Tidak Rapi

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar nama studio first-party Sony dan Playstation 5? Bahwa terlepa dari kualitas akhir gameplay ataupun cerita yang ia usung, biasanya studio-studio first party ini selalu mampu mengoptimalkan Playstation 5 dengan baik, bahkan versi non-pro sekalipun. Bahwa setidaknya dari keseluruhan pengalaman yang ia tawarkan, kita mendapatkan sebuah game yang sudah dipoles sedemikian rupa sehingga ia hadir memesona. Berita buruknya? Bukan hal ini yang kami temukan dengan Marvel’s Wolverine.
Kemampuan dan kehebatan Insomniac Games di Marvel’s Wolverine memang pantas untuk dipuja-puji saat kita bicara soal model karakter, khususnya Logan yang terlihat memesona. Kita bisa melihat detail yang ia tawarkan, bahkan dari helai rambut hingga bulu tubuh yang ia miliki. Ada rasa puas pula ketika melihat kostum hingga topeng yang ia kenakan berujung tercabik-cabik setelah melewati pertarungan sengit, yang tidak semua variannya bisa beregenerasi kembali. Semuanya lengkap dengan barisan alternatif kostum yang bisa Anda racik, yang uniknya juga berpengaruh ke sisi gameplay.
Apresiasi yang sama juga pantas diarahkan untuk desain banyak karakter pendukung yang akan menemani cerita Logan, terutama untuk Jean Grey dan Mystique yang memang layak untuk dipuji. Ragam lokasi indoor yang Anda singgahi, baik yang sekadar hadir sebagai ruang untuk melanjutkan cerita atau benar-benar arena pertarungan lintas negara, kesemuanya hadir standar game modern. Tidak kesemuanya dramatis atau sinematik memang, namun setidaknya area-area dalam ruangan ini menjalankan tugasnya dengan baik.
Namun semua puja-puji Ini seolah rontok saat kita bicara soal begitu banyak lokasi outdoor di Marvel’s Wolverine yang berujung hadir mengecewakan, terutama dari sisi kerapian dan ketelitian. Tanpa bermaksud berlebihan, bahkan hingga di titik kami merasa bahwa ini game ini sama sekali tidak mencerminkan kualitas dan etos kerja Insomniac Games yang kita kenal selama ini, apalagi lewat tiga seri Spider-Man sebelumnya.
Kita bicara dari hal sesederhana cut-scene saja. Seperti gambar yang kami sajikan, Anda akan menemukan momen dimana Logan dan Jean Grey harus mendaratkan pesawat mereka secara darurat di Tokyo karena satu dan lain hal. Walaupun kami paham bahwa ini semua hanya latar belakang, namun berujung betapa menggelikannya ketika melihat “Tokyo” yang berada di cut-scene terlihat bak kota metropolitan yang diracik oleh developer indie kelas kacang tanpa budget sama sekali.
Ketika Logan berupaya mendaratkan pesawat ini dan kita diberi intipan soal kota Tokyo, yang Anda temukan adalah desain gedung super sederhana dan malas yang terlihat bak kotak-kotak tinggi dengan garis warna acak untuk menggambarkan lampu yang tengah hidup.

Semua kotak ini hadir tanpa desain unik yang kemudian berujung membuat kota ini tidak terlihat seperti Tokyo. Bahkan eksistensi Tokyo Tower yang setidaknya berdiri di kejauhan tidak banyak membantu. Jujur, kami tertawa terbahak-bahak saat scene ini muncul karena dua alasan: karena ini memang menggelikan dan karena kami tidak percaya bahwa ini adalah sebuah game yang diracik oleh developer sekelas Insomniac Games. Kami paham bahwa ini hanya sekadar latar belakang cerita, namun bukan berarti ia tidak pantas diperhatikan dengan lebih serius, bukan?
Masih belum cukup? Salah satu level juga akan membawa Anda ke Mandripoor dengan sedikit ekstra kesempatan untuk menikmati kota fiktif Marvel yang terinspirasi dari Asia Tenggara ini, termasuk indonesia. Anda bisa melihat gerobak-gerobak berbahasa Indonesia hingga Vietnam di sini, termasuk gorengan dengan harga super tinggi. Namun semakin menjelajahi kota ini, semakin aneh ia terlihat dan menguatkan apa yang kami keluhkan soal “ketidakrapian” Marvel’s Wolverine itu sendiri.
Pertama, kualitas tekstur setiap gerobak yang Anda temukan ini terlihat menggelikan. Ia kaku tanpa mampu mempresentasikan material yang membangunnya, yang membuatnya bak aset dari konsol generasi sebelumnya. Kedua dan yang lebih parah? Anda akan menemukan bagaimana aset-aset ini hadir berulang dalam jarak yang begitu dekat.
Bagaimana mungkin ada setidaknya 3 restoran Banh Mi dan 3 gerobak makanan Indonesia di dalam jarak yang dekat? Yang setiap dari mereka juga datang dengan desain spanduk dan papan harga yang sama? Kami mengerti bahwa Insomniac Games mungkin tidak paham soal budaya Asia Tenggara atau apa yang bahkan tertulis di aset-aset ini. Namun bukankah rasional bagi kita untuk menuntut Insomniac setidaknya membangun Mandripoor, di luar bar milik Mystique, sebagai kota yang bisa dipercaya eksistensinya?

“Ketidakrapian” ini juga sayangnya, terlihat dan terasa di banyak ruang yang dijadikan Insomniac Games sebagai arena bermain untuk Marvel’s Wolverine yang memang diposisikan sebagai game linear ala Uncharted alih-alih open-world ala Marvel’s Spider-Man. Jadi alih-alih sebuah dunia terbuka yang bisa Anda eksplorasi dengan bebas, Anda akan bergerak dari satu level ke level lainnya selayaknya apa yang ditentukan oleh Insomniac di sini. Terkadang, Anda akan menemukan level dengan konsep sedikit terbuka namun tetap dalam lingkup sempit di game ini.
Masalahnya? Atas nama alasan untuk menawarkan pengalaman Wolverine yang seharusnya, Insomniac Games juga memungkinkan Anda untuk mengakses kemampuan lompat tinggi Wolverine dengan tombol R2 + X. Ini berarti Anda akan diberi kesempatan mengakses tempat yang lebih tinggi dengan tombol yang satu ini. Berita buruknya datang dari fakta bahwa Insomniac entah karena alasan apa, terhitung gagal menaruh pembatas area yang pantas dan juga kreatif di saat yang sama.
Hasilnya adalah sebuah pengalaman eksplorasi yang semakin tidak imersif ketika Anda menemukan tanpa alasan yang jelas bahwa lompatan tinggi Wolverine yang membuatnya bisa menaiki atap gedung yang satu ternyata tidak bisa digunakan untuk menaiki atap gedung lain yang notabene punya tinggi yang tidak berbeda. Ia tiba-tiba kehilangan kemampuan dan keinginan untuk mendorong dirinya sendiri dengan menancapkan cakar beberapa kali dan memanjat ketika di situasi ini. Jelas bahwa Marvel’s Wolverine punya banyak “invisible wall” untuk memastikan Anda tidak bergerak keluar dari koridor yang disediakan. Hanya saja, cara Insomniac menutup akses ini juga terkadang terasa malas bak developer yang baru meracik game AAA untuk pertama kalinya.
Masih belum cukup buruk? Kami juga menemukan skenario pertarungan di arena terbatas dimana dinding tidak terlihat ini juga diimplementasikan dengan cara penanganan yang buruk. Bertarung melawan The Hand di arena tersebut, ada satu batas area dimana Anda tidak diperkenankan melewatinya. Begitu ujung kaki Anda lewat? Layar hitam singkat dan Wolverine akan otomatis di-reset posisinya ke satu titik dekat batas tersebut. Secara desain, kami paham bahwa ini dibutuhkan. Namun mengingat ini Insomniac Games, sebuah studio first party Sony, tentu ada cara lebih elok untuk mengeksekusinya.
Untungnya, semua keluhan di sisi visual ini tidak terjadi di sisi audio. Untuk urusan pilihan musik dan voice acting tiap karakter, terutama untuk Logan, Mystique, dan Jean Grey, kesemua aktor / aktris suara tersebut melakukan tugasnya dengan baik. Walaupun detail wajah yang diusung tidak seekspresif Onimusha: Way of the Sword dari Capcom, namun sekuens yang ditawarkan cukup untuk membuat setiap sisi karakter ini, termasuk emosi yang hendak mereka ungkapkan, tereksekusi dengan baik.
Marah! Marahlah!

Sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa Marvel’s Wolverine bukanlah game open-world ala Marvel’s Spider-Man. Apa yang ditawarkan Insomniac Games di sini lebih dekat dengan petualangan ala Uncharted, sebuah pengalaman linear yang didesain untuk mendorong sisi naratif yang ada. Berkaca dari Uncharted pula lah, ia tidak selalu berada dalam intensitas tinggi dari satu level ke level lainnya. Ada sedikit porsi level dimana ia sengaja didesain untuk memberikan Anda masa tenang, yang difokuskan untuk membangun karakter dan hubungan antar keduanya. Untuk urusan ini, setidaknya mereka mengeksekusinya dengan cukup baik, terutama saat kita bicara soal Logan dan Jean Grey.
Namun pada akhirnya, Marvel’s Wolverine adalah sebuah game action murni berbasis melee, dimana cakar adamantium yang menjadi ciri khasnya akan jadi ujung tombak untuk mengatasi semua masalah yang ada. Dan tentu saja, Insomniac tidak bisa melupakan kekuatan regenerasinya juga.
Kombinasi kedua konsep yang mendefinisikan siapa Wolverine ini memang harus diakui, dieksekusi dengan manis oleh Insomniac Games. Seperti halnya game action melee yang seharusnya, Wolverine didukung serangan biasa dan kuat yang bisa dikombinasikan untuk membunuh musuh dengan cepat. Ia juga dilengkapi dengan aksi parry serangan musuh dan juga serangan khusus untuk membuat musuh jatuh dalam situasi stagger, yang kemudian bisa ia lanjutkan dengan aksi barrage ikoniknya atau ditutup dengan serangan cakar penutup untuk memulihkan sedikit isi bar HP.
Pergerakan Wolverine di sini juga hadir bak binatang liar. Fakta bahwa ia tidak memiliki jaring laba-laba tidak lantas membuat pergerakannya dibatasi oleh Insomniac Games. Dengan menggunakan tombol segitiga, superhero dengan kostum khas hitam-kuningnya ini bisa meloncat dan menerkam musuh dari jarak jauh yang kemudian bisa diikuti dengan serangan lanjutan. Bagian terkeren game ini? Ketika Anda mengeksekusi aksi terkam ini melawan musuh yang tengah berada dalam posisi jatuh sebelum ia menyentuh tanah. Aksi ini selalu berujung memuaskan.
Asyiknya lagi? Insomniac Games membalut keseluruhan mekanik ini dengan kepribadian Wolverine yang penuh amarah lewat sistem bar bernama Rage yang akan terbagi ke dalam tiga bagian untuk mewakili seberapa marahnya ia. Semakin agresif sisi ofensif Anda, yang tentu saja didorong dengan lebih banyak aksi menerkam dan mencabik, semakin tinggi pula bar Rage yang Anda miliki. Setiap bar Rage yang penuh akan membuat damage serangan Wolverine kian mematikan. Ketika mencapai bar ketiga? Ia bisa mengakses critical strike – sebuah serangan bunuh instan untuk para musuh-musuh tipe kroco dengan animasi brutal yang keren.

Rage juga menjadikan pondasi untuk membangun dan menyeimbangkan kekuatan regenerasi milik Wolverine. Ala Sekiro: Shadows Die Twice untuk Anda yang pernah menjajalnya, Wolverine akan selalu punya kesempatan hidup kedua selama ia memiliki setidaknya 1 bar Rage yang aktif. Ini menjadi insentif ekstra, di luar ekstra damage yang kita bicarakan sebelumnya, untuk terus membangun bar Rage Anda seoptimal mungkin. Sekali lagi, melihat bagaimana kostum Wolverine hancur berantakan ketika pertarungan sulit harus ia lewati meninggalkan ekstra kepuasan tersendiri.
Maka sisanya, Anda akan diberi kesempatan untuk mengakses setidaknya 4 skill aktif yang bisa Anda sematkan di tombol tertentu. Layaknya game action RPG, setiap moveset ini akan sangat efektif digunakan untuk mencapai tujuan tertentu, dari menghasilkan damage AOE yang mematikan hingga memicu stagger musuh secara efektif. Dibuka menggunakan Skill Points untuk setiap level yang berhasil Anda capai, setiap skill aktif ini juga akan berkontribusi pada Rage Meter yang Anda miliki.
Dengan semua kombinasi, pengalaman aksi Marvel’s Wolverine hadir dengan sangat lugas. Anda mengeluarkan cakar Anda dan mencabik sebanyak dan secepat mungkin musuh yang muncul di area. Begitu Rage Meter sudah mencapai baris ketiga? Anda bisa membunuh banyak dari mereka dengan semakin cepat dan instan sembari sesekali menggunakan skill aktif yang tersedia. Jika pertarungan ternyata berujung sulit? Prioritas berubah untuk memastikan setidaknya satu bar penuh untuk memastikan Anda terus bisa lanjut bertarung.
Mengingat statusnya sebagai game linear, maka eksplorasi bukanlah daya tarik utama Marvel’s Wolverine. Namun bukan berarti mereka tidak memberikan insentif untuk Anda yang iseng mencari-mencari sesuatu di sudut-sudut level.
Ada peti berisikan material yang berfungsi sebagai resource untuk meracik lebih banyak kostum, yang kini juga berpengaruh pada tebalnya bar HP Anda seiring dengan lebih banyak kostum yang Anda buka. Anda juga akan menemukan sebuah ruang alam bawah sadar Logan berbentuk cabin yang akan menawarkan misi tantangan berupa pertarungan, traversal, hingga aksi bertahan dari gelombang musuh yang hasilnya adalah kesempatan untuk kian memperkuat Logan via buff permanen yang disebut sebagai Adaptations. Situasi ini akan terus berulang, dengan sedikit variasi yang meminta Anda mengendari motor atau mengejar karakter tentu, hingga tamat.

