Review Phantom Blade Zero: Mahakarya Baru dari China!
Page 2

Review Phantom Blade Zero: Mahakarya Baru dari China!

Author picture
Author picture

KungfuPunk

KungfuPunk adalah peleburan antara konsep Wuxia dan dunia Steampunk, yang jelas terefleksikan via arsitektur dan desain dunia yang akan Anda temukan di sepanjang Phantom Blade Zero.

Di atas kertas, Phantom Blade Zero memang terlihat seperti game Wuxia pada umumnya. Namun untuk Anda yang tidak terlalu familiar, S-Game sudah memperkenalkannya sebagai sebuah game “KungfuPunk” sejak awal – sebuah game yang berupaya mengkombinasikan identitas kebudayaan China dengan konsep Steampunk. Ini berarti Anda akan bertemu dengan struktur bangunan familiar yang melekat dengan Tiongkok, namun kini dilebur dengan begitu banyak api, uap, dan struktur berbasis metal di dalamnya.

Hasilnya? Fantastis. Walaupun kami sendiri tidak punya basis untuk versi Playstation 5 standar, namun Phantom Blade Zero sepertinya pantas untuk dikategorikan sebagai salah satu game third-party dengan visual terbaik di Playstation 5 Pro, ketika ia dimainkan di mode Quality dengan fitur ray-tracing yang dihidupkan dan PSSR Enhanced diaktifkan.

Kita tentu tidak hanya bicara soal sisi teknis saja, tetapi juga kemampuan S-Game untuk membangun sebuah dunia yang dramatis di setiap sudut yang ada.

Bersama dengan Assassin’s Creed Shadows, Phantom Blade Zero mungkin salah satu game third-party dengan visual terbaik yang pernah kami temukan di Playstation 5.
Tidak hanya dari sisi teknis saja, tetapi juga kemampuannya untuk membuat background misalnya, mengamplifikasi dramatisnya scene pertarungan yang ada.

Kita bicara soal kota dengan arsitektur Tiongkok kental yang mulai ditinggalkan penduduknya, yang membawa begitu banyak ancaman yang harus Anda tundukkan, yang menyambut ayunan pedang Anda bersama dengan rintik hujan yang terus turun di tepi topi Soul yang seoalah berupaya menyembunyikan dinginnya sang mata. Phantom Blade Zero akan membawa Anda ke beberapa lokasi dengan pendekatan serupa, yang setiap dari mereka berhasil dibentuk menjadi “arena” pertarungan melawan musuh biasa ataupun boss yang benar-benar fantastis.

Pujian untuk sisi presentasi ini juga sepantasnya diarahkan untuk desain karakter yang ia usung, baik untuk Soul, karakter pendukung, ataupun musuh-musuh yang Anda lawan. Konsep Kungfupunk diterjemahkan dengan sangat baik di sini, dimana tidak sedikit dari mereka berujung mengandalkan sejenis augmentasi untuk memperkuat diri, yang akan jadi salah satu bagian lore dunia Phantom Blade Zero. Setiap desainnya hadir memanjakan mata, tanpa harus jatuh ke level fans-service yang norak. Elegan dan indah adalah kesan yang senantiasa Anda dapatkan.

Dengan semua keistimewaan ini, Phantom Blade Zero berhasil membawa sisi presentasi ini ke level yang lebih tinggi dengan sisi animasi yang ia usung. Walaupun sebagian besar cut-scene percakapan masih berisikan karakter yang berdiri statis dengan barisan teks, namun animasi pertarungan yang mampu dicapai Soul terbilang berada di level yang mengagumkan. Hampir setiap senjata yang ia gunakan akan menawarkan animasi serangan normal, kuat, dan skill aktif uniknya masing-masing, termasuk animasi pemungkas itu sendiri. Dengan puluhan senjata untuk digunakan, ini adalah pendekatan “gila” nan ambisius yang benar-benar terbayar manis di akhir.

Desain Soul sendiri, karakter pendukung hingga musuh yang Anda temui semuanya berujung keren dan elegan tanpa sekalipun terasa norak.
Bayangkan, setiap senjata yang digunakan Soul, puluhan jumlahnya, akan menawarkan animasi berbeda-beda. Salah satu favorit kami? Sang pedang dengan jurus mabuk!

Yang jadi favorit kami? Sebuah pedang yang bisa Anda dapatkan mid-game, yang melekat pada jurus mabuk yang sering Anda temukan di film-film laga China. Satu pedang ini, kami ulangi, SATU PEDANG ini punya dua varian animasi. Pertama, saat ia digunakan layaknya pedang biasa yang notabene sudah berbeda dengan animasi serang pedang yang lain. Kedua? Skill aktifnya akan memicu aksi minum arak dari Soul, yang otomatis membuat sang pedang kini berubah menjadi pedang terbang untuk serangan range dalam limitasi waktu tertentu. Benar sekali, satu set animasi baru lagi yang juga kembali dipecah dalam serangan normal, kuat, skill aktif, dan pemungkas. Gila.

Aksi tampil habis-habisan S-Game dari sisi presentasi juga jelas hadir dari sisi audio yang mereka suntikkan, terutama OST. Mengingat kami tidak punya kemampuan bahasa Mandarin yang cukup untuk menilai kualitas dan seberapa natural percakapan yang ia hadirkan, namun kami sendiri merasa bahwa ia setidaknya mampu memproyeksikan emosi yang dibutuhkan di ragam scene yang ada. Namun pada akhirnya, sang primadona adalah OST itu sendiri.

Ia juga didukung dengan lagu berlirik yang membuat Anda seolah tengah menikmati film silat lawas di beberapa momen.

Sama seperti ambisi mereka untuk memastikan bagaimana budaya China menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sisi dunianya, hal yang sama juga mereka suntikkan di sisi OST. Ada beberapa skenario pertarungan yang akan ditemani dengan suara chanting yang sepertinya diambil dari sutra Buddha untuk membuat bulu kuduk Anda merinding. Tidak cukup? Bahkan ada beberapa momen bak drama yang juga diisi dengan OST berlirik yang otomatis didukung translasi di layar. Harus diakui, momen ini membuat kami seolah menikmati film silat Tiongkok masa lampau.

Tarung Penuh Gaya

Tidak, Phantom Blade Zero bukan game Souls!

Sebelum kita terjun lebih dalam ke mekanik Phantom Blade Zero, kami akan menjawab terlebih dahulu satu pertanyaan utama yang saat ini mungkin sudah muncul di kepala Anda. Tidak, Phantom Blade Zero BUKAN game Souls. Ia datang dengan pilihan tingkat kesulitan yang bisa Anda otak-atik di sepanjang permainan dan tidak menyuntikkan sistem konsekuensi yang fatal jika Anda tewas.

Bahkan, ia terhitung ramah untuk ukuran game action pada umumnya. Sebagai contoh? Salah satu keputusan yang kami sambut dengan tangan terbuka adalah keputusan untuk menyuntikkan sistem checkpoint tidak di awal pertarungan boss, tetapi di setiap transformasi yang ia miliki. Sebagai contoh? Jika Anda tewas di bentuk kedua boss misalnya, alih-alih menuntut Anda bertarung dari awal, Phantom Blade Zero akan membiarkan Anda respawn dan memulai pertarungan lagi dari fase kedua, kini dengan jumlah item penyembuh lengkap dan HP penuh. Sebersahabat itu.

Oleh karena itu, paling rasional adalah menerjemakan dan menyederhanakan pengalaman Phantom Blade Zero sebagai game action RPG yang identitasnya dibangun di atas aksi bertarung penuh gaya yang akan senantiasa membuat mata Anda termanjakan. Semuanya dibangun di atas sistem puluhan senjata utama dan senjata sekunder bernama  Phantom Edges yang notabene akan datang dengan pendekatan uniknya masing-masing. Phantom Edges sendiri akan menuntut resource spesifik dalam jumlah terbatas untuk bisa digunakan,  yang akan terisi kembali di titik checkpoint berbentuk Bel.

Ia bahkan terhitung lebih ramah dibandingkan game action kebanyakan, seperti sistem checkpoint berbasis fase boss dan bukan keseluruhan pertarungan boss secara keseluruhan.
Sistem bel yang posisinya mirip bonfire di game Souls di sini bahkan tidak akan membangkitkan kembali musuh yang sudah Anda bunuh. Mereka mati permanen!

Bagian paling menarik dari sistem Phantom Blade Zero? Jika semua game yang menawarkan sistem checkpoint ala “bonfire Souls”, bahkan yang tipe non-Souls seperti Onimusha sekalipun, biasanya juga akan membangkitkan semua musuh yang sudah sempat Anda bunuh, Phantom Blade Zero meniadakan mekanik tersebut.

Benar sekali, setiap musuh yang Anda bunuh di Phantom Blade Zero akan bersifat permanen alias lenyap selamanya. Ini membuat tidak ada ruang dan kebutuhan Anda untuk melakukan aksi “grinding”, terutama untuk kebutuhan mencari material upgrade bagi senjata yang digunakan Soul. Situasi ini juga membuat musuh kini menjadi “marka jalan” bahwa eksistensi mereka juga menjadi penunjuk jelas bahwa besar kemungkinan Anda belum menjelajahi wilayah tersebut sebelumnya. Ini adalah satu dari sedikit game dimana Anda akan merasa bahagia bertemu dengan musuh saat tersesat.

Karena berbeda dengan sistem peta jelas dan segudang ikon yang ditawarkan oleh banyak game modern, Phantom Blade Zero hanya akan menyediakan kepada Anda sebuah peta kain yang digambar dengan tinta untuk memberikan gambaran soal terrain yang ia usung, yang juga akan terbuka porsinya bersama dengan lebih banyak bell yang Anda bunyikan. Ikon untuk Quest memang tetap akan muncul di peta, namun game ini tidak akan memanjakan Anda dengan tuntutan alur jalan  jelas menuju ke setiap dari mereka.

Sementara dari sisi pertarungan, Anda yang sudah sempat menikmati game action berbasis pedang ala Sekiro atau Onimusha sebelumnya sepertinya tidak akan asing dengan apa yang berusaha didorong oleh Phantom Blade Zero. Yang membedakannya? Soul akan dituntut untuk mengakses dua reaksi berbeda untuk mendapatkan keuntungan saat bertarung. Jika serangan musuh berwarna biru, maka Anda akan dituntut untuk melakukan perfect parry. Sementara jika ia berujung berwarna merah menyala, maka Anda perlu melakukan perfect evade sebagai reaksi.

Biru untuk Perfect Parry dan merah untuk Perfect evade/dodge. Simple math.
Mengingat pergantian senjata juga akan secara instan memulihkan Sha-Chi, aksi gonta-ganti juga akan menjadi mekanik esensial untuk aksi ofensif ataupun defensif.

Jika berhasil mengeksekusinya, bersama dengan aksi parry / block di ragam serangan biasa yang dilancarkan musuh biasa atau boss, Anda akan dibekali dengan kesempatan untuk tidak hanya menyuntikkan damage saja tetapi juga mengurangi Sha-Chi musuh dan memulihkan penuh Sha-Chi Anda. Sha-Chi bisa Anda sederhanakan sebagai sistem stamina, yang juga akan kami lakukan di sisa review ini. Ia merupakan resource untuk mengakses skill aktif setiap senjata hingga melakukan aksi block serangan musuh. Untuk urusan terakhir ini, memastikan agar Anda lebih strategis, beberapa tipe boss juga punya serangan khusus yang akan otomatis menghabisi bar stamina Anda jika sekadar diblok dan bukan dhindari.

Situasi ini menghasilkan ekstra mekanik yang juga esensial untuk Phantom  Blade Zero – yakni pergantian senjata. Dengan dua senjata utama yang bisa Anda bawa, aksi ganti senjata ini juga akan secara otomatis memulihkan bar stamina yang sebelumnya mungkin terkuras. Sistem ganti senjata ini akan jadi bagian mekanik pengaturan resource yang butuh Anda perhatikan senantiasa saat bertarung. Untungnya? User-interface yang dihadirkan cukup jelas untuk memberikan informasi instan soal apakah senjata kedua siap atau tidak siap untuk diganti, yang memang dibalut dengan sistem cooldown untuk proses balancing, apalagi saat Anda membuka skill yang membuat pergantian ini diikuti langsung dengan akses skill aktif.

Benar sekali, Soul yang dari sisi lore sudah terhitung mantap ini masih akan punya ruang untuk tumbuh kuat selama permainan. Di luar upgrade senjata utama dan Phantom Edges yang kami bicarakan sebelumnya, ia juga akan bisa mengenakan sampai 6 aksesoris berbeda dari ragam kategori untuk memperkuat diri, lengkap dengan sistem upgrade yang juga terikat padanya. Tidak cukup sampai di sana? Soul juga akan dibekali dengan pohon skill yang sayangnya, harus diakui, cukup linear dan tidak didesain untuk menawarkan fleksibilitas bermain.

Ada sistem upgrade senjata, Phantom Edges, dan aksesoris di luar pohon skill yang juga tersedia.
Lewat kepingan upgrade yang tersebar, Anda juga bisa memperkuat sisi attack, sha-chi, dan juga bar HP milik Soul.

Yang menarik dari sistem pohon skill ini? Ia mengintegrasikan diri dengan sistem upgrade atribut Soul yang sekali lagi, tidak punya sistem EXP. Akses untuk skill yang lebih kuat juga ditentukan dari jumlah item penambah  HP, Stamina, dan Attack Damage permanen yang Anda kumpulkan selama proses eksplorasi. Untuk urusan Attack dan Stamina, ia biasanya ditawarkan item yang butuh dikumpulkan dari 4 pecahan berbeda, sebuah mekanik standar game action yang terdengar familiar. Sementara untuk HP? Anda harus mengumpulkan bunga biru yang di game lain, diposisikan bak dokumen penjelasan soal lore yang ada. Setiap bunga biru akan diposisikan sebagai set dari satu lore spesifik dan butuh dikumpulkan secara lengkap untuk memicu penambahan bar HP secara permanen ini.

Tingkat kesulitan tertinggi – 66 Days di game ini akan menawarkan hanya 66 kali kesempatan mati untuk menyelesaikan keseluruhan permainan. Gagal? Reset progress!

Maka sisa petualangan Anda, seperti yang bisa diprediksi, berkisar pada upaya untuk terus bertahan hidup dan menang melawan begitu banyak varian boss keren di dalammya. Phantom Blade Zero juga menyediakan satu ekstra tingkat kesulitan bernama – 66 Days yang intinya hanya memberikan Anda sekitar 66 nyawa untuk digunakan di satu playthrough. Jika Anda kehabisan 66 nyawa ini? Progress akan dihentikan secara permanen dan Anda harus mengulang segala sesuatunya dari awal. Berita baiknya? Tingkat kesulitan ini juga mendukung New Game+ yang tentu saja akan sangat membantu untuk Anda yang sekadar penasaran.

Author picture
Editor in Chief
Pladidus sudah berkecimpung selama 14 tahun di industri media game Indonesia dan selalu bersemangat untuk merekomendasikan Suikoden II kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Next Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Level Up Your Gaming News!

Subscribe for the latest gaming news and updates.

Share this website