Review CONTROL Resonant: Di Atas Normal!
Page 2

Review CONTROL Resonant: Di Atas Normal!

Author picture
Author picture

Di Atas Normal

Serahkan pada Remedy untuk urusan membangun setting dengan atmosfer dan pendekatan yang aneh dan unik di saat yang sama.

Berusaha memotret dan merepresentasikan makhluk dan kekuatan yang tidak rasional untuk eksis di dunia sembari memberikan mereka bentuk, pengaruh, dan juga fungsi tentu saja bukan pekerjaan yang mudah, apalagi dengan komitmen untuk tidak membawa mereka ke ranah horror. Hal tersebutlah yang berhasil dieksekusi manis oleh Remedy di seri pertama yang untungnya, juga berhasil mereka eksekusi di CONTROL Resonant ini.

Namun tidak lagi sekadar rumah tua atau kota-kota kecil, game ini akan menawarkan kepada Anda – kota Manhattan yang kini tidak lagi sama. Ada bagian dimana ia terlipat kesana-kemari, yang desainnya cukup mengingatkan Anda pada visualisasi yang sempat ditawarkan oleh film Christopher Nolan – Inception. Kerennya lagi? Lipatan kota dan gedung karena kekuatan supranatural ini bukan sekadar latar belakang untuk kosmetik saja. Anda juga akan berhadapan dengan desain level dimana navigasi melewatinya akan jadi tantangan tersendiri.

Semakin luas daerah yang Anda eksplorasi dan karakter yang Anda temui, desain dunia yang sudah begitu keren ini kian diperkuat dengan ragam karakter dan lore kuat yang menjadi pondasinya.

Anda akan bertemu dengan para pekerja FBC yang mondar-mandir, berusaha merasionalisasi fenomena tak masuk akal yang mereka temui. Anda akan bertemu dengan kejadian yang serupa langsung dengan mata kepala Anda sendiri, dimana objek-objek dengan kekuatan ini “menyandera” hidup manusia yang tidak tahu apa-apa. Dan pelan tapi pasti, game juga akan melebur begitu banyak momen-momen absurd dengan pendekatan khas Remedy yang cukup mampu membuat Anda tersenyum dengan humor gelapnya.

Manhattan menjadi lebih “hidup” berkat kehadiran anggota FBC lainnya yang berusaha merasionalisasi ragam kejadian aneh yang mereka temui.
Pendekatan kamera yang jauh dari karakter adalah salah satu hal yang kami apresiasi dari game ini, terutama saat bertarung.

Salah satu apresiasi terbesar kami untuk game ini adalah pengertian Remedy soal skala tempat yang ia tawarkan berbanding dengan konsep action RPG berbasis melee yang ia usung. Ia sama sekali tidak memaksakan kamera agak dekat atas nama sinematik misalnya. Ketika Anda dikerubungi banyak monster dalam pertarungan aktif, kamera diposisikan cukup jauh untuk memastikan Anda akan bisa melihat dan mengawasi apa yang tengah terjadi dengan nyaman. Hasilnya? Adalah sebuah game action RPG dengan sistem kamera yang minim masalah.

Pujian juga pantas untuk diarahkan pada desain level CONTROL Resonant yang ternyata mampu hadir beragam terlepas dari fakta bahwa ia berfokus hanya pada satu kota saja. Terbagi ke dalam beberapa region berbeda, Anda akan menemukan distrik yang benar-benar normal, yang punya sedikit keanehan dengan jamur yang mulai menjalar nyaris ke setiap sudut, hingga yang tidak lagi banyak memerdulikan soal gravitasi dan logika fisika bumi untuk Anda lewati. Untungnya? Dylan yang notabene bukan manusia biasa juga langsung dipersenjatai dengan ragam kemampuan penunjang mobilitas, dari aksi lari cepat hingga melayang yang kesemuanya terasa memuaskan.

Bagian terbaik lainnya dari game ini? Percaya atau tidak, suara efek. Seolah apa yang berhasil mereka capai dengan seri pertama belum cukup, Remedy memastikan bahwa semua suara efek entitas bukan makhluk bumi yang Anda temukan di sini akan punya sistem komunikasinya sendiri, dari yang memiliki bahasa hingga yang mengandalkan pola getar suara. Sebegitu kerennya, hingga ini akan jadi satu dari sedikit game dimana kami akan menyarankan Anda untuk menggunakan earphone / headset terbaik Anda untuk menikmatinya.

Kami sendiri tidak akan ragu untuk merekomendasikan Anda untuk mengenakan perangkat audio terbaik Anda untuk menikmati CONTROL Resonant ini dengan lebih maksimal.

Hal yang serupa juga ditawarkan dari sisi voice acting dan OST yang juga tidak kalah memesonanya. Kami senang bagaimana Dylan ternyata didukung dengan voice acting yang jelas mewakili karakter yang terlihat lebih santai dan terkadang bingung, menambah ekstra lapisan kepribadian alih-alih jatuh dalam trope protagonis yang seringkali penuh energi, nilai moral, dan dramatis seperti pada umumnya. Kualitas yang tak kalah gemilang juga ditawarkan sisi OST yang salah satunya kini bahkan sudah resmi masuk playlist harian kami.

Tongkat Penyelesai Masalah

Bersenjatakan Aberrant yang mampu berubah bentuk, CONTROL Resonant diposisikan sebagai game action RPG yang berfokus pada serangan melee.

Sebelum kita terjun lebih jauh, ada satu hal yang sekali lagi perlu kami tegaskan sebelum kami terjun lebih jauh. Bahwa terlepas dari persepsi Anda apakah ia terlihat mewakili genre tersebut atau tidak, CONTROL Resonant adalah sebuah game action RPG. Oleh karena itu, seperti halnya semua game RPG modern yang Anda kenal selama ini, proyek teranyar Remedy Entertainment juga kemungkinan besar menyediakan hal tersebut.

Salah satu yang paling kentara dan pantas untuk dirayakan adalah fleksibilitas build yang bisa Anda pasangkan pada Dylan,yang juga sesuai dengan lore sang senjata – Aberrant yang diceritakan sebagai tongkat yang mampu berubah menjadi beberapa bentuk. Anda akan diberikan setidaknya tiga opsi untuk senjata utama dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing, tiga opsi untuk senjata sekunder, dan alternatif yang cukup banyak untuk Combo Finishers. Untuk urusan terakhir ini, ia diposisikan sebagai serangan penutup kombinasi yang disertakan, yang uniknya bisa Anda gonta-ganti, dengan sekali lagi, kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

Maka seperti game RPG juga, CONTROL Resonant juga didukung dengan kesempatan untuk memperkuat Dylan dengan ragam cara. Peti harta karu dan aksi Anda  membasmi para monster yang mengisi kota akan menghadiahi Anda resource mata uang bernama “Source” dan segudang material yang bisa dialihkan untuk membuka skill baru untuk senjata utama dan sekunder, memperkuat serangan penutup, dan juga meracik aksesoris pendukung yang akan menawarkan buff spesifik pada Dylan.

Yang membuat CONTROL Resonant cukup unik? Sistem kenaikan levelnya. Berbeda dengan sistem RP kebanyakan yang menghitung sistem level hanya didasarkan pada aksi si karakter dan jumlah EXP yang ia terima, game ini justru mengaitkannya dengan aktivitas Anda di Manhattan. Masih ingat bagaimana kami menyebut kota yang sudah tertekuk di sana-sini ini terbagi menjadi beberapa distrik? Di sinilah sistem level itu bermain.

Bergantung pada aksi yang Anda lakukan di setiap distrik, dari menghancurkan monster yang Anda temui, menyelesaikan misi sampingan, atau menyelesaikan aktivitas tambahan seperti event-event acak yang tersedia, kontribusi Anda akan diterjemahkan pada EXP untuk si distrik dimana hal tersebut terjadi. Begitu EXP untuk si distrik ini penuh, Anda tidak hanya mendapatkan satu ekstra Talent Points yang nantinya bisa didistribusikan ke pohon skill saja, tetapi juga lebih banyak fungsi untuk Anda akses. Sebagai contoh? Akses ke lebih banyak item di toko, butiran bola pemulih HP yang kian banyak, dan juga informasi peta yang akan lebih lengkap.

Anda akan mendapatkan ekstra skill points untuk kenaikan level distrik yang Anda bantu. Sistem level ini membuat game ini unik.
Mengalahkan para monster keren bernama Resonant ini juga akan otomatis memperkuat semua monster yang ada atas nama balancing.

Dengan maksimal level di setiap distrik berada di angka belasan, maka game ini tidak akan memungkinkan Anda untuk hanya berdiam di satu area saja untuk memperkuat diri dan kemudian berujung melibas monster-monster di area lain. Menariknya lagi? Ia juga datang dengan sebuah sistem balancing yang cukup unik. Untuk setiap monster utama bernama Resonant yang Anda bunuh, yang juga harus diakui punya desain super keren, game ini juga akan secara otomatis memperkuat semua monster yang ada secara keseluruhan untuk menyeimbangkan diri dengan akses skill baru yang biasanya Anda dapatkan setelah proses ini.

Apakah game ini bisa disebut baik dari sisi balancing? Tidak. Tapi perlu diingat pula, bahwa masalah build yang berujung over-powered dan mampu melelehkan hampir semua musuh dengan mudah adalah konsekuensi fleksibilitas yang seringkali terikat pada game action RPG manapun, termasuk CONTROL Resonant. Selama Anda rajin membaca deskripsi skill di skill tree dan ragam skill aktif yang bisa Anda gunakan, Anda tidak akan sulit untuk menemukan kombinasi yang pas untuk mencapai level ini. Fakta bahwa akses skill aktif Anda akan dibatasi oleh jumlah bar bernama Power pun tidak akan cukup efektif untuk membatasi aksi Anda di situasi ini.

Seperti “kelemahan” banyak game RPG, fleksibilitas build tinggi berarti potensi membangun kombinasi kekuatan over-powered yang akan membuat pertarungan terasa mudah dan repetitif, seperti yang kami rasakan di CONTROL Resonant ini.
Remedy bahkan berhasil mengintegrasikan sistem summon di sini.

Namun untuk urusan varian skill, game ini memang pantas untuk dipuji. Remedy cukup cerdas untuk membuat mekanik berbasis melee ini tetap punya ruang untuk sebuah strategi, termasuk yang melibatkan kesempatan untuk melakukan aksi summon monster untuk bertarung di sisi Anda hingga mengubah aliansi mereka sebagai pembantu Anda alih-alih lawan di end-game.

Maka sisa Anda di petualangan terbuka CONTROL Resonant adalah menikmati betapa nikmat dan luwesnya mobilitas Dylan sebagai “manusia super”. Ia bisa meloncat tinggi, melayang untuk sementara waktu, berlari super cepat, hingga memanipulasi gravitasi di saat ia dibutuhkan.

Tidak bisa dipungkiri, dengan mobilitas seperti ini, kemampuan platforming juga akan menjadi salah satu hal yang diuji dari Anda, terutama saat Anda diminta untuk mencari kemana Anda harus melangkah selanjutnya untuk mencapai tempat yang Anda butuhkan.  Berita baiknya? Game ini tidak akan memberikan banyak petunjuk ala game modern yang akan langsung memberikan Anda arah yang dibutuhkan dan lebih meminta Anda untuk mencari dan bereksperimen sendiri.

Platforming juga akan jadi bagian tantangan yang harus Anda lewati, yang juga kian kompleks seiring cerita berjalan.
Alih-alih sekadar menu barisan dengan tulisan, Dylan akan mengakses sebuah tempat khusus bernama “The Gap” yang nantinya juga punya peran penting dalam narasi.

Dengan beberapa titik fast travel untuk membantu pergerakan Anda dengan lebih cepat, game ini datang dengan sebuah sistem unik bernama “The Gap”. Bahwa alih-alih sekadar membuat keseluruhan sistem upgrade Dylan sekadar sebagai menu tertulis yang bisa Anda akses, Remedy menjadikannya sebagai sebuah ruang terpisah nan misterius yang bisa Anda akses dengan menahan tombol bawah hingga memunculkan  animasi Dylan yang tidak sadarkan diri. Tenang saja, lebih dari sekadar keputusan kreatif semata, kehadiran The Gap nantinya juga akan dirasionalisasi dari sisi narasi.

Author picture
Editor in Chief
Pladidus sudah berkecimpung selama 14 tahun di industri media game Indonesia dan selalu bersemangat untuk merekomendasikan Suikoden II kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Next Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Level Up Your Gaming News!

Subscribe for the latest gaming news and updates.

Share this website