Review Silent Hill – Townfall: Mencengkeram, Mencekam!

Review Silent Hill – Townfall: Mencengkeram, Mencekam!

Author picture
Author picture

Setelah melewati masa-masa dimana Konami sempat tidak ambil pusing sama sekali terkait semua game andalan mereka karena sukses bisnis Pachinko di kala itu, sebagian besar gamer tentu gembira melihat nama besar di industri game ini aktif kembali. Tidak hanya lewat proyek remake dan remaster saja, tetapi juga rilis seri baru dengan pendekatan eksperimental yang begitu kuat. Seolah tidak ingin kalah dengan Resident Evil yang terus mendulang sukses, hal ini jugalah yang diterapkan Konami dengan franchise survival horror andalan mereka – Silent Hill.

Proses eksperimen yang dilakukan Konami sejauh ini bisa dibilang berhasil. Setelah hanya “mengunci” Silent Hill sebagai lokasi yang identik dengan Amerika Serikat, Silent Hill f membuktikan bahwa tema horror yang selalu berkaitan dengan trauma dan ragam aspek psikologis yang lain ini ternyata bisa diterapkan di ragam lokasi berbeda selama ia mampu mendorong sebuah tema yang relevan dengan lokasi tersebut. Uji coba serupa ini jugalah yang hendak didorong Silent Hill: Townfall racikan Screen Burn yang akan bertempat di Eropa.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Silent Hill: Townfall ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game survival horror yang mencengkeram dan mencekam? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Semua screenshot di artikel ini diambil dari versi Playstation 5 Pro, PSSR Enhanced aktif, dan preset visual di “Quality” Mode.

Plot

Silent Hill: Townfall akan membawa Anda pada kisah Simon yang tiba-tiba “terdampar” di sebuah kota bernama St. Amelia.

Misteri tentu adalah bagian terbesar dari setiap seri Silent Hill dan Townfall pun akan langsung menyediakan porsi tersebut langsung dari menit pertama Anda yang memainkan game yang satu ini.

Anda akan berperan sebagai pria misterius bernama Simon yang tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba keluar dari perairan terdekat dan terdampar di sebuah kota bernama St. Amelia. Simon jelas tidak punya ingatan yang kuat soal St. Amelia atau lebih pentingnya lagi – mengapa ia tiba-tiba terdampar dan terbangun di kota yang terlihat bak kota nelayan yang satu ini. Satu yang pasti, di tangan kirinya, ia menemukan selang infus seolah-olah ia adalah pasien yang tengah melewati proses pengobatan.

Simon tidak banyak mengingat apa yang sebenarnya terjadi di luar bekas jarum infus yang masih tertempel di tangan kiri dan informasi dirinya di gelang bagian kanan.
Selain kabut, St. Amelia juga sepertinya menyimpan cerita yang menunggu untuk dibongkar.

Tidak perlu menunggu lama hingga Simon bertemu dengan lebih banyak lapisan misteri di kota ini. Bersama dengan sebuah televisi portable (CRTV) yang ia dapat, Simon mendapatkan bahwa dirinya bukan satu-satunya manusia yang hidup di kota yang mulai diisi dengan begitu banyak monster yang terus hilir mudik. Tidak hanya itu saja, ragam objek yang tersebar juga mengindikasikan bahwa sempat ada satu kejadian besar yang menimpa sang kota, hingga gelombang protes untuknya membara.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dengan Simon? Apa pula yang menimpa St. Amelia yang kini diisi dengan begitu banyak monster? Siapa pula manusia lainnya yang berhasil hidup di “neraka” penuh kabut ini? Anda tentu bisa menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini dengan memainkan Silent Hill: Townfall.

Author picture
Editor in Chief
Pladidus sudah berkecimpung selama 14 tahun di industri media game Indonesia dan selalu bersemangat untuk merekomendasikan Suikoden II kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Next Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Level Up Your Gaming News!

Subscribe for the latest gaming news and updates.

Share this website