Bukan Hambatan

Diperkenalkan pertama kali via Octopath Traveler, gamer yang familiar dengan konsep HD-2D sepertinya sudah paham jelas soal pendekatan visualisasi modern yang bisa dicapai olehnya sembari mempertahankan cita rasa “klasik” lewat pondasi pixel-art 2.5D yang ia usung. Sesuatu yang juga bisa Anda nikmati di Final Fantasy Resonance ini.
Kita bicara soal gaya visual yang memungkinkan beragam sprite yang hadir bak game “RPG tua” ini punya interaktivitasnya sendiri dengan ragam efek lingkungan yang ada, dari cahaya, bayangan, hingga efek partikel yang ada. Sprite ini juga hadir variatif untuk memastikan ia tetap bisa mengekspresikan beragam emosi dari sekadar wajah hingga tindak-tanduk masing-masing karakter di titik cerita yang tepat. Sebuah langkah yang secara otomatis memberikan ruang bagi Square Enix untuk menyuntikkan kepribadian bagi masing-masing karakter ini.
Satu hal yang menarik, Final Fantasy Resonance juga menjadi bukti yang sangat jelas bahwa pendekatan HD-2D seperti ini bukanlah batasan untuk menawarkan pengalaman yang lebih sinematik. Ia tetap memungkinkan sang tim untuk membangun cut-scene dengan ragam sudut kamera dan animasi berbeda atas nama dramatisasi yang efektif. Ia mungkin tidak segila level game-game 3D yang seharusnya, namun jelas, ia tetap bisa dieksplorasi untuk membangun atmosfer yang tepat. Mata gamer mana yang tidak termanjakan ketika kombinasi visual pixel-art ini meyajikan semburan Mega Flare Bahamut yang mengerikan dan anggun di saat yang sama.


Terlepas dari fakta bahwa ia bisa diposisikan sebagai “remake” dari Final Fantasy Brave Exvius, Resonance tetap menyuntikkan pendekatan visual serupa untuk para Visions yang sebagian besar diisi oleh karakter-karakter utama Final Fantasy.
Ketika mereka berkesempatan untuk mengeksekusi serangan ultimate mereka masing-masing, visual berganti dengan FMV singkat yang super keren dan sedikit penutupan animasi dari model in-game di akhir. Cara yang efektif untuk membuat setiap dari mereka terlihat kuat dan destruktif dengan tiap animasi ini, walaupun harus diakui, beberapa modelnya berujung terlihat terlalu halus dan cantik. Ia lebih mirip dengan model Dissidia racikan Koei Tecmo daripada seri original masing-masing.
Visual HD-2D yang ditawarkan game ini juga berujung bukan halangan untuk memberikan apresiasi ekstra untuk beragam desain karakter yang ditawarkan game ini, protagonis ataupun antagonis, terutama yang lahir sebagai karakter original Resonance. Armor setiap Sworn Six tampil memukau dan berkepribadian, bahkan ketika ia “hanya” disajikan dalam model HD-2D-nya saja. Artwork model tiap karakter pendukung dalam cerita, terutama para karakter wanitanya, juga tidak kalah memesonanya. Sebagian besar dari mereka juga diterjemahkan dengan sangat baik ke sprite karakter mereka.


Maka sisi presentasi visual yang sudah memukau ini juga untungnya didukung dengan sisi audio yang solid. Kombinasi ragam OST original dan gubahan klasik akan menemani perjalanan Anda yang tentu saja akan dipenuhi rasa nostalgia yang kental untuk para veteran yang memang sudah familiar dengan franchise ini. Sementara sisi voice acting-nya, terutama di versi bahasa Inggris yang kami jajal, juga terhitung solid. Scene dramatis dan emosional yang sempat dilewati karakter Rain misalnya, hadir dengan kualitas akting di atas standar dan terhitung berhasil mempresentasikan scene dengan mood yang tepat.
“Nyerang Kok Giliran?”

Maka bersama dengan pendekatan visual klasik sebagai game Final Fantasy pertama dengan gaya visual HD-2D, Final Fantasy Resonance juga menawarkan pendekatan serupa dari sisi gameplay. Bahwa berbeda dengan dua seri utama sebelumya, ia merupakan game RPG turn-based yang seringkali di mata orang awam bukanlah skema pertarungan yang rasional. Kita bicara soal konsep yang di masa lalu seringkali memicu pertanyaan besar, “Berantem kok gantian?”.
Namun tidak seperti seri klasik yang didasarkan pada sistem ATB alias Active Time Battle, Final Fantasy Resonance menggunakan sistem giliran yang lebih mirip dengan apa yang sempat mereka suntikkan di Final Fantasy X. Ini berarti Anda akan disajikan dengan keseluruhan timeline giliran pertarungan, baik dari sisi Anda ataupun musuh, yang kemudian bisa dijadikan sebagai pondasi ber-strategi. Posisi giliran gerak di timeline ini tentu saja bisa bergeser lebih cepat atau lambat bergantung pada buff atau debuff kecepatan yang dilempar saat bertarung.
Tentu saja, sudah bukan zamannya lagi untuk memainkan sebuah game turn-based tanpa elemen strategi sama sekali. Dengan sistem party 4 karakter yang masing-masing juga “dipecah” ke dalam kategori peran berbeda seperti Sentinel atau Breaker untuk menyederhanakan efektivitas fungsi kit yang mereka bawa saat bertarung, Final Fantasy Resonance akan mendorong Anda untuk mengeksploitasi elemen kelemahan musuh yang Anda temui, termasuk para boss dan mini-boss yang Anda temui.


Fungsinya? Selain menjanjikan damage yang lebih besar, eksploitasi kelemahan ini juga akan lebih cepat menguras bar Stagger milik musuh, yang seperti di kebanyakan game RPG yang lain, juga akan membuat musuh jatuh dalam status stun dan rentan. Selama dalam status “Staggered”, mereka akan berdiam untuk sementara waktu dan menerima damage lebih besar.
Yang menarik? Final Fantasy Resonance juga menawarkan ekstra reward ketika situasi ini berhasil dipicu. Jika hanya terjadi pada satu musuh di antara beberapa musuh yang ada, maka sang pemicu akan mendapatkan satu ekstra turn untuk dimanfaatkan. Namun jika semua musuh berhasil jatuh dalam posisi Stagger, maka Anda akan memicu fase “Sweeping Stagger” yang akan secara otomatis memberikan semua karakter tambahan giliran. Giliran ini juga akan ditutup dengan serangan pemungkas dari Vision yang Anda bawa ke pertarungan, yang tentu saja menjanjikan damage besar atau efek buff / debuff yang lebih menjanjikan.
Visions memang salah satu mekanik terunik dan terpenting di Final Fantasy Resonance. Ia bisa berujung menjadi karakter original atau karakter ikonik dari semua seri utama Final Fantasy yang sudah eksis selama ini. Diperlakukan bak equipment aksesoris yang bisa “ditempelkan” pada anggota party Anda, Visions adalah pondasi untuk tidak hanya memenangkan pertarungan saja, tetapi juga memperkuat karakter di tim utama Anda.
Mengapa? Karena setiap karakter Visions yang Anda tempelkan akan memberikan Anda sebuah set skill aktif dan pasif yang bisa Anda akses secara instan, yang kapasitas kekuatannya juga ditentukan dari berapa tingkat lapisan resource yang sudah Anda alihkan untuk memperkuat mereka. Hubungan antara karakter dan Vision yang menemaninya bisa diperkuat via resource yang Anda dapatkan di akhir pertarungan bernama MRP.


Begitu Mastery Rank sang karakter dan Vision yang ia “kenakan” sudah menyentuh level 9, maka ia berkesempatan untuk memanfaatkan keseluruhan skill Vision tersebut tanpa harus memasangnya secara aktif. Tentu saja, ada proses balancing di sini – sebuah resource ekstra bernama AP dan slot yang akan membatasi berapa banyak skill yang bisa Anda pasang.
Di sinilah Final Fantasy Resonance bersinar di mata kami. Dengan kehadiran begitu banyak Visions yang masing-masing datang dengan keunikannya masing-masing, yang berarti juga akses ke begitu banyak skill aktif dan pasif untuk dikombinasikan, Anda akan diberikan ruang kreatif yang cukup luas untuk membangun build-build mematikan yang bisa terasa tidak balance di banyak skenario. Salah satu build favorit kami di end-game? Sebuah kombinasi yang memungkinkan satu karakter untuk mengeksekusi 16 serangan skill aktif berturut-turut, tanpa jeda.
Maka sisa petualangan Anda akan berkutat pada pengalaman JRPG klasik yang mungkin sudah lama Anda rindukan. Kami bicarakan soal kesempatan untuk menggunakan pesawat untuk menjelajahi dunia, mendarat di begitu banyak lokasi misterius, bertarung melawan monster-monster kuat yang tersebar, dan bahkan – mengumpulkan beragam summon alias Esper yang nantinya akan bisa diakses oleh satu karakter summoner saja. Anda juga akan berkesempatan untuk menyelesaikan ragam misi sampingan, yang bahkan juga akan memberikan latar belakang cerita yang lebih jelas untuk anggota party Anda yang lain.


Kesemuanya disajikan dalam bentuk yang terasa disederhanakan dan compact bahkan dibandingkan dengan banyak game JRPG lain. Sebagian besar dungeon didesain pendek dan jelas dengan aksi bertarung melawan boss di akhir. Sementara misi sampingan disajikan dalam bentuk ikon warna biru saat di peta dunia yang biasanya juga hanya meminta Anda untuk berbicara dengan satu karakter spesifik sebelum berakhir mengalahkan, benar sekali, lagi-lagi, monster penting di akhir. Yang menarik? Tidak hanya aksesoris, senjata, atau armor tambahan, misi sampingan yang berhubungan dengan karakter biasanya juga menawarkan reward tambahan atribut permanen di akhir.
Tenang saja, semua hal yang Anda butuhkan dari sebuah game JRPG juga akan tersedia di Final Fantasy Resonance ini. Ingin menguji kehebatan party Anda di arena Colliseum? Ada. Ingin bertarung melawan super boss tersembunyi? Ada. Ingin mengumpulkan material superior atas nama meracik senjata-senjata terkuat yang bisa Anda dapatkan? Resonance juga menyediakan kesempatan tersebut. Ia hadir bak paket lengkap sebuah pengalaman JRPG yang seharusnya.

