkan dan terasa memuakkan ketika Beast of Reincarnation juga memutuskan bahwa lari menjauhi Anda adalah bagian dari movest dari setiap boss ini.
Kami sendiri cukup terkejut dengan keputusan ini. Bayangkan saja, Anda sudah membangun sistem pertarungan yang nyaris sama memuaskannya dengan Sekiro lewat aksi parry dan dentingan pedang dan kemudian memutuskan untuk tidak menawarkan kepuasan tersebut sama sekali di ragam pertarungan boss yang ada. Bahwa alih-alih meracik ragam boss humanoid bersenjatakan ragam senjata melee yang tentu perlu penyesuaian lore, ia diisi dengan lebih banyak pertarungan melawan monster raksasa. Bahkan skenario pertarungan melawan Sealer lain dengan Malefact mereka masing-masing juga diisi dengan moveset sisi pertarung manusia yang terlalu sederhana.

