Visi Masa Depan

Ada satu hal yang sulit untuk dikesampingkan begitu saja ketika mencicipi Final Fantasy Resonance, yang sekali lagi, diposisikan sebagai game Final Fantasy pertama dengan visual HD-2D. Bahwa lebih dari sekadar sebuah pendekatan JRPG klasik yang memanjakan mata dan memuaskan hati, ia juga menyimpan potensi. Sebuah visi masa depan.
Karena sulit rasanya untuk menyangkal bahwa ada kesan kuat Resonance sengaja diracik dan dilahirkan untuk juga menguji seberapa positifnya resepsi pasar untuk seri Final Fantasy dengan gaya seperti ini. Karena seperti yang kita tahu, mustahil rasanya jika Square Enix tidak pernah sekalipun mendengar “teriakan-teriakan” di ragam situs sosial media dari para fans yang ingin kembali merasakan cita rasa Final Fantasy klasik dengan gaya turn-based.
Lewat apa yang berhasil mereka capai dengan Final Fantasy Resonance, Square Enix sekarang punya pondasi teruji bahwa pasar yang selama ini terus mereka narasikan enggan untuk menikmati game RPG turn-based dan lebih memilih action RPG yang aktif dan modern, ternyata tetap menggemari mekanik seperti ini ketika ia dieksekusi dengan tepat.
Dikombinasikan dengan contoh kasus dari luar Square Enix seperti Expedition 33 dari Sandfall Interactive dan seri Persona dari ATLUS, sudah selayaknya mereka kini memahami seperti apa pendekatan dan eksekusi yang bisa diambil untuk membuat Final Fantasy turn-based relevan dan menarik. Sejujurnya, tidak akan ada gamer yang berkeberatan dengan hanya sekadar sistem turn-based dengan mekanik eksploitasi elemen kelemahan musuh tanpa harus jatuh pada aksi tekan timing ala Lost Odyssey atau Expedition 33 di Final Fantasy XVII nanti.


Visi ekstra yang bisa didapatkan dari contoh kasus Resonance juga bisa mengakar pada potensi pendekatan remake seri klasik Final Fantasy di masa depan. Jelas, gamer sama sekali tidak berkeberatan dengan HD-2D dan bahkan bisa dibilang, mencintai pendekatan visual yang satu ini. Dengan sedikit modernisasi tanpa harus berujung memperhalus visualnya hingga batas yang tidak bisa lagi dikenali seperti yang sempat terjadi di versi mobile, Square Enix punya salah satu senjata terbaik di industri game untuk mencapai hal tersebut. Ini adalah format terbaik untuk membawa Final Fantasy IV – VI ke era modern.
Dengan Resonance juga, gamer juga seharusnya membuktikan kepada Square Enix bahwa fans Final Fantasy sendiri tidak berkeberatan dengan sebuah pengalaman JRPG yang memang didesain ringkas dan padat untuk sesuatu yang bisa diselesaikan tanpa membutuhkan ratusan jam. Bahwa semua seri Final Fantasy, terutama seri spin-off, harus didesain sebagai sebuah game dunia terbuka dengan segudang aktivitas dan misi sampingan yang bisa menuntut waktu hingga ratusan jam untuk dinikmati secara penuh. Bahwa gamer juga bisa berakhir puas dengan sebuah ending definitif, daripada dipaksa terjun ke dalam sebuah game live-service.

Ada harapan besar bahwa resepsi positif yang diterima Final Fantasy Resonance akan mengubah sesuatu di dalam Square Enix, atau setidaknya membangkitkan keberanian mereka untuk mengeksplorasi lebih banyak pendekatan kreatif berbasis visual HD-2D ini. Akan lebih fantastis lagi, jika inspirasi tersebut menabrak franchise Final Fantasy dan diaplikasikan untuk proses remake, racik seri spin off, hingga bangun seri utama baru di seri game mereka yang lain, terutama yang saat ini tengah tertidur pulas.
Kesimpulan

Sebagai seri HD-2D pertama untuk franchise legendaris andalan Square Enix yang satu ini, Final Fantasy Resonance berhasil hadir sebagai game JRPG sederhana dan ringkas yang pantas dirayakan. Ia memenuhi semua elemen yang dibutuhkan para fans genre ini, terutama mereka yang tumbuh dengan seri klasik di era konsol beberapa generasi sebelumnya. Visual yang memanjakan mata, musik penuh nostalgia, sistem pertarungan berbasis Visions yang strategis dan fleksibel di saat yang sama, FMV yang memukau, dan elemen JRPG klasik yang kesemuanya ditawarkan di satu ruang yang sama membuatnya terasa bak sebuah pelepas dahaga untuk kerinduan yang ternyata sudah berada dalam posisi akut.
Walaupun demikian, Final Fantasy Resonance tidak bisa disebut sebagai sebuah game JRPG yang sempurna. Salah satu keluhan utama kami adalah pacing cerita yang pantas untuk dipertanyakan, terutama saat kita bicara soal cerita sampingan yang difokuskan pada karakter pendamping. Jujur, kami menyimak cerita latar belakang karakter ini dengan saksama untuk beberapa di awal. Namun ketika ia sudah meminta Anda untuk bergerak kesana-kemari hanya untuk memicu dialog saja, kami melewatkan kesemuanya dengan tombol skip. Salah satu desain dungeon yang meminta Anda untuk bertarung melawan boss demi boss tanpa jeda juga pantas memicu tanda tanya.
Namun di luar kekurangan tersebut, kami tetap akan merekomendasikan Final Fantasy Resonance untuk para penggemar JRPG, terutama mereka yang sudah tumbuh besar dengan Final Fantasy selama puluhan tahun terakhir. Ia akan menawarkan sebuah visi masa depan sekaligus, cermin masa lalu.
Kelebihan

- Visualisasi HD-2D yang memanjakan mata
- Visions hadir sebagai layer strategi yang menawarkan fleksibilitas build yang seru
- Elemen RPG seperti senjata terkuat, boss rahasia, sampai Colosseum dihadirkan
- FMV dan ragam dramatisasi hadir solid
- OST penuh atmosfer nostalgia
- Artwork karakter diterjemahkan dengan sangat baik ke sprite karakter
Kekurangan

- Cerita latar belakang karakter sampingan berujung membosankan
- Desain dungeon end-game agak absurd
Direkomendasikan untuk gamer: penikmat Final Fantasy, pencinta JRPG dengan cita rasa klasik
Tidak direkomendasikan untuk gamer: yang menginginkan RPG dengan mekanik kompleks, yang butuh cerita dengan tema lebih berat

